
Bekaespedia.com_Menara suar, sebagai penanda navigasi maritim, memainkan peran vital dalam keselamatan pelayaran, terutama di perairan berbahaya seperti Selat Macclesfield (antara Pulau Leat/Pongok dan Pulau Lepar). Di wilayah ini, dua menara suar bersejarah Menara Suar Pulau Celagen/ Tjilagin dan Menara Suar Tanjung Labu pernah berdiri kokoh sebagai penjaga kapal-kapal yang melintas. Kini, keduanya hanya tersisa reruntuhan, namun nilai historisnya tetap relevan sebagai pengingat akan dinamika maritim masa lalu dan pentingnya pelestarian warisan sejarah.
Selat Macclesfield merupakan jalur pelayaran strategis. Namun, kondisi geografisnya yang dipenuhi karang, arus kuat, dan cuaca yang dapat menimbulkan risiko tinggi bagi kapal. Catatan sejarah menunjukkan bahwa banyak kapal yang kandas di perairan ini. Untuk mengurangi risiko tersebut, pemerintah kolonial Belanda membangun Menara Suar Pulau Celagen (di Kepulauan Bangka Belitung) dan Menara Suar Tanjung Labu (di pesisir Sumatra Selatan) pada abad ke-19.
Dalam Ons Zeewezen Officieel Orgaan Van De Vereeniging, Het Nederlandsche Zeewezen Tahun 1930, menjelaskan pada akhir Oktober 1863, Inspektur Penerangan Pantai di Hindia Belanda melakukan perjalanan dengan kapal pemerintah S.S. Bronbeek ke Selat Bangka dan Selat Gaspar untuk menyelidiki lokasi-lokasi yang layak untuk pembangunan menara suar. Dalam laporannya, pejabat tersebut mengusulkan agar di Selat Gaspar didirikan beberapa menara suar. Selain itu, diusulkan pula pembangunan feu de port (lampu pelabuhan) di ujung barat Pulau Tjilagin (Selat Macclesfield), dengan jarak pandang 8 mil laut. Untuk ujung timur Pulau Lepar yaitu Tanjung Labu, sebelumnya juga telah diusulkan pendirian lampu serupa.
Lampu tetap orde keenam di Selat Macclesfield, yang berada di Pulau Tjilagin dan Tanjung Labu, mulai dinyalakan masing-masing pada 1 Desember 1869 dan 1 Oktober 1870. Lentera-lentera tersebut awalnya digantung pada tiang besi, yang kemudian digantikan oleh menara suar baja terbuka setinggi 14 meter dengan ruang lentera di atasnya. Rumah-rumah bagi penjaga suar di lokasi ini langsung dibangun dari batu sejak awal pembangunannya.

Menara suar di Tanjung Labu pada tahun 1907 digantikan dengan menara setinggi 20 meter, dan sumber cahaya diubah menjadi asetilena, sementara cahaya tetap diubah menjadi cahaya berkedip, setiap 3 detik menyala terang selama 1 detik.
Dalam De zee; tijdschrift gewijd aan de belangen der Nederlandsche stoom- en zeilvaart, 1890. Lampu suar di Labu, Pulau Lepar, dan Pulau Tjilagin (Tjelaka) telah diganti dengan lampu putih tetap berukuran keenam, dipasang pada menara besi terbuka yang dicat putih.
- Ketinggian sumber cahaya di atas permukaan air pasang tertinggi sekarang masing-masing 14,9 meter dan 15,8 meter.
- Ketinggian total menara cahaya masing-masing 13,9 meter dan 15,5 meter.
- Cahaya di Pulau Lepar terlihat hingga 10 mil laut dari arah tenggara ke selatan, barat, dan timur hingga timur laut.
- Cahaya di Pulau Tjilagin terlihat hingga 11 mil laut dari arah selatan barat daya ke selatan, timur, dan utara hingga utara barat laut.
Perubahan Cahaya juga dilakukan di Pulau Daun, Selat Bangka Pada tanggal 1 Oktober mendatang, cahaya pantai merah berukuran kelima di Pulau Daun, pintu masuk tenggara Selat Bangka, akan diubah menjadi cahaya putih tetap dengan ukuran yang sama.
Pasca-kemerdekaan Indonesia, kedua menara suar sempat tetap beroperasi. Namun, seiring perkembangan teknologi seperti GPS dan sistem radar modern, peran menara suar konvensional mulai tergeser. Faktor alam juga mempercepat kerusakan: abrasi pantai, dan badai tropis merusak struktur fisiknya. Pada akhir abad ke-20, kedua menara ini akhirnya ditinggalkan dan dibiarkan lapuk termakan waktu. Saat ini, hanya sisa pondasi, pecahan batu, dan besi berkarat yang tersisa, menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu.
Reruntuhan Menara Suar Pulau Celagen dan Tanjung Labu bukan sekadar puing yang tak bermakna. Bangunan itu menyimpan cerita tentang upaya manusia menaklukkan tantangan alam, kemajuan teknologi maritim, dan jejak kolonialisme di Nusantara. Secara arkeologis, struktur reruntuhan memberikan informasi tentang teknik konstruksi abad ke-19, sementara secara kultural, bangunan tersebut menjadi simbol ketangguhan masyarakat pesisir yang hidup berdampingan dengan laut.
Keberadaan Menara Suar Pulau Celagen dan Tanjung Labu mengajarkan kita bahwa kemajuan teknologi tidak boleh memutuskan mata rantai sejarah. Reruntuhan ini adalah monumen hidup yang mengingatkan betapa laut Nusantara pernah menjadi saksi pertaruhan nyawa, ambisi kolonial, dan ketangguhan manusia. Melestarikan memorinya bukan hanya tugas sejarawan, tetapi juga komitmen kolektif untuk menghargai sejarah dan menginspirasi generasi mendatang.












