Sindang Bangkakota

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia. 

Bekaespedia.com, Perkawinan politik antara puteri Bupati Nusantara (juwaraja) kesultanan Banten di Bangkakota dengan Sultan Abdurrahman sultan kesultanan Palembang Darussalam Tahun 1666 Masehi, mengakhiri konflik perebutan hegemoni alur perdagangan Lada di selat Bangka yang merupakan the favorite commercial coast antara Kesultanan Banten dan Kesultanan Palembang. Bangka kemudian sejak Tahun 1668 menjadi wilayah Sindang atau Sendang yang berstatus Merdeka atau mardika yang berarti bebas (vrijheren), tugas wilayah Sindang adalah wajib mempertahankan wilayahnya bila diserang musuh.

Untuk menegaskan keberadaan wilayah Sindang dibangunlah Satu benteng di Pesisir Barat pulau Bangka.

“Den Pangeran Aria, twee de soon des ouden konings van Palembangs, soude (volgens bericht) met goede informatie en belijt van zijn vader na’t eijlant Banca vetrocken zijn om aldaar aen een reviertje genaemt Banca Kotta een goede heghte pagger op te werpen en sigh met rooven te behelven, mitgaders alle vijtge weeckene en omswervende Maccassaren van alle platsen, onder belovte van bescherminge na derwaarts materwoon te loocken om door ……Dagh-Register 13 Februari 1682). Wilayah Sindang berbeda dengan wilayah Sikap dan Kepungutan, yang berada di wilayah iliran dan uluan Palembang. Oleh sebab itu ketentuan adat yang berlaku di Bangka disebut Sindang Mardika (45 pasal), berbeda dengan di Palembang dengan Simbur Cahaya.

Sindang/Sendang adalah diambil dari penamaan untuk sumber mata air yang dibuat manusia untuk sumber air kehidupan.

Di pulau Bangka juga di kenal Tumbek atau aik tumbek yang secara filosofis dan kosmologi merupakan sumber air ciptaan Tuhan untuk kehidupan bagi semua makhluk.

Bangkakota yang awalnya Kububangka masa Johor (Tahun 1641), kemudian masa Banten (1651) dan Palembang (1668) menjadi kute/Kotabangka dan pada masa kolonial menjadi Bangkakota adalah pusat peradaban tua di pesisir Barat pulau Bangka.

Kota ini sempat dibumihanguskan ketika terjadi perang kota antara pasukan Belanda dengan legiun Mangkunegaran melawan rakyat yang dipimpin Bahrin, Demang Singayudha, Juragan Selan, sehingga mereka harus terusir hingga ke Kotawaringin dan tepian sungai Nyireh dekat kampung Pergam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *