Oleh: Aisyah Zaskhia (SMPN 2 Simpangkatis)
Asal mula adalah kata
Jagat tersusun dari kata
Di balik itu hanya
ruang kosong dan angin pagi
Mata Shaka terpaku melihat rangkain kata-kata yang ada di buku tua itu, beberapa bagian sudah terkoyak, termasuk bagian cover depan. Namun, Shaka tertarik untuk membaca setiap kalimat dengan seksama. Di bagian tengah halaman, Shaka menemukan sebuah kertas sobek dengan rangkaian kata-kata. Shaka merasa ada kehangatan, kedamaian, dan kenyamanan dalam hatinya.
Shaka duduk di salah satu bangku di perpustakaan tua itu, mencerna setiap rangkaian kata-kata. Shaka berbisik lirih.
“Siapa penulis kata-kata ini? Mengapa rangkaian katanya terasa begitu dekat dengan diriku?”
Shaka adalah pemuda yang selalu menjadi buah bibir di sekolahnya. la tinggi, tampan, sopan, dan bahkan berprestasi nyaris tak ada cela pada dirinya. Para gadis kerap menarik perhatiannya, tapi Shaka selalu menjaga jarak. la bukan pemuda yang mudah untuk didapatkan, dan bukan pula pemuda yang mudah untuk membuka hati. Di balik semua pesona itu, ada dunia yang tak banyak orang tahu, yaitu dunia aksara. Setiap malam Shaka duduk di meja kayu kamarnya, menulis dengan pena yang menari di atas kertas. Bagi Shaka, aksara adalah sahabat sejatinya. Tempat ia menitip resah, tawa dan bahkan doa.
Shaka selalu kembali ke perpustakaan tua itu, hanya untuk mencari sambung rangkaian yang hilang itu. Shaka begitu penasaran dan berharap mendapatkan keberuntungan menemukan rangkaian yang hilang.
Saat Shaka sedang membaca, ia bertemu dengan seorang pustakawan tua.
“Apa yang kau baca, Nak? Kau tampak begitu larut.”
Shaka mengangkat kepalanya, lalu tersenyum kepada pustakawan tua itu. “Aku sedang membaca buku ini, apakah Bapak tahu siapa penulisnya?”
Pustakawan tua itu menggeleng pelan.
“Tidak ada nama di buku ini Bu, tapi yang paling penting bagaimana seseorang mampu meninggalkan jejak aksara dalam jiwa-jiwa yang haus makna, karena di sanalah jiwa penulis mendiami, namun abadi.”
Shaka mendengar kata-kata dari pustakawan tua itu langsung memeluk erat buku tersebut, seolah-olah Shaka takut kehilangan buku tua itu. Shaka tersenyum lembut.
“Begitu juga dengan seseorang yang mempunyai bakat aksara dalam dirinya, karena di sanalah seseorang mampu menemukan tempat berkeluh kesah dan menitip doa dalam setiap katanya.”
Pustakawan tua itu mendengar setiap kata-kata yang keluar dan mulut Shaka, lalu pustakawan tua itu tersenyum penuh arti kepada Shaka.
“Kau sangat pandai membuat kata-kata untuk para pencinta aksara, Nak.”
Shaka mendengar pujian itu tersentak malu, sampai-sampai pipinya menjadi merah seperti tomat. Baru kali ini Shaka di puji dengan orang yang pencinta aksara juga, biasanya orang lain memuji Shaka dari parasnya yang tampan. Menurut Shaka pujian itu sangat berarti dalam hatinya, karena dipuji langsung dengan seorang pencinta aksara. Tak lama Shaka menunjukkan sebuah bagian kertas sobek kepada pustakawan tua itu.
“Apakah Bapak mempunyai kelanjutan kata-kata ini?”
Pustakawan tua itu melihat rangkaian kata-kata yang kelanjutannya hilang, lalu pustakawan tua itu menggeleng pelan.
Selesai Shaka berbicara dengan pustakawan tua itu, Shaka bergegas untuk pulang. Shaka melewati lorong rak-rak buku, tak lama Shaka menabrak perempuan yang sedang mencari buku. Buku yang dipegang Shaka terjatuh, mereka saling bertatapan. Shaka meminta maaf.
“Maaf aku tidak melihatmu.”
Perempuan itu tersenyum.
“Tidak apa-apa, aku juga meminta maaf. Apakah buku ini milikmu?”
Shaka mengangguk pelan, perempuan itu membaca kertas yang ada di tengah halaman. Lalu perempuan itu mencocokan kertas miliknya dengan buku usang milik Shaka.
“Rangkaian kata-kata dari bukumu dengan kertas milikku sangat pas.”
Perempuan itu memperlihatkan sambungan rangkaian dari kertas milinya dan buku milik Shaka.
Asal mula adalah kata
Jagat tersusun dari kata
Di balik itu hanya
ruang kosong dan angin pagi
Kita takut kepada momok karena kata
Kita cinta kepada buku karena kata
Kita percaya kepada Tuhan karena kata Nasib terperangkap dalam kata
Karena itu aku
Bersembunyi di belakang kata
Dan menenggelamkan
Diri tanpa sisa
Mata Shaka berbinar mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh perempuan itu.
“Benarkah? Aku sudah lama mencari kelanjutan kata-kata ini. Apakah kamu tahu siapa penulisnya?”
Perempuan itu menggeleng pelan, dan mengusulkan untuk bertemu.
“Aku tidak tahu siapa penulisnya, bagaimana kita bertemu besok pagi untuk mencari siapa penulis kata-kata ini?”
Shaka mengangguk pelan.
“Baiklah, tapi di mana kita akan bertemu?”
Perempuan itu berpikir sejenak, lalu tersenyum.
“Bagaimana kita bertemu di sebuah kafe di seberang perpustakaan ini?”
Shaka mengangguk setuju.
“Baiklah, besok pagi pukul 09.00, ya? Kalau boleh tahu siapa namamu?”
Perempuan itu langsung menjawab pertanyaan dari Shaka dengan sopan.
“Namaku Tranisa, dan namamu siapa?”
Shaka tersenyum mendengar nama perempuan itu.
“Salam kenal, aku Shaka.”
Perempuan itu mengangguk.
“Bagaimana kita bertukar kontak? Supaya komunikasi kita berjalan lancar untuk besok pagi.”
Shaka mengeluarkan ponselnya, lalu mereka berdua saling bertukar kontak.
“Baiklah, terimakasih ya, Shaka. Aku harus pulang, ini sudah sore.”
Shaka mengangguk paham.
“Ya sudah, aku juga harus pulang. Sampai jumpa besok pagi. Tranisa.”
Mereka pun pulang ke rumah masing-masing, malamnya Shaka mengirim pesan kepada Tranisa.
“Malam Tranisa, ini Shaka. Maaf aku menganggu waktu istirahatmu.”
Tranisa yang sedang mengerjakan tugas sekolah pun terkejut dengan notifikasi pesan dari Shaka.
“Malam juga, Shaka. Tidak apa-apa, ada perlu apa kamu mengirim pesan kepada ku?”
Shaka membalas pesan dari Tranisa dengan cepat.
“Hanya ingin memastikan saja, besok jadi kan kita bertemu?”
Tranisa membalas pesan Shaka dengan sopan.
“Jadi, Shaka. Kita bertemu di kafe seberang perpustakaan, besok pagi pukul 09.00, kan?”
Shaka membalas pesan Tranisa.
“lya, pukul 09.00. Baiklah, sampai jumpa lagi.”
Pagi minggunya, Shaka bergegas pergi ke kafe untuk bertemu Tranisa. Begitu juga dengan Tranisa yang sudah cantik menyandang tasnya. Shaka pun datang di kafe yang sudah ditentukan dengan tepat pukul 09.00, Shaka melihat Tranisa yang sedang duduk di salah satu meja. Shaka berjalan ke arah Tranisa.
“Selamat pagi, Tranisa. Maaf aku sudah membuatmu menunggu.”
Tranisa mengangkat kepalanya, dan tersenyum kepada Shaka.
“Pagi juga, Shaka. Tidak apa-apa, aku juga belum lama datang. Ayo duduklah, aku sudah tidak sabar untuk mencari siapa penulis kata-kata itu.”
Shaka duduk disamping Tranisa.
“Aku juga membawa laptop untuk mencari dengan mudah.”
Shaka mengeluarkan laptopnya dari tas, ia mencari dengan ceria, seolah-olah mendapatkan keberuntungan menemukan siapa penulisnya. Suasana mejadi hening, ketenangan mulai mengisi ruangan. Hanya ada suara mesin kopi dan nafas mereka yang teratur. Tiba-tiba keheningan pun pecah dengan suara lembut Tranisa
“Shaka, apakah aku boleh menanyakan sesuatu?”
Shaka langsung menoleh, lalu tersenyum.
“Tentu saja boleh, apa yang ingin kamu tanyakan?”
Tranisa tersenyum karena Shaka memperbolehkan dia untuk untuk bertanya.
“Kamu sekolah di swasta atau negeri?”
Shaka menjawab pertanyaan dari Tranisa.
“Aku bersekolah di sekolah negeri, jauh di kampung sana.”
Tranisa mengangguk paham.
“Oh, kamu duduk di kelas berapa?”
Shaka terus menjawab pertanyaan dari Tranisa dengan sopan.
“Aku duduk di kelas 3 SMP, dan kamu?”
Tranisa tersenyum.
“Kita sama, aku juga duduk di bangku kelas 3.”
Tak lama setelah berbicara, Shaka menemukan siapa penulis kata-kata itu.
“Tranisa, aku sudah menemukan siapa penulisnya. Ternyata penulisnya sangat terkenal dikalangan sastra.”
Mata Tranisa langsung berbinar karena mendengar perkataan Shaka.
“Benarkah, siapa penulisnya?”
Shaka tersenyum melihat Tranisa yang kesenangan.
“Penulisnya adalah Subagio Sastrowardoyo, ternyata rangkaian kata-kata itu merupakan sebuah puisi yang berjudul KATA.
Tranisa langsung ceria, mereka semakin tertarik untuk mengulik biografi dan kehidupan Subagio Sastrowardoyo.
“Wah, aku tidak menyangka bahwa penulisnya adalah sastrawan terkemuka Indonesia. Pantas saja tulisnya sangat istimewa.”
Setelah hari itu, mereka tidak pernah lagi bertemu, bahkan menanyakan kabar dan mengirim pesan.
Suatu hari Shaka mengikuti lomba menulis cerpen yang diselenggarakan oleh sekolah yang terkenal di kota ini. Saat Shaka sedang melihat-lihat perpustakaan tempat ia lomba, Shaka tidak sengaja melihat Tranisa yang sedang duduk di salah satu bangku Shaka berbisik lirih.
“Itu bukannya, Tranisa? Mengapa dia ada di sini? Apakah dia mengkuti lomba yang sama denganku?”
Shaka bertanya-tanya dengan dirinya sendiri, Shaka berjalan penuh tekad ke arah Tranisa.
“Halo, Tranisa. Sudah lama kita tidak bertemu, apakah kamu ikut juga di perlombaan ini?”
Tranisa terkejut dengan Shaka yang juga berada diperlombaan ini.
“Loh, Shaka. Kamu juga ikut di perlombaan ini?”
Shaka mengangguk canggung.
“Iya, aku juga terkejut melihat kamu juga ada di sini.”
Tranisa hanya tersenyum.
“Baiklah, kita berlawan dengan sportif saja ya, Shaka!”
Shaka menangguk dengan sopan. Tak lama para peserta perlombaan dikumpulkan menjadi satu di sebuah ruangan, mereka bersiap-siap untuk memulai lomba dalam waktu hanya 2 jam. Suara ruangan menjadi hening dan tenang, hanya suara keyboard yang berbunyi. 2 jam kemudian waktu sudah habis, mereka mengumpulkan karya yang mereka buat kepada para juri. Mereka juga diberikan waktu untuk istirahat dan makan, setelah istirahat mereka dikumpulkan di aula perpustakaan itu. Waktu sudah pukul 14.00, pengumuman juara pun dilakukan. Suasana sangat tegang, para peserta sangat berharap keberuntungan akan datang menjadi kemenangan. Ternyata juara 2 adalah Tranisa, dan juara 1 adalah Shaka.
Mereka saling mengucap selamat satu sama lain dan berjabat tangan. Saat jabat tangan terlepas mereka saling tersenyum.
“Selamat ya, Tranisa. Atas pencapaianmu.”
Tranisa pun tersenyum kepada Shaka.
“Selamat juga, Shaka. Aku tidak menyangka bahwa kita akan mendapatkan juara.”
Mereka belajar bahwa perlombaan bukan cerita menang kalahnya, tetapi cerita tentang bagaimana kita tidak menganggap teman menjadi lawan dalam semuanya.
Jangan pernah berhenti mencintai aksara.
Karena dengan aksara kita pernah bersua
Dan dengan aksara kita menulis kisah penuh makna.
Kata-kata untuk hari ini, “Jika mata terbuka untuk melihat masa depan, mengapa masih bermalas-malasan menuju kebangkitan.” (BP/ KM)*
Cerpen ini merupakan karya peserta Lomba Menulis Cerpen dalam rangka memperingati Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia, Bangka Tengah di Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 23 Oktober 2025.












