Secercah Asa di Gunung Sampah

Oleh: Nur Sayyida Nafisa (SDN 13 Pangkalanbaru)

 

Di sebuah pemukiman yang kotor lagi kumuh, hiduplah seorang anak bernama Melati. Melati berasal dari keluarga pemulung yang miskin. Setiap hari, Melati akan mengikuti orangtuanya, pergi pagi pulang malam. Sudah biasa bagi Melati meskipun dengan usia yang tergolong muda, hanya delapan tahun. Meskipun begitu, Melati mempunyai mimpi. Mimpi-mimpi di mana ia bisa mengubah tempat tinggalnya menjadi lebih baik, lebih nyaman, lebih asri, yang jauh berbeda dari kondisi tempat tinggalnya sekarang.

Sinar matahari terasa hangat, burung-burung berkicau dengan riang, suasana aman dan nyaman, sinar-sinar menyelinap melalui sela-sela ruangan. Awal hari biasa, Melati dibangunkan oleh sinar matahari, sudah terbiasa bangun sendiri atau dibangunin

“Hoam… Ugh… Jam berapa sekarang?” Tanya Melati, ia pun beranjak dari tempat tidur, matanya melihat sekitar dan berhenti di jam dinding. Jam telah menunjukkan pukul 07.00.

“Ah! Ternyata, aku kesiangan! Aduh!… Semoga ayah dan ibu belum pergi.” Ucap Melati, tak ingin di tinggalkan oleh orangtuanya.

Melati terdiam sejenak, memikirkan apa mereka sudah pergi duluan. Tiba-tiba, keheningan di kamar Melati terganggu oleh ketukan pintu, lalu terdengar suara ibunya “Melati, Ibu masuk ya!” Ucap ibunya ingin memastikan putrinya sudah bangun atau belum. Suara pintu dibuka pun terdengar, masuklah ibunya. Mata sang ibu langsung terkunci ke Melati yang sudah beranjak dari tempat tidur.

“Ah… Kamu sudah bangun ternyata. Mandiri juga ya kamu.” Ucap ibunya, seolah-olah Melati adalah anak pemalas yang selalu perlu dibangunkan. Mendengar suara ibunya, Melati langsung menoleh “Ah… Untungnya kalian belum pergi.” Ucap Melati lega terdengar dari nada ia bicara, sang ibu pun tersenyum lembut.

“Ya sudah, karena kamu sudah bangun. Ayo, kita pergi. Ayah sudah menunggu dari tadi.” Ucap sang ibu, mengingatkan Melati pada keberadaan sang ayah yang sedang menunggu dengan sabar.

“Ah, ya. Baiklah, tapi tunggu aku! Aku tak mau ditinggal!” Ucap Melati, masih takut ia akan ditinggal.

Senyum di wajah ibunya pun melebar, lalu mengangguk, sebelum berkata, “Kita tak akan meninggalkanmu. Tapi, ayo. Jangan basa-basi lagi, ibu akan pergi menemui ayah.” Ucap ibunya, lalu meninggalkan Melati sendiri di kamar untuk menemui sang ayah.

Muka awal sang ayah yang datar pun berubah menjadi senyum ketika melihat istrinya yang akhirnya keluar kamar sang putri. Ia tahu jika sang istri sudah keluar, berarti Melati juga sudah bangun. “Melati sudah bangun?” Tanya sang suami, masih bertanya meskipun ia sudah tahu jawabannya, sang istri pun tersenyum lembut padanya, lalu berkata “Ya, Melati sudah bangun. Hanya butuh siap-siap.” Jawab sang istri, senyum di wajah suaminya pun melebar, ketidaksabaran terbukti dari senyum itu.

Sang istri yang melihat senyum yang melebar itu pun menghela nafas, lalu berkata “Sabar, aku tahu kau ingin langsung pergi.” Ucap sang istri, tak ingin putrinya ketinggalan karena ketidaksabaran sang suami. Beberapa menit berlalu. Akhirnya, Melati keluar dari kamarnya, matanya langsung terkunci ke orangtuanya.

“Ayah, ibu. Ayo, aku sudah siap, nih.” Ucap Melati, sudah siap dan semangat untuk berpetualang lagi, meskipun terkadang ia berakhir bosan. Kedua orangtua Melati pun mengangguk dan keluar rumah, Melati mengikuti di belakang.

Waktu berlalu sejak mereka memulai perjalanan mereka, jalan yang mereka lalui pun menjadi bersih, dikarenakan Melati dan orangtuanya yang memulung sampah-sampah yang berserakan di sepanjang jalan. Matahari mulai terbenam, langit berubah menjadi oren, menandakan hari yang mendekati malam, ibu Melati melihat ke arah langit, lalu berkata “Ah… Ternyata sudah sore.” Melati dan ayahnya ikut melihat ke arah langit usai mendengar perkataannya, lalu kembali ke arah jalanan yang masih panjang.

“Hari sudah sore, dan perjalanan kita masih panjang.” Ucap ayah Melati.

Melati yang mulai merasa lelah dan bosan melihat-lihat sekitar. Ternyata, ada sungai dan air terjun di dekat mereka. Melihat itu, Melati menunjuk ke arah sungai tersebut, lalu berkata, “Ayah, ibu. Ada sungai di sana, kita istirahat dulu saja disana!” Ucap Melati, masih menunjuk ke arah sungai tersebut, lalu menambahkan “Sungai itu juga kelihatan indah, dan bersih.” Ucap Melati, ada nada rayuan pada kata-kata Melati. Orang tua Melati menoleh ke arah sungai yang Melati tunjuk, karena lelah, mereka pun setuju.

“Ya, boleh. Kaki ayah juga mulai sakit.” Ucap sang ayah, mulai lelah, kakinya juga sakit karena berjalan terus-terusan, mereka pergi ke arah sungai tersebut. Ayahnya melihat sekitar dan menemukan batu besar yang cukup besar untuk mereka bertiga bersandar sejenak di situ, ia pun memberitahu istrinya dan putrinya. “Lihat, ada batu besar di situ, itu cukup besar untuk kita semua.” Ucap sang ayah, lalu berjalan mendekat ke arah batu tersebut, ia pun duduk dan bersandar di batu tersebut, lalu berkata “Batu ini lumayan nyaman, ayo. Kita istirahat di sini saja!” Ajak sang ayah.

Melati dan ibunya mengangguk dan berjalan mendekat, ikut duduk dan bersandar. Ada keheningan di antara mereka, keheningan yang nyaman, tak lama kemudian, satu-persatu mulai tertidur nyenyak, terlalu nyaman dengan suasana sekitar.

Pagi hari pun datang, matahari mulai terbit, sinar-sinar menyinari wajah mereka, air sungai terlihat lebih indah dengan pancaran sinar matahari, burung-burung berkicau, menandakan awal hari baru.

Ayah Melati mulai terbangun karena pancaran matahari. Ia diam sejenak, menyesuaikan matanya dan badannya, lalu membangunkan istrinya dan Melati dengan lembut, “Hei, kalian. Bangun. Ini sudah siang.” Ucap ayah Melati, sambil menggoyangkan bahu mereka dengan lembut untuk mempercepat proses.

Melati dan ibunya pun terbangun karena goyangan lembut dari sang ayah. Mereka berkedip sekali, dua kali, untuk menyesuaikan mata mereka dengan sinar matahari. Ayah Melati pun berdiri, dan melakukan pemanasan “Ayo, perjalanan kita belum selesai, tahu!” Ucap sang ayah. Ibu Melati pun ikut berdiri, diikuti oleh Melati, mereka memutuskan untuk mencuci muka terlebih dahulu menggunakan air sungai dekat mereka, lalu keluar dari kawasan sungai tersebut untuk melanjutkan perjalanan mereka. Waktu berlalu saat mereka berjalan, masih belum pulang karena perjalanan mereka yang belum juga usai. Tak lama kemudian, Melati melihat ada objek kecil yang aneh, karena penasaran, Melati izin pada kedua orangtua nya untuk mendekati objek tersebut. Setelah dekat, Melati mengambil objek tersebut dan mulai menginspeksi objek tersebut dengan teliti, ia berbalik badan ke arah orangtuanya dan bertanya “Ayah, ibu. Benda apa ini? Bisa dimakan, kah?” Tanya Melati. Pikir Melati, objek tersebut adalah makanan, ayah Melati mengambil benda tersebut dan mulai menginspeksinya. Ternyata, benda tersebut adalah dompet.

“Ini… Ah! Ya! Dompet!” Ucap sang ayah, Melati yang baru mendengar kata tersebut bertanya, “Dompet? Bisa dimakan ya?” Tanya Melati, masih mengira dompet itu makanan. Mendengar pertanyaan putrinya yang polos, ibu Melati tertawa lembut, lalu berkata “Tidak, Melati. Dompet itu benda yang digunakan untuk menyimpan uang, bukan makanan.” Ucap ibunya.

Mendengar perkataan ibunya, Melati merengut sedih, kecewa. Melihat ekspresi putrinya, sang ayah tersenyum lembut, lalu berkata “Melati jangan sedih, siapa tahu, pemilik dompet ini orang baik, siapa tahu dia mau memberi sedikit uang pada kita jika kita mengembalikannya. Tapi, sekarang, kita lihat dulu, apa ada kartu penduduk di dalam dompet ini, kalau ada, kita bisa mengembalikannya ke pemiliknya, kalau tidak, kita bisa menitipkannya ke kantor polisi.” Ucap sang ayah.

Tak mau melihat putri kecilnya itu sedih dan kecewa, Melati mengangguk, masih sabar, mereka setuju untuk mengembalikan dompet tersebut, rute perjalanan mereka juga diubah, tujuan mereka sekarang adalah kantor polisi.

Waktu berlalu, dan mereka akhirnya sampai ke tujuan mereka, kantor polisi. Mereka memasuki kantor polisi tersebut dan langsung disambut oleh polisi-polisi di dalam. “Pak, saya mau mengembalikan dompet ini. Tapi, saya tak tahu apa isinya atau pemiliknya.” Ucap ayah Melati, menjadi sepenuhnya jujur, sang polisi mengangguk dan mengambil dompet tersebut, melihat isi dompet tersebut, syukurlah, ada kartu penduduk di dalam dompet tersebut, polisi menghubungi pemilik dompet tersebut. Tak lama kemudian, sang pemilik dompet datang, dan berterimakasih pada sang polisi dan keluarga Melati.

“Terima kasih, saya menghargai kejujuran kalian, bagaimana bisa aku membalas kalian?” Ucap sang pemilik.

Menghargai kejujuran mereka, ayah Melati tersenyum lembut pada pemilik dompet tersebut, lalu berkata “Tidak usah berterima kasih padaku atau istriku, berterima kasihlah pada anakku, ia lah penemu dompetmu.” Ucap ayah Melati, menjadi jujur sepenuhnya.

Senyum di wajah pemilik dompet pun melebar ketika mendengar perkataan ayah Melati.

“Wah. Benarkah? Anak anda jujur sekali, jarang menemukan yang seperti dirinya, kalian meraihnya dengan sangat baik.” Ucap sang pemilik dompet, tersentuh dengan kejujuran Melati, ia menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan, lalu memperkenalkan dirinya, “Namaku Rody, kalau kamu?” Tanya Rody, masih dengan senyum ramah tersebut di wajahnya. Melati menjulurkan tangannya juga, lalu memperkenalkan dirinya juga.

“Aku… Melati… Senang bertemu dengan anda!” Ucap Melati, mencoba untuk tersenyum, meskipun ia malu karena tak terbiasa. Rody dan Melati berjabat tangan, lalu Rody berkata “Bagaimana bisa aku membalas kejujuran dan kebaikanmu?” Tanya Rody, masih dengan nada yang ramah. Melati menoleh ke arah orang tuanya, meminta tolong. Melihat ekspresi putrinya, ibu Melati menjawab pertanyaan Rody.

“Kau mau membantu kami? Boleh, tapi yang butuh bantuan juga masyarakat sekitar kami dan lingkungan kami, apa kau mau membantu semua?” Jawab ibu Melati. Mendengar itu, senyum Rody membesar, lalu mengangguk, “Tentu! Aku adalah Penyuluh Lingkungan Hidup! Aku akan senang membantu jika itu soal lingkungan sekitar!” Ucap Rody. Orang tua Melati pun mengangguk, senang dengan bantuan yang ditawarkan Rody.

Mereka keluar dari kantor polisi dan berjalan pulang, dengan Rody mengikuti mereka di belakang.

Akhirnya, mereka sampai tujuan. Rody melihat sekitar, lalu berkata, “Wow… Tempat ini memanglah kotor, baiklah. Tunggu sebentar!” Rody izin pada mereka, mengeluarkan ponselnya dan memanggil rekan-rekannya. Tak lama kemudian, Rody kembali, juga rekan-rekannya, mereka pun mulai bekerja. Waktu berlalu saat mereka bekerja. Benar saja, pemukiman mereka yang awalnya penuh dengan sampah menjadi bersih, para warga pun berbondong-bondong berterima kasih pada Rody, tapi Rody menolak, dan berkata, “Jangan berterima kasih, ini sudah pekerjaanku, tapi…” Rody diam sejenak, tersenyum lebar, lalu mengeluarkan bibit bunga dari sakunya, dan mulai mengajak para warga untuk menanam bunga. Para warga setuju dan mulai bekerja sekali lagi. Akhirnya, pekerjaan mereka selesai dan rekan-rekan Rody dan Rodi pulang. Sebelum pulang, Rody dan rekan-rekannya memberi bantuan lebih pada keluarga Melati. Melati disekolahkan, dan rumah mereka menjadi lebih baik.

Waktu berlalu dan pemukiman mereka dulu yang penuh dengan sampah sekarang penuh dengan bunga, rata-rata warga menjadi florist, dan tempat itu menjadi lebih terjaga, berkat Rody, mimpi Melati pun terkabul. (BP/ KM)*

 

 

Catatan: Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Pangkalanbaru Tahun 2026 Cabang Menulis Cerita. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *