Oleh : Sukma Wijaya
Tatkala malam menyimpan rahasia,
Bintang berbisik di lengkung angkasa,
Lahir Sang Nabi, rahmat bagi semesta,
Menyingkap tabir antara fana dan baka.
Di tanah tandus tumbuhlah cahaya,
Dari lembah sunyi ke penjuru dunia,
Muhammad al-Amin, junjungan mulia,
Namanya harum melampaui segala masa.
Bukan sekadar gema di balai suara,
Bukan sekadar pelita menghias acara,
Maulid ialah cermin menilik bicara,
Apakah cinta menjelma menjadi laku nyata.
Baginda meniti jalan penuh derita,
Namun kasih tak pernah susut di dada,
Batu dibalas doa, cela dibalas cinta,
Demikian akhlak mengalahkan angkara.
Tatkala dunia mabuk mengejar kuasa,
Tatkala dusta bersolek menjadi wacana,
Sunnah Baginda tetap jernih bercahaya,
Laksana pelita di lorong zaman yang buta.
Selawat berlayar dari bibir manusia,
Menyeberangi malam menuju Yang Esa,
Kami tiada membawa harta maupun daya,
Hanya cinta dan harap pada syafaat Baginda.
Luruhkan takbur dari singgasana jiwa,
Padamkan dendam sebelum menjadi bara,
Sebab cinta Rasul bukan hiasan kata,
Ia darah yang mengalir menjadi akhlak mulia.
Jika kelak segala yang fana sirna,
Jika nama dan pangkat tinggal cerita,
Biarlah selawat menjadi bekal setia,
Moga bertemu Sang Junjungan di taman baka.
12 Rabiul’awal 1448 H












