Tanah yang Luka: Nyanyian Terakhir dari Belakang Kantor

Sebuah novel fiksi, penulis Belva

Pagi itu, kabut turun seperti sisa-sisa harapan yang dikirimkan oleh musim. Di belakang bangunan megah Pemkab Bangka Barat yang berdiri dengan tiang-tiang beton dan janji pembangunan ada sepetak hutan lindung yang sejak dulu diam-diam menjaga keseimbangan. Ia tidak bersuara, tidak menuntut, hanya berdiri. Tapi kini, akar-akarnya robek, dan batang-batangnya rebah satu demi satu seperti rakyat yang kehilangan pegangan, Senin (14/07/2025).

 

Tanah itu tidak berteriak. Tapi deritanya membekas di udara, di suara burung yang pergi, di air yang mulai keruh, di dahan yang patah tanpa angin.

 

Di dalam gedung yang dindingnya tebal dari suara rakyat, Tuan Derahman, Wakil Bupati yang mulai jemu dengan rapat tanpa makna menatap jendela. Ia tahu, hutan di belakangnya bukan hanya latar panorama, tapi penjaga sunyi yang kini tengah disayat tambang ilegal yang rakus seperti politik tanpa etika.

 

“Sudah cukup,” gumamnya lirih, seperti berbicara pada nuraninya sendiri.

 

Dikumpulkannya para pemegang seragam dan lambang: polisi, TNI, jaksa, satpol, pengelola hutan. Ia tak minta mereka hadir sebagai birokrat, tapi sebagai manusia.

Dan di antara mereka, lahirlah satu nama baru:

Satgas Tambang Ilegal.

 

Di sisi lain, seorang ibu penjaga warung kecil dekat kantor bupati, menanak air di atas bara yang nyaris padam. Ia berkata kepada anaknya yang memeluk buku sekolah:

 

“Dulu, belakang kantor itu tempat kami mencari pucuk rebung. Sekarang, yang tumbuh cuma lubang dan kebohongan.”

 

Ia tahu benar, tambang-tambang ilegal bukan hanya membuat hutan hilang, tapi menghapus masa depan perlahan-lahan.

 

Dan Derahman yang rakyat mulai panggil diam-diam sebagai “Pemangku Tanah Belakang” tidak hanya ingin mengeluarkan surat edaran. Ia ingin melihat sendiri, menyusuri sendiri, menyentuh luka tanah dengan sepatu yang kotor, bukan hati yang bersih pura-pura.

 

“Kita terlalu lama bicara. Sekarang waktunya berjalan,” ucapnya. Kalimat yang sederhana, tapi diucapkan di negeri yang lebih gemar rapat daripada bertindak, ia menjadi mantra perubahan.

 

Langkahnya tak hening, tapi tak ramai. Ia datang membawa rencana, tapi juga dendam atas pengkhianatan.

Bukan dendam pribadi, melainkan dendam ekologis atas tanah yang dikhianati oleh pasal yang dilemahkan, oleh tanda tangan yang dibeli dengan emas abu-abu.

 

Ia tak membawa senjata, hanya tekad dan peta hutan yang belum sempat di licinkan para makelar.

 

Malamnya, Mentok tak hanya mendengar suara jangkrik. Ada suara gemuruh: kabar razia, kabar patroli, kabar bahwa mungkin, mungkin saja, ada seseorang yang masih berani melawan kepungan tambang yang menyaru pembangunan.

 

Tapi di warung kopi, seorang tukang ojek menghela napas dan berkata:

 

“Ah, nanti juga diam lagi. Seperti biasa.”

 

Ia tak sinis. Ia hanya terlalu sering berharap dan terlalu sering dikecewakan.

 

Tapi berbeda dengan pemimpin sebelumnya, Derahman tahu:

Jika kita tak bisa menyelamatkan seluruh hutan, setidaknya selamatkan pohon terakhir yang masih berdiri.

Jika kita tak bisa membuat pelaku takut hukum, setidaknya kita buat mereka tahu: ada yang tidak tunduk pada ketamakan.

 

Di belakang kantor itu, tanah masih basah. Tapi bukan hanya oleh lumpur,

melainkan oleh keringat dari mereka yang masih percaya: bahwa keadilan bisa tumbuh, meski hanya setinggi ilalang.

 

Dan malam itu, hutan di belakang gedung Pemkab Bangka Barat bermimpi. Ia bermimpi bukan menjadi taman kota, bukan menjadi lahan sawit, bukan menjadi lembar konsesi. Tapi menjadi hutan, seperti dulu, di mana suara burung lebih nyaring dari suara alat berat.

 

Jika esok masih ada pohon yang tumbuh, itu bukan karena dunia baik-baik saja. Tapi karena seseorang berani melangkah di belakang gedung,

ketika yang lain hanya sibuk di dalamnya.

Exit mobile version