Dulu …
Si merah adalah dambaan kaum hawa,
bisa memenuhi isi kulkas.
Kini si merah bukan lagi dambaan yang dipuja dan dipuji.
Si merah tidak berdaya
harus bisa dibagi rata.
Tapi kini…
Si merah,
tidak lagi dirindukan.
Kami rakyat jelata,
hanya menyaksikan
mengikuti alur cerita seperti dunia maya, naik turunnya keadaan.
Bagaimana cara bertahan? “Sementra dompet semakin tipis”.
Sampai kapan badai ini reda?
Akankah badai ini berubah manis?
Semoga ada tangan kebijakan untuk berpihak.
Payung, 11 Juni 2026












