Tanah Derita di Balik Kursi Kuasa

 

Novel Fiksi

Oleh: Belva

Bekaespedia.com, Mentok selalu bangun lebih dulu dari matahari. Kabut tipis menggantung di sela pepohonan, menggeliat pelan di antara jalan-jalan yang belum sepenuhnya terbangun dari tidur. Suara burung, biasanya, menyambut pagi. Tapi hari itu, suara mesin lebih dulu menyalak.

 

Brrrrrrrkkrrr!

 

Raungan yang tak lazim dari balik hutan, tak jauh dari gedung megah yang berdiri gagah: Kantor Pemerintah Kabupaten Bangka Barat.

 

Di ruangan ber-AC yang sejuknya membekukan logika, para lelaki berjas duduk manis. Di depan mereka: kertas. Di belakang mereka: tanah menganga.

 

Gedung itu seperti kastil dari dongeng modern. Jendelanya besar dan bersih, mungkin terlalu bersih untuk melihat kenyataan yang terjadi tepat di belakang dindingnya. Seperti menatap masa depan, katanya. Tapi masa depan tampak keruh seperti air yang tergenang di helm para penambang ilegal.

 

Setiap tanda tangan yang mereka bubuhkan menjadi semacam mantra. Bukan untuk menyelamatkan, tapi untuk menenangkan nurani yang sudah lama mati suri. Di luar, batang-batang pohon berjatuhan seperti martir tanpa upacara pemakaman.

 

Badri Syamsu, Ketua DPRD Bangka Barat, menatap layar ponsel yang menampilkan siaran berita lokal. Suaranya muncul dengan jeda panjang dan nada berat.

 

“Ini pengkhianatan… terhadap hutan, terhadap tata kelola, terhadap akal sehat!”

 

Kalimat itu menggema. Tapi seperti gema dalam gua kosong—lantang namun tidak menjangkau siapa pun.

 

Rapat-rapat tetap berjalan. Mikrofon tetap menyala. Tapi di luar sana, tanah digerus, akar dicabut, batang ditebang. Hutan lindung yang dahulu disebut paru-paru kota kini tinggal sekarat di ICU.

 

Hutan di belakang kantor Pemkab adalah kawasan lindung, setidaknya di atas kertas. Di lapangan, ia telah jadi semacam ‘ATM darurat’ bagi pihak-pihak yang tahu cara bermain dalam senyap.

 

Tiap ekskavator yang menggali seolah mengorek satu demi satu janji pemerintahan: tentang pelestarian, tentang pembangunan berkelanjutan, tentang cinta pada tanah air. Semua itu diganti dengan satu hal yang lebih nyata: keuntungan cepat.

 

Warga setempat tahu. Mereka selalu tahu. Tapi mereka juga tahu siapa yang harus mereka hindari. Dan siapa yang tak mungkin mereka lawan.

 

Di ruang lobi gedung pemerintahan, tergantung semboyan besar berwarna emas:

“Menuju Pemerintahan yang Bersih dan Berwibawa.”

 

Kalimat itu berdiri gagah, seperti saksi bisu atas ironi yang menjelma di balik tembok.

 

Satu-satunya yang bersih di ruangan itu mungkin hanya meja marmernya. Dan satu-satunya yang berwibawa, hanya suara mesin tambang yang tak pernah bolos absen harian.

 

Para pejabat bicara tentang regulasi, tentang ketegasan, tentang penindakan. Tapi di luar jendela, hutan terus dicabik. Sebab pada akhirnya, hukum yang terlalu sering didiskusikan tanpa keberanian akan jadi seperti anjing tua: hanya menggonggong ke arah yang salah.

 

Malam turun perlahan. Lubang di belakang kantor makin dalam, makin lebar. Tak ada pita kuning garis polisi. Tak ada plang peringatan. Yang ada hanyalah bunyi mesin dan cahaya temaram lampu kerja yang menyinari wajah-wajah yang tak pernah mau ditampilkan di layar berita.

 

Mentok, kota yang dahulu dikenal dengan sejarah perlawanan kolonial, kini tengah dijajah ulang oleh ketamakan. Bukan oleh bangsa asing, tapi oleh orang-orang yang menyebut diri sebagai wakil rakyat.

 

Tak ada upacara pemakaman untuk hutan yang mati. Tak ada tangisan dari pejabat yang mengenakan pakaian hitam. Tapi di setiap pohon yang tumbang, di setiap akar yang tercabut, negeri ini kehilangan satu hal yang dahulu membuatnya besar: rasa malu.

 

Jika hutan di balik kantor pemerintahan saja tak bisa dijaga, bagaimana nasib ladang di ujung kampung? Jika pengawasan kalah oleh kekuasaan, hukum ini sejatinya melindungi siapa?

 

Masyarakat melihat semua ini. Bukan karena mereka bodoh, tapi karena mereka terlalu sering ditertawakan ketika bertanya. Mereka tahu tambang itu tak mungkin berdiri tanpa restu. Mereka tahu mata yang pura-pura buta, dan telinga yang memilih mendengarkan lagu kebangsaan untuk menutupi deru mesin tambang.

 

Di balik kursi kuasa, tanah menangis. Dan negeri ini, perlahan-lahan, kehilangan suaranya sendiri.

Exit mobile version