Oleh: Refani Aulia (Siswa SMP Stania, Koba)
“Masa… baca gitu aja gak bisa sih Gren!”
Teringat kata-kata itu aku terdiam diri membeku mengeras tidak bisa berbicara apapun. Aku benci buku, aku benci membaca. Orang-orang hanya bisa tahu aku tidak bisa membaca namun aslinya aku melihat huruf-huruf itu seperti bergerak ke sana kemari berlarian tak tahu kemana.
Aku sudah mengembara ke sana kemari berpindah tempat les satu hingga lainnya. Aku sudah lelah. Ibu berusaha untuk diriku agar aku bisa, ibuku ingin aku sama seperti kakakku dan teman-teman lainnya.
Tidak pernah ada yang memahami diriku lebih dalam kecuali kedua orang tuaku. lbuku yang selalu berusaha agar aku bisa menjadi hebat.
Orang-orang melihat diriku seperti angin badai, orang-orang mengira aku pemalas tetapi orang-orang tidak tahu bagaimana rasanya jadi diriku.
Saat aku sudah memasuki sekolah menengah pertama aku merasa kebingungan. Pelajaran di sana menggunakan mata pelajaran sedangkan pas SD belajar dengan cara tematik.
Ibuku berusaha memasukkanku ke sekolah yang terkenal di desaku agar bisa satu sekolah dengan kakakku. Namun baru dua hari ibuku sudah mendapatkan surat. Ibuku diberikan pilihan. Satu, ibu harus memasukan aku ke SLB. Kedua membawa diriku ke psikolog.
Pagi itu sangat cerah, suara burung bernyanyi di pagi hari. Suara tangan dan kaki ibuku terdengar dari luar. Pagi itu ibu bukan menyiapkan seragam untukku melainkan ia menyiapkan baju dres kesukaanku.
Belum sempat aku bertanya ibuku sudah bilang, “Hari ini kita ke dokter!” Aku pikir ia ingin meminta aku untuk menemaninya.
Sampai di rumah sakit aku melakukan apa kata dokter. Di sana ibuku terdiam seperti membeku mengeras tak berbicara satu kata pun. Ibuku hanya melihat diriku yang sedang diperiksa oleh dokter.
Aku tak tahu apa yang dokter itu katakan, aku hanya melihat dari sudut mata ibuku. Aku menjadi disforio. Setelah apa yang dokter katakan, ibuku keluar dari ruangan itu dan segera memelukku. Aku tak pernah merasakan pelukan hangat itu sebelumnya.
Aku masih terheran-heran mengapa ibu memelukku sangat hangat? Apa yang dokter itu katakan kepada ibuku, “Maafkan ibu Grenly!” Aku bingung mengapa ibu meminta maaf kepadaku, apa yang terjadi di dalam.
“Aku rindu rayuanmu!”
Saat aku memasuki sekolah lagi ternyata guru wali kelas kami Ibu Rea pindah, aku sangat sedih. Guru yang menggantikan adalah Ibu Dea. Aku melihat ia sangat cantik dan anggun, bukan hanya menjadi wali kelas kami, Ibu Dea juga mengajarkan pelajaran Bahasa Indonesia.
Saat Ibu Dea mengajar tiba-tiba Ibu Dea meminta kami untuk membaca. Dari situ aku murung, hilang sudah senyuman manis itu saat sedang bahagia melihat Ibu Dea.
“Mari kita mulai dulu dengan Grenly, ya!” Aku kaget aku berharap Ibu Dea tidak memaksaku.
“Grenly tidak bisa membaca, bu!” jawab Mia temanku itu.
“Tidak apa-apa ibu akan memegang bukunya.”
Tiba tiba Ibu Dea sudah berjalan menuju ke arah mejaku dan duduk di sebelah diriku.
Aku pun terpaksa membaca buku itu walau dengan acak-acakan. Aku melihat huruf-huruf itu bergerak tidak tahu ke mana. Berputar ke sana kemari aku membaca apa yang ada di pikiranku, aku tidak tahu bahkan apa yang ku bacakan.
Ibu Dea memberi buku yang dipegangnya, aku heran saat aku membuka buku itu tulisan huruf-huruf itu tidak bergerak bahkan huruf-huruf di situ bercorak berbeda-beda. Ada huruf yang memakai topi ada huruf yang berbentuk hewan.
Aku bisa membacanya walau terbata-bata, “AKU BISA MEMBOLAK-BALIK HURUF INI,” aku membaca satu kata persatu kata.
“Wah ternyata Gren bisa membaca, hebat Gren!” puji Ibu Dea kepadaku.
Siapa yang memberitahu Ibu Dea aku tidak bisa membaca huruf-huruf biasa. Apakah ibuku kenal dengan Ibu Dea. Aku masih heran dari mana Ibu Dea tahu dengan ibuku. Juga dari mana ibu tahu bahwa Ibu Dea akan mengajar di sini. Aku masih kebingungan mengapa Ibu Dea tahu aku tidak bisa membaca. Setelah pergi ke dokter pada hari itu ibu selalu mengajakku untuk menempelkan huruf-huruf berwarna dirumah. Bahkan menyusun huruf-huruf itu.
BAHASA MENYATUKAN KITA
Ternyata saat aku ke dokter pada hari itu, aku mengalami disleksia atau tidak bisa melihat huruf biasa, kekurangan inilah yang membuat diriku tidak bisa membaca huruf-huruf biasa tapi aku bisa membaca huruf huruf yang berwarna dan unik.
Sekarang aku menjalankan kehidupan sehari-hariku dengan gembira bahkan aku bisa mendapat teman yang baik di sana. Semua temanku memiliki kekurangan juga, aku sekarang tak merasa malu kalau aku memiliki kekurangan.
Setelah beberapa bulan, sekitar sembilan bulan Ibu Dea dipindahkan ke sekolah lain. Tentu aku sangat sedih. Ibu Dealah yang mengajar diriku membaca. Sabar menghadapiku saat aku tak bisa membantu menyusun kata hingga kalimat, bahkan ia menyediakan buku khusus untukku yang isinya huruf-huruf berwarna dan berkarakter.
Ternyata ibuku bisa kenal dengan ibu Dea karena Ibu Dea adalah sahabat waktu kecil ibuku. Mereka masih berkomunikasi hingga sekarang. Ternyata Ibu Dea paham apa itu disleksia bahkan ia tahu bagaimana cara mengajar diriku yang paling ampuh. Bahkan ia sampai membuat buku khusus hanya untuk diriku.
Terimakasih Ibu Dea dan ibu, sekarang aku bisa membaca walau lamban. Sekarang aku suka membaca, aku suka buku bahkan aku di rumah belajar menggunakan buku pemberian ibu Dea.
Sampai sekarang aku masih bertemu dengan Ibu Dea bahkan bukan cuma untuk belajar tetapi hanya pergi bermain-main walau hanya mengobrol santai di restoran bahkan hingga liburan bersama-sama. Setiap orang ada masanya setiap masa ada orangnya.
Buku itu bukan hanya sebagai buku pembelajaran namun juga sebagai kenangan yang sangat indah. Jika waktu bisa diputar aku hanya ingin mengulangi kenang-kenangan yang indah saat aku pertama kali bertemu ibu Dea.
Sekarang ibuku sudah menerima kekuranganku bahkan ia tidak pernah memaksaku untuk belajar hingga les ke sana kemari. Bahkan ia sabar menghadapi diriku jika aku tidak bisa. Jika ada orang yang berusaha semampu mungkin itu hanya ibuku, yang rela mengeluarkan uang demi diriku. Ini buka soal uang melainkan tentang berusaha semaksimal mungkin. (BP/ KM)*
Cerpen ini merupakan karya peserta Lomba Menulis Cerpen dalam rangka memperingati Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia, Bangka Tengah di Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 23 Oktober 2025.












