Karya: Sudarman
Ini dimulai dari:
Sebuah negeri dongeng,
seribu malam saja—satunya ngumpet.
Di balik ketiak hak asasi,
figur orang tua sejati.
Begitu dicinta,
kasih penghuni TPU lama.
Ia mengutip kurva yang takarannya mati
tersumpal,
selir maya dalam nominal.
Wah,
liurnya menjalar sampai ke muka.
Malu demi urusan perut,
bukan moral.
Setitik pengesahan yang berujung kesalahan—banjir pujian setan.
Oh,
beliau mengelak demi dalih: “pemerataan.”
Sabar dulu teman, ijinkan dia menjelaskan—setidaknya
menyingkap kesalahan
yang dibungkus tabir:
“Wajar, manusia biasa.”
Biarkan langkah bualnya tersudut,
merangkak,
sampai kencana terbang,
menipu sanubari yang kalut,
seraya menguap:
“…Sekain gila kafan-kafan.
Eh, ralat.
Sekian lagi kapan-kapan, maksudnya…”










