SERENADA KRAKATAU 1883

Dwikki Ogi Dhaswara

ilustrasi

Bekaespedia.com_Pagi 25 Agustus 1883, di Pelabuhan Sukadana Kalimantan Barat, kapal dagang “Sri Mataram” bersiap berlayar menuju Palembang.

Burung-burung walet terbang rendah, seolah ingin memberi pesan halus tentang sesuatu yang belum tampak di mata manusia.

Di antara para penumpang lainnya, berdirilah seorang lelaki berperangai teduh namun bermata letih, bernama Hasyim, seorang duda beranak satu memegang tangan kecil anaknya, Ikhsan, anak lelaki berusia delapan tahun yang wajahnya seolah menerawang ketakutan.

Di sampingnya berdiri seorang gadis Palembang, bernama Masayu, calon istri yang hendak dibawanya pulang untuk meminta restu di hadapan kedua orang tuanya.

“Jangan khawatir, Nak,” bisik Hasyim, meraba kepala Ikhsan. “Kita akan sampai dengan selamat.”

Kapal mulai bergerak. Tali tambatan dilepaskan dari tiang dermaga. Beberapa pedagang melambai, sementara burung camar menjerit dari kejauhan.

Tak lama setelah kapal memasuki muara, awan di atas kapal itu kian berat. Angin berubah haluan, membawa bau belerang samar yang membuat para kelasi saling berpandangan.

Sementara itu Masayu tersenyum kecil, menahan gelombang cemas. Ia menatap ke belakang kapal, melihat riak air yang semakin kusut.

“Bang.. petanda apa ini?” tanya Masayu.

Hasyim menarik napas panjang. “Entahlah, Dik. Awan gelap biasanya hanya membawa hujan.”

Di kejauhan, petir menyambar tanpa suara, seolah kilat itu sendiri sedang mencari kata-kata.

Kapal terus melaju menuju laut lepas, namun perasaan tidak enak menyelinap ke dada setiap jiwa yang berada di atasnya.

Di sisi lainnya, pada 26 Agustus 1883 di pesisir Bangka tepatnya di Toboali, pada siang itu, berdirilah sepasang kekasih, Raka dan Dewi.

Raka, pemuda pelaut yang tekadnya bulat membawa harapan.

Hari itu, Raka akan melaut untuk mencari hasil tangkapan, agar bisa menambah biaya pernikahan mereka.

Orang tua mereka sudah saling merestui, dan waktu untuk pernikahan mereka pun sudah ditentukan.

Dewi memegang erat tangan Raka, dengan tersenyum. “Bang… hatiku berharap abang pulang dengan hasil tangkapan yang banyak.”

Raka membalas tatapnya, langkahnya teguh. “Dewi.. rinduku ini berat. Jika abang pergi, angin dan ombak akan menjadi saksi. Abang akan kembali, bukan hanya membawa ikan, tetapi membawa cinta beserta seiisi lautan dengan setia.”

Dewi pun tersenyum lega. Kemudian raka melangkah ke kapal kecilnya yang akan membawanya melaut.

Raka kembali berkata,”Bila bulan masih menggantung di langit, abang akan pulang.”

Dewi pun melambaikan tangannya kepada Raka, hingga kapalnya semakin menjauh.

Setelah jauh, keanehan mulai terasa. Awan di cakrawala tidak seperti biasanya. Angin membelai kulit dengan isyarat waspada. Ombak pun tidak lagi bersahabat, naik dan menurun tidak beraturan, seolah enggan berbagi ruang dengan kapal kecil itu.

Di senja harinya, terdengar suara dentuman jauh. Bunyinya tidak seperti guntur, melainkan gemuruh rendah, bergema, menghantam dada di tiap insan yang berada di tengah laut.

Raka berhenti menarik jala. Ia menyandarkan badannya pada sisi kapal. Hatinya berguncang. Ia mengira itu hanya badai, tetapi perasaan di hatinya berkata lain.

“Petanda apa ini?” gumamnya. Gelisah, namun demi cinta dan janji, ia menekan rasa takut itu, memaksa jari-jarinya menarik jala sekali lagi.

Malam itu, laut dan langit seakan bersatu dalam kesunyian penuh ancam. Ombak berdansa tak berirama, air laut bergejolak seperti ditusuk oleh jarum tajam.

Dalam sekejap, kapal kecil itu seperti direndam oleh angin yang tak terlihat. Raka memegangi rumah kapal, jantungnya berdegup cepat. Ia berbisik dalam hati. “Ya Allah, lindungi hamba… lindungi aku yang menanti cinta di darat.”

Ia bersandar, memejamkan mata sejenak. Namun, kapal terus bergerak, diseret arus dan angin jahat. Ia tidak berani membuka mata terlalu lebar, takut melihat apa yang tidak layak dilihat manusia.

Hujan turun perlahan, mula-mula tipis, kemudian lebat. Angin berganti-ganti arah, membuat layar kapalnya bak layangan tak tentu arah. Menyeret Raka jauh dari tempat ia bermula.

Malam yang panjang ia lalui dengan sendirinya, melawan badai, berpasrah pada angin yang membawanya entah kemana.

Hingga sampailah pada pagi harinya, 27 Agustus 1883. Baru saja Raka tertidur lelap, melewati malam yang ribut.

Pagi itu juga, dentuman maha dahsyat, memecah langit, melayangkan burung-burung yang tersesat. Laut seperti kembali mengamuk.

Gelombang yang datang bukan lagi ombak, melainkan tembok air. Raka belum sempat membuka mata, perahunya dihantam oleh gelombang, pecah berkeping-keping.

Kayu perahu mencambuk tubuhnya, air asin menelan mulutnya, hujan abu menyengat kulitnya.

Dari jauh terdengar teriakan manusia, rintihan, laungan minta tolong… namun tak tampak satu pun wajah di antara kabut hitam dan busa ombak.

Raka hanya sempat berpaut pada sepotong papan. Air matanya bercampur air laut.

Arus menyeretnya tanpa arah. Ia pasrah, tubuhnya melayang seperti bangkai dihamparkan nasib.

Akhirnya ia terdampar di pulau tak berpenghuni, Pulau Maspari.

Berjam-jam ia tak sadarkan diri.

Lalu tiba saat ia telah sadar, ketika akan membuka mata, cahaya pucat menyusup dari sela-sela daun kelapa kering. Ia terbaring di pasir yang dingin. Kepalanya pusing, dadanya sesak, tangannya gemetar.

Di sekelilingnya…

Mayat-mayat bergelimpangan, sebagian tersangkut akar bakau, sebagian terdampar di pasir dengan mata terpejam. Suara ombak pelan memukul pantai, seolah menangisi para arwah.

Raka menutup mulut, menahan mual dan pilu. “Ya Allah… banyak sekali nyawa yang direnggut oleh laut hari ini…”

Ia bangkit perlahan, terpincang menahan sakit. Pulau itu kecil, tiada rumah, tiada manusia yang bergerak. Hanya gelombang dan angin yang menjadi saksi.

“Di manakah aku berada?”

Ia memandang sekitar, melihat bangkai kapal, serpihan barang dagang, dan tubuh-tubuh tanpa nama.

Raka mengucap syukur lirih, ia masih bernyawa.

Dari kejauhan, terdengar isak kecil di sela pepohonan bakau yang tumbuh rimbun. Suara itu begitu pelan, seperti hembusan angin yang menahan tangis. Raka menoleh, mencoba memastikan ia tidak sedang berhalusinasi.

Lalu ia melihat.

Seorang perempuan berpakaian lusuh. Memeluk seorang anak laki-laki yang tak lebih dari usia delapan tahun. Keduanya tampak kelelahan dan ketakutan.

Perempuan itu mencoba menenangkan si kecil, sementara matanya memandang laut dengan kosong, seolah masih menanti seseorang yang tak akan pernah kembali.

Raka perlahan mendekat.”Apakah kalian juga.. selamat dari badai itu?” tanyanya pelan, khawatir mengejutkan.

Perempuan itu mengangguk dengan wajah pucat.

“Aku Masayu… ini anak laki-laki dari calon suamiku, namanya Ikhsan,” suaranya bergetar, namun tetap berusaha tegar. “Kami berangkat dari Sukadana menuju Palembang. Kapal kami.. hancur. Hasyim… calon suamiku… dia hilang saat gelombang pertama menyerang.”

Anak itu, Ikhsan, memegang ujung kain Masayu erat-erat. Matanya bengkak, tertalu muda untuk memahami maut, namun cukup mengerti akan kehilangan.

Raka terdiam sejenak. Di tengah keterpurukannya, ia bertemu manusia lainnya, sama-sama terhempas oleh nasib.

“Namaku Raka,” ujarnya perlahan. “Aku… terombang-ambing sejak dentuman itu. Kapalku pecah. Aku… juga tak tahu jika aku bisa selamat sepenuhnya.”

Masayu menatapnya, dan di sorot matanya terlihat kejernihan seseorang yang mencoba bertahan meski hatinya telah remuk.

Mereka saling berbagi diam. Hanya suara laut yang masih menggeram, mengisyaratkan bahwa dunia belum tenang sepenuhnya.

Sementara itu di Toboali…

Banjir rob menyisir pesisir pemukiman penduduk. Sejak malam krakatau meletus, langit tak pernah benar-benar cerah. Abu tipis turun seperti salju kelabu, menutupi dedaunan, bahkan atap-atap rumah.

Dewi merasa sangat cemas, tiap kapal kecil yang kembali dari laut, ia berlari, menanyakan nama Raka, bertanya apakah seseorang melihat kapalnya, apakah ada tanda-tanda ia masih hidup.

Jawabannya selalu sama. Gelengan kepala, tatapan iba, dan doa.

Ibunya memegangi bahunya. “Nak… Raka lelaki kuat. Ia akan pulang.”

Namun suara sang ibu pun terdengar seperti sedang menghibur dirinya sendiri.

Di Pulau Maspari, perasaan berat menguasai Raka. Ia tahu betul, selama badai berlalu, tak ada kapal yang akan mendekati wilayah ini dalam waktu lama.

Ia menatap laut yang perlahan mereda, namun masih dingin dan pekat. Mereka bertiga, tiga jiwa yang terdampar oleh takdir yang sama, menatap laut yang kini terlihat tenang di permukaan, tetapi menyimpan duka di dasarnya.

Dan di Toboali, seorang perempuan terus berdoa untuk sang kekasih yang terdampar entah di mana.

Waktu di Pulau Maspari berjalan tanpa nama, hari-hari hanya ditandai oleh naik turunya matahari, oleh kelapa yang semakin sedikit, dan oleh angin asin yang terus menyelimuti hidup mereka.

Raka, Masayu, dan Ikhsan hidup seperti keluarga kecil yang terbentuk karena keadaan. Tak ada kapal yang melintas. Tak ada asap peradaban.

Namun semakin lama, mereka belajar menerima kenyataan. Mereka hanya memiliki satu sama lain.

Ikhsan adalah yang paling cepat beradaptasi. Anak itu mulai tertawa lagi ketika Raka mengajarinya membuat tombak kecil dari kayu, atau ketika mereka memancing ikan di laguna dangkal. Setiap kali Raka kembali dari mencari makanan, Ikhsan berlari menyambutnya.

Lama-kelamaan, keterikatan itu tumbuh begitu kuat.

Suatu sore, ketika senja jatuh di atas pasir dan mengubah laut menjadi warna emas, Ikhsan duduk di samping Raka. Ia sedang memegang kerang-kerang kecil yang mereka temukan di tepi pantai.

“Paman…” suara Ikhsan pelan, seolah takut menyakiti udara.

“Ya, Nak?” Raka menoleh sambil tersenyum.

Ikhsan menatap tanah. Bibirnya bergetar.”Boleh… boleh nggak aku memanggil Paman.. Ayah?”

Raka Terdiam. Hening mendadak menebal.

Ikhsan mengusap hidungnya yang memerah.

“Aku rindu ayah… aku rindu sekali… dan… dan Paman selalu jaga aku seperti ayah…”

Air mata kecil itu jatuh ke pasir, membentuk titik gelap.

Raka lekas memeluk Ikhsan. “Boleh… Nak. Boleh.”

Sejenak, Raka kembali mengulas ingatannya tentang Dewi, tentang janjinya, tentang masa depan yang seharusnya ia kejar, tiba-tiba membentur kenyataan pahit bahwa ia kini terdampar entah di mana, tanpa kepastian apakah ia bisa kembali hidup seperti dulu.

Sebelum Raka sempat menjawab, Masayu berdiri tidak jauh di belakang mereka. Ia mendengarnya, dari awal sampai akhir. Air matanya jatuh, bukan karena marah, melainkan karena kenyataan itu terlalu getir untuk dibantah.

Namun jauh di Toboali, Dewi masih menatap laut dengan cemas, dan berbisik lirih. “Raka… pulanglah. Aku masih menunggu.”

Hampir tiga bulan berlalu.

Angin di Pulau Maspari semakin jinak, namun hati Raka justru semakin berombak.

Di Toboali…

Dewi berdiri di ambang rumah, wajahnya pucat namun pasrah. Orang tuanya telah memutuskan, ia harus menikah dengan lelaki pilihan keluarganya.

Perkataan ayahnya masih terngiang di ingatannya, “Kami tak sanggup menunggu kabar yang entah bagaimana ujungnya,” ujar ayahnya, lembut tapi tegas. Dewi hanya bisa menunduk, air mata jatuh perlahan.

Ia menyerah, bukan karena kehilangan cinta, melainkan karena dunia memaksanya berjalan maju tanpa Raka.

Di Pulau Maspari…

Raka menyalakan api kecil di tepi pantai. Masayu duduk sedikit jauh, memeluk Ikhsan yang tertidur.

Sunyi malam membuat suara hati begitu jelas.

“Raka…” panggil Masayu lirih.

Raka menoleh. “Ada apa?”

Masayu meremas ujung bajunya, gugup namun teguh.”Selama kita di sini… engkau telah menjagaku dan anakku. Hati perempuan mana yang tak luluh?”

Ia menatap Raka dengan mata basah.

“Maaf… Jika aku mulai menaruh hati padamu.”

Raka terdiam sejenak.

“Ayu…” suaranya rapuh. “Maafkan aku… hatiku masih terikat pada seseorang. Janji itu belum putus.”

Masayu tersenyum tipis, menutup lukanya sendiri. “Aku tahu… dan aku tak bermaksud merampas hatimu. Cinta… bukan paksaan. Jika memang berjodoh, kelak Tuhan sendiri yang akan membuka jalannya.”

Raka menunduk. “Aku berterima kasih.. kau dan Ikhsan membuatku bertahan. Tapi aku tak mau mengkhianati janji lama.”

Masayu mengangguk, walau air matanya akhirnya jatuh juga. “Aku hormati itu.”

Seratus hari setelah terdampar, ketika mereka nyaris tak lagi percaya bahwa dunia luar masih ada, sebuah suara asing memecah keheningan.

Gemuruh suara kapal.

Dari balik kabut yang menipis, muncul kapal Belanda dikawal oleh seorang pejabat kolonial yang sedang memeriksa kerusakan perairan Selat Bangka pasca Krakatau. Melihat tiga orang berdiri dari kejauhan di tepi pantai terpencil, mereka sontak terkejut.

Tanpa banyak bicara, mereka diangkat ke geladak kapal. Raka menggenggam bahu Ikhsan erat-erat, sementara Masayu menundukkan wajahnya, syukur dan sedih bercampur menjadi satu.

Perjalanan pulang ke Toboali.

Di atas kapal, Masayu berkata lirih, “Raka… bila kita sampai Toboali, izinkan aku pulang ke Palembang beberapa hari kemudian, bila ada tumpangan. Tiada hartaku tersisa… hanya Ikhsan seorang.”

Raka mengangguk lembut. “Kau dan Ikhsan ikutlah denganku dahulu. Kalian juga seperti keluargaku dalam hidup dan mati.”

Masayu tersenyum.

Begitu kapal berlabuh di Pelabuhan Toboali, Raka turun lebih dulu. Tubuhnya kurus, kulitnya gelap terbakar, wajahnya nyaris tak dikenali. Orang-orang yang lewat hanya memandang sekilas tanpa sadar siapa dia.

Raka berjalan cepat, hampir berlari. Meninggalkan Masayu dan Ikhsan yang diistirahatkannya tak jauh dari pelabuhan.

Namun ketika sampai di persimpangan menuju rumah Dewi, langkahnya terhenti. Dari kejauhan, Janur Kuning melambai-lambai seperti pisau menusuk dada.

Rumah Dewi sedang berpesta. Tamunya ramai, payung lilin dan teluk serujo menghias halaman.

Raka gemetar, dadanya serasa robek.

Seoarang sepupu Dewi yang mengenalinya terbelalak. “Raka? Ya Allah… apakah ini benar engkau?”

Raka tersenyum getir. “Aku kembali…”

Sepupu itu menutup mulut, dan tak kuasa berkata-kata. Lalu ia menahan bahu Raka.

“Raka.. kau harus kuat. Dewi… Dewi menikah hari ini. Kami kira engkau sudah tak ada di dunia. Ini bukan salah Dewi.”

Raka menggeleng keras.

“Tidak… tidak…” suaranya pecah.”Demi Allah, aku masih hidup… aku berjuang untuk pulang…”

Ia menangis seperti anak kecil. Air matanya jatuh tanpa malu. “Kenapa…kenapa bukan aku? Kenapa laut menahan aku?”

Sepupu itu memeluk erat. “Ini bukan salahmu. Bukan salah siapa-siapa.”

Mereka berusaha membawanya masuk ke acara pernikahan itu. namun Raka menahan langkahnya. Ia mengusap wajah. “Tidak. Jangan biarkan aku merusak hidupnya. Katakan padanya… bahwa aku masih hidup. Itu saja.”

Sepupu itu menunduk, matanya memerah, lalu masuk untuk menyampaikan kabar itu.

Tak lama, suara tangis Dewi terdengar dari dalam. suaranya mematahkan hati siapa pun yang mendengarnya.

Raka berjalan kembali ke Pelabuhan, tanpa tujuan. Laut sore tampak merah, seperti luka besar yang terus menganga.

Raka berdiri di tepian, tubuhnya goyah seperti daun dalam badai. “Apa gunanya aku hidup… bila semua yang kutuju telah hilang…”bisiknya lirih.

Kakinya melangkah terlalu dekat ke bibir dermaga. Air memercik. Badan Raka condong ke depan.

Tiba-tiba terdengar teriakan. “Ayah! Jangan!”

Raka menoleh.

Ikhsan berlari sekencang-kencangnya, napas tersengal, air mata menetes, Masayu menyusul, wajahnya panik.

Masayu menggenggam tangan Raka sebelum ia terjatuh. “Raka! Jangan sekali-kali menyerah bagai daun rapuh dihanyut angin! Kami masih bersamamu.” Suaranya parau namun penuh kekuatan.

Raka terduduk, tubuhnya limbung. Tangannya memeluk Ikhsan kembali, seolah memeluk satu-satunya ikatan yang tersisa dalam hidupnya.

Masayu duduk di sampingnya, membiarkan air matanya jatuh tanpa disembunyikan.

Raka menatap Masayu dan Ikhsan. Untuk pertama kalinya sejak lama… ia merasakan benar-benar tidak sendirian.

Masayu berkata pelan. “Kami bukan pengganti. Kami hanya… takdir lain yang datang terlambat dan tak terduga.”

Raka menunduk, menggenggam tangan keduanya.

“Aku kehilangan, benar… namun Tuhan tidak menenggelamkanku dengan sia-sia!” ucap Raka.

 

 

TAMAT

Toboali, 5 Desember 2025

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *