Tantangan Pendidikan Karakter Peserta Didik di Indonesia

Oleh Rudiyanto, S.Pd.,Gr

Guru Pendidikan Agama Islam Bangka Selatan

Perkembangan arus globalisasi dan pertumbuhan dunia Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK) menimbulkan tantangan tersendiri bagi perkembangan moral dan karakter para peserta didik di Indonesia. Sebagai pendidik yang profesional hendaknya senantiasa mengedepankan aspek afektif (sikap) dan karakter anak. Pendidik tidak boleh hanya fokus kepada aspek kognitif (pengetahuan) dan psikomotorik (keterampilan) anak. Akan tetapi, aspek afektif (sikap) dan karakter lah yang memiliki porsi terbesar dalam menunjang kesuksesan anak di masa mendatang. Anak-anak yang memiliki afektif (sikap) dan karakter yang baik, cenderung memiliki kemampuan kognitif (pengetahuan) dan psikomotorik (keterampilan) yang memadai. Sementara anak-anak yang memiliki kognitif (pengetahuan) dan psikomotorik (keterampilan) yang baik, belum tentu memiliki afektif (sikap) dan karakter yang baik. Dalam persepektif Islam, seseorang yang memiliki adab atau akhlak yang baik, kedudukannya lebih tinggi dibanding dengan seorang ahli ilmu. Oleh karena itu, mindset kita sebagai pendidik hendaknya senantiasa mengedepankan aspek-aspek sikap moral dan karakter ditengah-tengah zaman yang penuh tantangan ini.

Menurut hemat penulis, secara lebih rinci beberapa indikator tantangan pendidikan karakter peserta didik di Indonesia saat ini adalah sebagai berikut:

1. Fomo

Tantangan pendidikan karakter peserta di Indonesia saat ini adalah tumbuhnya generasi-generasi fomo (fear off missing out) atau secara sederhana dapat diartikan sebagai generasi yang cenderung tidak bisa dilepaskan dari pengaruh konten-konten media sosial. Dampak buruknya adalah anak-anak menjadi kecanduan dengan konten-konten media sosial dan mengabaikan hal-hal lain yang lebih penting seperti belajar, mengaji, olahraga dan lain sebagainya

2. Generasi Stawberry

Generasi strawberry adalah generasi yang memiliki mental yang lemah. Anak-anak strawberry cenderung senantiasa di manja oleh kedua orang tuanya. Sehingga dampak buruknya adalah anak tersebut tidak dapat hidup mandiri dan tidak dapat memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapinya

3. Sikap Apatis

Akibat dari kecanduan gadget dan media sosial, anak-anak zaman sekarang cenderung memiliki sikap apatis atau tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Sehingga dampak buruknya adalah, anak-anak tersebut akan menjadi pribadi yang kesulitan bersosialisasi dan menjadi pribadi yang introvert

3. Konten Negatif

Konten-konten yang bertebaran di media sosial dapat menimbulkan dampak negatif bagi perkembangan sikap dan karakter anak. Beberapa oknum peserta didik bahkan terlibat dalam judi online, cyber bullying, penyebaran berita bohong atau hoax dan lain sebagainya

4. Sulit Fokus dan Menurunnya Daya Tahan Belajar

Anak-anak zaman sekarang inginnya belajar dan memperoleh jawaban secara instan. Dengan demikian para peserta didik cenderung mengambil jalan pintas melalui gadgetnya untuk memenuhi tugas belajarnya. Sehingga pengalaman belajarnya berkurang dan anak tersebut akan hilang fokus serta daya tahan belajarnya menurun

5. Malas Berpikir

Kehadiran gadget yang memudahkan segala urusan manusia sering disalah artikan oleh para peserta didik. Kemudahan mencari jawaban melalui gadget akan membuat para peserta didik malas berpikir. Padahal notabenenya, jawaban yang didapatkan melalui gadget tersebut memerlukan pemahaman dan analisis

6. Pola Hidup Tidak Sehat

Penggunaan gadget yang berlebihan akan mempengaruhi kesehatan fisik seseorang. Para peserta didik yang tidak dapat mengontrol penggunaan gadgetnya, akan memiliki masalah kesehatan fisik seperti gangguan mata, obesitas dan lain sebagainya

7. Gangguan Mental

Penggunaan gadget yang berlebihan akan mempengaruhi mental seseorang. Jari jemari dengan mudahnya mengumpat orang lain, adu domba, provokasi dan lain sebagainya.

Pada akhirnya, pendidik dan stakeholder pendidikan serta mitra hendaknya senantiasa dapat melakukan berbagai upaya dan tindakan preventif (pencegahan) terhadap tantangan-tantangan pendidikan karakter peserta didik tersebut. Sehingga generasi mendatang akan menjadi generasi yang berkarakter dan cerdas serta mampu berdaya saing.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *