Oleh: Putri Ambar Wati (Siswa SMPN 5 Satu Atap Sungaiselan)
Namaku Lilis, aku bersekolah di SMP Negeri 5 Satu Atap Sungaiselan yang berada di Desa Tanjung Pura. Pada akhir tahun Kwartir Daerah atau Kwarda Bangka Belitung mengadakan kegiatan Perata (Perkemahan akhir tahun) yang diwakili 1 orang setiap sekolahnya dan aku menjadi perwakilan untuk mengikuti kegiatan Perata kali ini. Saat kegiatan dimulai salah satu panitia mengatakan untuk membuat regu kami masing-masing. Akupun ditempatkan ke kelompok 2 yang bernama Rgu Tulip. Di dalam regu itu terdiri dari aku, Clara dan Emma. Clara adalah seseorang yang sangat ceria, sedangkan Emma adalah seseorang yang sangat tegas. Mereka berdua juga berasal dari daerah yang sama yaitu Keretak.
“Semuanya sudah di dalam regu kalian masing-masing?” Tanya Kak Ica selaku panitia.
“Iya kak.” Jawab semuanya.
“Kalau begitu kalian pilih ketua regu kalian masing-masing, ya!” Lanjut Kak Ica.
Clara dan Emma yang mendengar itu mempercayakan ketua regunya kepadaku. Saat kegiatan selanjutnya dimulai, regu kami sangatlah kompak dari mendirikan tenda dan kegiatan lomba-lomba lainnya. Selesai Salat Magrib dan kegiatan berakhir kami segera beristirahat di tenda.
“Lilis, Emma setelah Salat Isya kegiatan apa lagi ya?” Tanya Clara.
“Sepertinya jurit malam, deh!” Jawabku kepada Clara dan Emmapun menganggukan kepalannya.
“Yes, kegiatan yang ku tunggu-tunggu selama Ini.” Kata Clara senang.
Selesai makan malam dan salat Isya, panitia segera memanggil siswa-siswi untuk berkumpul agar segera melaksanakan kegiatan yang ditunggu-tunggu Clara yaitu jurit malam. Saat panitia menjelaskan langkah-langkah melaksanakan jurit malam, Clara tiba-tiba merasa ingin pipis. Clara mengajakku untuk menemaninya namun Clara tidak sengaja menggunakan bahasa daerah.
“Lilis kanti ku petak suat!” Ajak Clara.
“Ngapain sih Clara ngajakku main petak umpet malam-malam?” Tanyaku dalam hati.
“Gak ah, ngapain sih lagian ini tuh sudah malam Clara.” Jawabku dengan tatapan sinis.
“Hah!” Balas Clara yang heran akan jawaban dariku.
Emma yang melihat ketegangan tersebut segera menengahi dan segera menemani Clara untuk pipis. Aku yang melihat tingkah Clara dan Emma sangat heran. Selesai Clara pipis mereka segera ke tempat duduk mereka masing-masing. Emma dan Clara yang tidak mengerti peraturan tentang jurit malam pun segera bertanya kepadaku.
“Lilis apa sih peraturan dari jurit malam kali ini?” Tanya Emma.
“Kita dikasih peta untuk nunjukin jalan ke pos 1 dan pos 5 yang merupakan pos terakhir, nih petanya!” Jawabku sembari menunjukan peta yang ku pegang.
“Lalu kita akan mencari lembar tantangan dari setiap posnya.” Aku melanjutkan perkataanku.
Emma dan Clara pun paham tentang tantangan jurit malam kali ini. Selesai panitia menjelaskan peraturan jurit malam, momen yang ditunggu-tunggu siswa-siswi akhirnya tiba. Semuanya segera bersiap-siap untuk menuju ke lokasi jurit malam, saat suara peluit terdengar.
“Piiiiitttttttttt.” Suara peluit terdengar.
Semuanya segera menuju lokasi jurit malam, tidak terkecuali reguku yang memimpin di depan. Saat kami sampai ke pos 1 kami segera mencari lembar tantangan yang ada di sekitar sana.
“Aku dapat, ada di sini!” Teriak Clara yang menemukan lembar tantangan.
Kami segera membukanya, lembaran itu mengintruksikan kami untuk membawa 3 ember air sampai ke pos 5 karena saat sudah sampai ke pos 5, air regu yang paling banyak dan paling cepat itu yang akan menang.
“Hati-hati ok jangen sampai kereng!” Kataku memperingatkan.
“Iya.” Kata Emma.
“Apa sih Lilis siapa juga yang akan marah?” Tanya Clara di dalam hati, Clara pun tidak menjawab perkataanku.
Sampailah kami di pos 4 dan telah membawa beberapa bendera. Kami sekarang menuju ke pos 5, namun jalan yang akan kami lewati sangatlah licin sehingga harus berhati-hati agar tidak jatuh. Saat kami berjalan Clara yang kurang seimbang hampir terjatuh.
“Clara awas guguk.” Teriakku kepada Clara.
Clara yang mendengar itu segera berteriak dan tak sengaja menjatuhkan embernya dan ember Emma. Aku yang kaget akan tingkah Clara, bertanya.
“Clara ada apa?” Tanyaku.
“Tadikan kamu bilang ada anjing?” Tanya Clara kembali kepadaku.
“Gak kok, aku tadi bilang hati-hati nanti jatuh!” Jawabku.
“Gak aku denger dengan jelas kamu bilang ada anjing tadi.” Balas Clara.
Aku yang sedang mengambil ember yang sedang terjatuh tak menghiraukan perkataan Clara. Air pun hanya tersisa punyaku seorang.
“Sudah-sudah lebih baik kita melanjutkan perjalanan kita karena ini sebentar lagi sampai ke pos 5.” Kata Emma yang melerai.
Sepanjang perjalanan ke pos 5 kami memilih untuk diam tanpa suara. Sampailah di pos 5, aku segera memberikan bendera yang kami dapat dan air yang tinggal sedikit. Selesai mengumpulkan, aku memilih untuk duduk di tempat yang sangat jauh dari Emma dan Clara. Di sana aku merasa sangat lelah, ingin cepat-cepat tidur dan aku juga sudah tidak tertarik lagi akan siapa pemenang jurit malam kali ini.
Selesai kegiatan jurit malam, aku segera membersikan diri dan tidak ada waktu lama aku terlelap bersama Emma dan Clara.
“Bangunnnnn salattttt, bangunnnn!” Panitia yang membangunkan para peserta.
Setelah siang kegiatan demi kegiatan diadakan namun aku marasa sangat bosan karena tidak semenyenangkan hari pertama kegiatan perata. Aku lebih banyak diam dan kurang berkomunikasi. Regu kami tertinggal dari regu lainnya. Saat malam kami mengadakan kegiatan yang terakhir pada malam ini yaitu api unggun.
“Ok, saatnya kita lakukan refreshing pada regu kalian masing-masing!”Kata Kak Ica.
Kami segera membuat formasi melingkar namun dari kami satu pun tidak ada yang ingin mengatakan sesuatu.
“Lilis, Clara kenapa sih kalian ini dari malam tadi loh kalian tidak berkomunikasi?” Tanya Emma. “Padahal masalah yang sangat sepele.” Lanjut Emma.
“Gak Emma, kebohongan Lilis bisa membuat kita celaka.” Balas Clara tidak terima.
“Aku? Berbohong? Kapan?” Tanyaku yang tidak mengerti.
Emma yang melihat aku tidak paham menjelaskan apa yang dimaksud Clara.
Aku Yang baru paham pun tertawa sangat keras.
“Hahaha, hanya itu saja? Guguk itu di desaku artinya jatuh, Clara.” kataku yang menjelaskan sembari masih tertawa.
Clara yang baru mengerti ikutan tertawa bersamaku dan Emma.
“Oh iya pada saat kamu bilang kereng itu apa? Karena aku kira kamu bilang marah.” Tanya Clara kembali bertanya.
“Itu artinya kering, Claraaaaa, oh iya pada saat kamu bilang petak itu apa? Karena sangkaku kamu mau main petak umpet malam-malam.” Tanyaku kembali.
“Petak itu artinya pipis, Lilis.” Jawab Clara.
Kami pun akhirnya berbaikan, lalu kami menertawakan betapa bedaya satu kata tapi banyak arti yang beragam walaupun kami masih provinsi yang sama.
“Iya-ya Clara, Lilis walaupun bahasa kita berbeda tapi ada satu bahasa yang bisa menyatukan kita yaitu Bahasa Indonesia.”
Di malam itu, kami duduk sembari menceritakan petualangan yang kami lakukan selama kegiatan perata dilakukan. Kami menyadari bahwa kegiatan ini bukan hanya tentang tenda dan api unggun, tapi tentang keberagaman bahasa yang bukan sekadar alat komunikaasi namun latar belakang yang berbeda. Selesai berbincang kami memutuskan untuk tidur agar ada tenaga untuk menutup acara perata kali ini. Saat pulang pun tiba, kami menyadari kegiatan perata kali ini bukan hanya kenangan namun persahabatan yang tak akan terpisah oleh jarak dan waktu. (BP/ KM)*
Cerpen ini merupakan karya peserta Lomba Menulis Cerpen dalam rangka memperingati Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia, Bangka Tengah di Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 23 Oktober 2025.












