Suasana Awal Pengasingan di Gunung Menumbing

Ruang Tidur Muhammad Hatta di Pesanggrahan Menumbing

 

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH *)

Setelah pesawat pembom B-25 Mitchell yang membawa pemimpin Republik Indonesia dari Lapangan Udara Maguwo Yogyakarta pada Tanggal 22 Desember 1948 mendarat di Lapangan udara Kampung Dul Pangkalpinang Bangka pada pukul 13.45, Drs. Muhammad Hatta (Wakil Presiden), Suryadarma (Komodor Udara), AG. Pringgodigdo (Sekretaris Negara) dan Mr. Assaat (Ketua BP KNIP) diperintahkan turun dan rombongan kemudian diangkut menggunakan 2 mobil, dikawal sebuah Jeep dengan tentara bersenjata dan diikuti sebuah truk berisi tentara Corps Speciale Troepen lengkap bersenjata. Setelah menempuh perjalanan selama hampir 4 jam, tepatnya jam 18.30, iring-iringan berhenti di depan sebuah bangunan kosong di puncak Bukit dekat Kota Mentok Bangka (Gunung Menumbing). Bangunan tempat pengasingan pemimpin Republik, pada awalnya adalah Berghotel Menumbing, dibangun oleh perusahaan BTW (Bankatinwinning), pada Tahun 1927-1930 dan diresmikan penggunaannya pada Tanggal 28 Agustus 1928, pada saat kepala BTW dijabat oleh J.G. Bijdendijk. Kondisi bangunan pada saat awal kedatangan pemimpin Republik tampak terabaikan selama bertahun-tahun dan lusuh serta menyedihkan. Mereka diasingkan di Lantai pertama gedung, terdapat ruang duduk, sebelah kiri bersambung dengan satu kamar tidur, dan sesudah itu kamar mandi, di sebelah kanan bersambung pula dengan satu kamar tidur, yang tidak ada kamar mandinya. Kepala pemerintahan Mentok Abidin sudah menunggu di lantai dua bersama seorang pensiunan kopral KNIL dari Jawa. Mereka menunjukkan kamar tidur dengan empat tempat tidur (Mulyana, dkk, 2003:14). Beberapa renovasi sedang dilakukan, pintu dan jendela baru dicat (masih basah) tetapi lantainya tidak tersapu dan tidak ada lampu listrik atau air yang mengalir. Tidak ada satu pun perabot yang terlihat, bahkan kursi untuk diduduki. Malam pertama itu rombongan Drs. Muhammad Hatta makan roti sambil berdiri di sekitar lampu minyak kecil. Untuk perlengkapan tidur masing-masing menerima kasur, bantal, selimut dan kelambu. Kelambu tidak bisa dipakai karena tidak ada tali dan paku untuk memasangnya. Tentu saja tidak ada kesempatan mandi karena tidak ada air. Dirgahayu Republik Indonesia, 17 Agustus 1945-17 Agustus 2025.

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Sumber : Buku Kenang Mengenang Membawa Kemenangan, karya Akhmad Elvian dan Ali Usman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *