Penulis: Medi Hestri, Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
Bekaespedia.com, Tempilang,- Di sela gema Idul Fitri yang masih bergetar lirih di udara, Masjid Al Hidayah Tempilang berdiri sebagai saksi bahwa kekuasaan, pada akhirnya, akan selalu kembali mencari makna di hadapan rakyatnya.
Selasa (31/3/2026), ruang ibadah itu tak sekadar menjadi tempat bersujud, melainkan panggung tempat seorang wakil bupati merangkai dirinya sendiri bukan sebagai pejabat administratif, tetapi sebagai narasi hidup yang ingin dikenang.
Di sana, Yus Derahman tidak datang membawa angka-angka capaian, tidak pula memamerkan proyek-proyek besar. Ia hadir dengan sesuatu yang lebih halus yaitu kehadiran itu sendiri.
Di situlah kebijakan paling kuat bekerja.
Kegiatan Halal Bihalal Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) SD Kecamatan Tempilang menjadi momentum strategis yang mempertemukan para pemangku kepentingan pendidikan dari guru desa, kepala sekolah, hingga pemerintah daerah. Dalam forum itu, H. Yus Derahman menegaskan pentingnya kebersamaan sebagai fondasi membangun kualitas pendidikan.
Namun di balik pernyataan normatif tersebut, terselip pesan yang lebih dalam bahwa ia sedang memposisikan dirinya sebagai bagian dari denyut pendidikan itu sendiri.
Bukan di atasnya. Bukan pula di luarnya.
Melainkan di dalamnya.
Ketika Yus Derahman berkata,
“Dari tangan bapak dan ibu sekalian lahir generasi masa depan,” kata H.Yus Derahman dengan penuh nada keyakinan.
ia tidak hanya sedang berbicara kepada guru.
Ia sedang berbicara kepada sejarah.
Kalimat itu adalah bentuk pengakuan. bahwa legitimasi kekuasaan tidak lahir dari jabatan, tetapi dari keberpihakan. Dari siapa yang ia pilih untuk dihargai.
Dalam lanskap komunikasi politik, ini adalah strategi yang nyaris tak terlihat merendahkan posisi diri untuk meninggikan posisi rakyat.
Dari sana, kepercayaan perlahan dibangun.
Di antara para guru yang duduk bersila di lantai masjid, tersimpan cerita yang tak pernah masuk laporan resmi.
Ada yang menempuh jalan berlumpur setiap pagi.
Ada yang mengajar dengan buku usang.
Ada yang diam-diam membeli alat tulis untuk muridnya sendiri.
Dan di antara mereka, suara Dwi Retno Widihastuti terdengar jernih:
“Menjadi guru di sini bukan hanya soal mengajar, tapi juga bertahan.” ungkap Dwi Retno Widihastuti.
Kalimat itu menggema lebih kuat dari pidato mana pun.
Ia adalah fakta.
Ia adalah luka.
Sekaligus, ia adalah panggung tempat seorang pemimpin diuji apakah ia sekadar mendengar, atau benar-benar melihat.
Dalam konteks ini, kehadiran Yus Derahman bukanlah kebetulan administratif. Ia adalah pilihan sadar sebuah langkah politik yang dibungkus dalam kesederhanaan.
Ia berdiri di antara guru, bukan di podium tinggi.
Ia berbicara dengan nada rendah, bukan retorika yang menggelegar.
Dan dari sana, citra itu tumbuh:
Pemimpin yang mendengar
Figur yang merasakan
Tokoh yang hadir, bukan sekadar muncul
Inilah bentuk personal branding berbasis empati di mana kedekatan menjadi mata uang utama.
Realitas pendidikan di wilayah seperti Tempilang bukanlah cerita baru. Dalam kajian Pendidikan Dasar, ketimpangan antara pusat dan pinggiran telah lama menjadi persoalan struktural.
Laporan UNESCO menegaskan bahwa kualitas pendidikan di wilayah rural sangat ditentukan oleh solidaritas komunitas dan keterlibatan pemerintah lokal.
Sementara itu, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia menyoroti pentingnya forum kolaboratif seperti K3S dalam memperkuat kualitas pembelajaran.
Namun di Tempilang, narasi itu tidak hanya dibaca.
Ia dihadiri.
H. Yus Derahman tampak memahami satu hal penting bahwa siapa yang mampu “hadir” dalam narasi ini, dialah yang akan memiliki legitimasi moral di mata masyarakat.
Ceramah yang disampaikan oleh Abd. Aziz dari Majelis Ta’lim Anwarul Jelitik menjadi pengikat spiritual dalam acara tersebut.
Tema silaturahmi bukan hanya nilai agama, tetapi juga instrumen sosial.
Dalam konteks pencitraan, religiusitas memberikan legitimasi tambahan bahwa pemimpin bukan hanya bekerja secara administratif, tetapi juga selaras dengan nilai-nilai moral masyarakat.
H. Yus Derahman berdiri tepat di titik temu itu.
Ketika doa ditutup dan tangan-tangan saling menggenggam dalam maaf yang tulus, satu hal menjadi terang bahwa H. Yus Derahman tidak sedang menghadiri acara.
Ia sedang menulis dirinya sendiri.
Sebagai:
Pemimpin yang membumi
Wajah kekuasaan yang berempati
Simbol harapan dari pinggiran
Figur yang memahami bahwa pendidikan bukan proyek, melainkan perjuangan
Dalam dunia politik yang sering bising oleh janji, ia memilih jalan yang lebih sosial untuk hadir, mendengar dan perlahan membangun makna.
Mungkin, justru dari kesunyian itulah, citra paling kuat dilahirkan.
