Editor : Belva Al Akhab
Bekaespedia.com, Surabaya,- Di hadapan ratusan anak yang memenuhi Balai Pemuda Surabaya, sosok Abdul Mu’ti tak tampil sebagai pejabat negara. Ia hadir sebagai seorang anak desa yang pernah memupuk mimpi dari tempat sederhana hingga akhirnya dipercaya memimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Kisah inspiratif itu disampaikan Abdul Mu’ti dalam sesi Kelas Inspiratif yang menjadi bagian dari puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026. Melalui perjalanan hidupnya, ia ingin menunjukkan bahwa setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk menggapai cita-cita, selama berani bermimpi, tekun belajar dan tidak menyerah menghadapi kegagalan.
” Beberapa kuncinya adalah 3 S, yakni sungguh-sungguh, sabar dan sederhana, insyaallah akan sukses,” kata Abdul Mu’ti membuka kisahnya.
Prinsip sederhana itu, menurutnya, menjadi fondasi yang mengantarkannya melewati berbagai fase kehidupan. Terlahir dan tumbuh di sebuah desa di Kudus, Jawa Tengah, tidak pernah membuatnya merasa kecil untuk memiliki impian besar.
Benih mimpi itu tumbuh ketika dirinya masih duduk di bangku madrasah ibtidaiyah. Seorang guru memperkenalkannya pada pelajaran bahasa Inggris, yang kemudian memunculkan rasa ingin tahu begitu besar. Keinginan belajar semakin menggelora setelah ia mengetahui adanya buku English from Radio Australia.
Dengan keberanian yang saat itu mungkin tak dimiliki banyak anak seusianya, Abdul Mu’ti menulis surat ke Australia untuk meminta buku tersebut. Tidak disangka, surat itu mendapat balasan. Buku yang diimpikannya pun tiba dan menjadi teman belajar yang menemaninya setiap hari.
Dari lembar demi lembar buku itulah lahir cita-cita untuk suatu saat dapat menempuh pendidikan di Australia. Mimpi itu terus dirawat melalui kebiasaan membaca, belajar dan mengasah kemampuan bahasa Inggris hingga akhirnya menjadi kenyataan.
Namun perjalanan menuju impian tidak selalu berjalan mulus. Abdul Mu’ti mengaku pernah gagal mendapatkan kesempatan melanjutkan studi ke Inggris. Meski demikian, kegagalan tidak membuatnya berhenti melangkah. Ia kembali mengajar, memperdalam ilmu, dan terus meningkatkan kemampuan hingga akhirnya memperoleh beasiswa dari Pemerintah Australia untuk melanjutkan pendidikan magister.
Menurutnya, setiap mimpi harus dibangun di atas tiga fondasi penting.
” Kuncinya yang pertama adalah ilmu. Kemudian yang kedua adalah doa, terutama doa orang tua. Kemudian yang ketiga adalah percaya diri,” ujarnya.
Selain aktif belajar, Abdul Mu’ti juga menempa diri melalui berbagai organisasi sejak sekolah hingga perguruan tinggi. Saat menempuh studi di Australia, ia dipercaya menjadi President Islamic Association of South Australia, pengalaman yang memperluas wawasan sekaligus menguatkan kepercayaan dirinya untuk berkiprah di tingkat internasional.
Di penghujung sesi, Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa tidak ada alasan bagi anak Indonesia untuk berhenti bermimpi hanya karena keterbatasan. Ia percaya, masa depan bangsa berada di tangan generasi muda yang mau belajar dan berani bangkit dari setiap kegagalan.
” Bercita-citalah dan bermimpilah. Mimpi adalah kunci untuk menaklukkan dunia seperti lirik dalam lagu ‘Laskar Pelangi’. Saya yakin kalian semua akan bisa lebih hebat dari Pak Menteri. Kalianlah pemimpin Indonesia masa depan, bahkan bisa menjadi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah pada tahun-tahun yang akan datang,” pesannya yang disambut tepuk tangan meriah.
Kisah Abdul Mu’ti menjadi salah satu momen paling menginspirasi dalam peringatan Hari Anak Nasional 2026. Perjalanan seorang anak desa yang berani menulis surat ke Australia hingga akhirnya duduk di kursi menteri menjadi bukti bahwa mimpi besar bisa lahir dari mana saja. Dengan kesungguhan, kesabaran, kesederhanaan, ilmu, doa dan rasa percaya diri, setiap anak Indonesia memiliki peluang yang sama untuk mengubah masa depan dan memberi manfaat bagi bangsa. (Belva/NH)
