Oleh: Kinar Pamela (Siswa SMP Negeri 2 Pangkalanbaru)
Kinar menyesap teh hangatnya. Matanya menerawang jauh ke arah Namsam Tower yang menjulang di kejauhan. Musim gugur di Seoul selalu membuatnya rindu pada rumah dan keluarganya di Jakarta. Terutama satu nama Jihoon.
Kinar dan Jihoon bertemu saat kelas Bahasa Korea. Saat Kinar baru tiba sebagai mahasiswa pertukaran. Jihoon dengan senyum ramahnya langsung menawarkan bantuan. Awalnya Kinar merasa canggung karena bahasa yang belum lancar, budaya yang berbeda, membuatnya ragu untuk membuka diri.
Namun Jihoon tidak menyerah. Ia mengajak Kinar berkeliling kota, mengenalkannya dengan makanan Korea yang pedas dan unik. Jihoon membantunya mengerjakan tugas-tugas kuliah. Mereka sering menghabiskan waktu ke taman-taman kota. Mereka sering berbagi cerita tentang keluarganya, impian, dan ketakutan mereka masing-masing.
Kinar banyak belajar dari Jihoon tentang keberanian, kerja keras dan bertanggung jawab. Jihoon belajar dari Kinar tentang kebaikan, tradisi masing-masing dan kelembutan dari Kinar.
Persahabatan mereka tumbuh semakin erat. Walaupun jauh dari rumah tetapi kalau ada seseorang yang selalu ada ataupun susah itu sudah cukup bagiku. “Gak ku sangka-sangka, ku kira kuliah di sini bakal gak ada teman,” jawab Kinar dengan tersenyum.
Dan di suatu sore Jihoon mengajak Kinar ke tepi Sungai Han. Jihoon menceritakan mimpinya semalam ke Kinar.
“Semalam aku mimpi, aku menjadi seorang arsitek.”
Matanya berbinar sambil menceritakan mimpinya semalam. Kinar mendengarkan kisah mimpi itu dengan penuh perhatian.
“Semoga yang kamu mimpikan tercapai,” ucap Kinar dengan menyemangatinya.
“Makasih ya Kinar, kamu sudah bisa menyemangatiku,” kata Jihoon dengan penuh perhatian.
Setelah beberapa bulan, tugas Kinar di sini sudah selesai. Jihoon sangat sedih karena belum bisa memberi dia yang terbaik. Kinar dan jihoon segera menuju ke bandara Incheon. Kinar tak bisa menahan air matanya. Jihoon memeluknya erat seakan tak pernah lepas. Pesawat Kinar lepas landas.
“Untuk terakhir kalinya aku melihat Kota Seoul.” Ucap Kinar tanpa bisa menahan Air matanya.
Dan setelah beberapa tahun kemudian. Kinar mendapatkan surat undangan dari Kota Seoul. Ia yakin Jihoon telah mencapai cita-citanya menjadi seorang arsitek. Tak menunggu lama la langsung memesan tiket pesawat. Tak berselang lama Kinar datang ke tempat Jihoon. Jihoon langsung memeluknya seakan-akan tidak pernah berpisah. Jihoon dengan bangganya berkata, “ini adalah sahabatku dari Indonesia.”
Jihoon mengajak Kinar ke restoran kecil sebagai tanda kesuksesan Jihoon.
“Aku gak nyangka kamu bakal datang,” ucap jihoon dengan gembira.
“Iya lah masak aku gak datang,” ucap Kinar sambil menepuk pundak Jihoon.
Ini untuk pertama kalinya Jihoon mengajak Kinar ke mamanya Jihoon. Mereka mengobrol bersama mamanya Jihoon
“ini siapa, Hoon?” Ucap mama Jihoon kebingungan.
“Oooo…. Ini temanku dari Indonesia, mam!” Jawab Jihoon.
“Oooo… perkenalkan tante namaku Kinar, temannya, Jihoon tante!”
“Dengan siapa ke sini nak?” Jawab mama Jihoon.
“Saya sendiri!” Jawab Kinar dengan malu-malu.
“Orang tuamu mana nak?” Sahut mama Jihoon.
“Orang tuaku sudah gak ada tan, aku yatim piatu.”
Mereka berbicara tapi satu hal yang Jihoon tidak tahu, ia terkejut mendengar bahwasannya Kinar yatim piatu. Jihoon mengajak Kinar ke belakang rumah. “Kenapa, Hoon?” Sahut Kinar.
“Kinar, kamu benar yatim piatu?” Tanya Jihoon dengan muka penasaran.
Keesokan harinya Kinar mau berpamitan dulu ke Jihoon dan mamanya sebelum pulang ke Indonesia.
“Hoon…Hoon bangun, Hoon.” Sahut Kinar membangunkan Jihoon. Jihoon pun terbangun.
“Emmmm… kenapa Narrrr?” Jihoon terbangun.
“Hoon aku mau pulang ke Indonesia.”
Jihon yang awal tersenyum menjadi cemberut.
“Yah, Kinar baru 3 hari di sini,” ucap Jihoon denga muka yang sedih.
“Tante, aku pulang dulu ya, Tan.”
“Kok cepat benget sih, Nak!”
“Iya, Tan soalnya masih ada kerjaan, jadi mau cepat-cepat pulang.”
“Oooo ini nih ada sedikit makanan dari tante, Nak.”
“Oohhh makasih, tante baik banget.”
“Ya udah Tan, aku berangkat ya!”
Kinar dan Jihoon berangkat menuju bandara Incheon. “Jangan lupakan aku.” Bisik Jihoon dengan lirih.
“Pasti dong, Hon!” kata Kinar dengan berbisik.
Pesawat yang Kinar tumpangi pun lepas landas. Kinar menatap dari jendela pesawat untuk terakhir kalinya melihat Kota Seoul. Tapi separuh hatinya tetap tertinggal di Kota Seoul.
Kinar dan Jihoon telah menemukan arti sejati dari sahabat. Sahabat adalah orang yang istimewa, bukan untuk orang lain tapi untukku. Sahabat bukan sembarang sahabat adalah orang yang datang saat kita susah maupun duka.
Jangan pernah sia-siakan orang yang telah setia, karena orang itu adalah penyelamatmu di masah depan. Jangan pernah sia-siakan orang yang sayang kepada mu. (BP/ KM)*
Cerpen ini merupakan karya peserta Lomba Menulis Cerpen dalam rangka memperingati Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia, Bangka Tengah di Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 23 Oktober 2025.












