Oleh: Sahratul Syita (Siswa SMP Negeri 1 Sungaiselan)
Aku adalah murid baru dari Jambi. Ayahku baru satu minggu dipindahkan ke Bangka Belitung lebih tepatnya di Desa Sungaiselan. Kepindahan kami membuat aku dan saudaraku harus di sekolahkan di tempat yang baru. Aku di sini disekolahkan di SD Negeri 3 Sungaiselan, di sana aku bertemu dengan teman lamaku yang bernama Viana dan Alia. Ternyata mereka di kelas 6.B dan kebetulan aku sekelas dengan mereka. Mereka datang menghampiriku.
“Ehh, Aifah. Kamu sekolah di sini, bukannya kamu sekolah di Jambi?” Tanya Viana.
“Iya, kamu sejak kapan pindah kesini?” Tanya Alia.
“Aku baru pindah satu minggu yang lalu disini, baru kemarin aku didaftarkan di sekolah sini oleh orang tua ku. Dan hari ini aku masuk sekolah,” jawabku.
“Oh, pantesan. Oh ya kamu di kelas berapa?” Tanya Viana.
“Katanya di kelas 6.B,” jawabku.
“Oh, berarti kita sekelas dong, mari aku hantarkan kamu ke kelas!” Ucap Viana.
Akupun dihantarkan oleh Viana dan Alia ke ruangan kelas 6.B, dan kebetulan bel masuk sudah dibunyikan. Aku sampai di ruangan kelas 6.8 ternyata Viana tidak ada teman sebangku jadi Viana menyuruhku untuk duduk disampingnya. Tiba-tiba ada seorang guru yang datang dan masuk ke dalam kelas.
“Selamat pagi, Anak-anak!” Ucap guru itu.
“Pagi, Bu.” Jawab kami serentak.
“Oke, sebelum kita memulai pelajaran kita hari ini. Kita kedatangan murid baru, ayo Nak silakan ke depan.” Ucap guru itu.
Akupun ke depan dan sedikit gugup dihadapan murid banyak seperti ini. Aku mencoba memberanikan diri untuk memperkenalkan diri.
“Hallo, semuanya. Perkenalkan namaku, Aifah pindahan dari Jambi. Salam kenal!” Ucapku.
“Hallo, Aifah.” Jawab mereka yang menjawab salamku.
“Oke, Aifah silakan kembali balik ke tempat dudukmu. Oh ya kenalkan nama Ibu, Bu Selena. Semoga kamu betah yah disini,” ucap Bu Selena.
“Baik, Bu,” jawabku.
Setelah beberapa jam kemudian bel istirahat pun berbunyi. Aku, Viana dan Alia pergi ke kantin untuk membeli jajanan. Tiba-tiba ada dua murid yang datang menghampiri kami bertiga.
“Eh, siape name die ni?” Tanya murid.
“Nama dia, Aifah. Kenapa emangnya?” Tanya Viana kepada murid itu.
“Dak dek, cuman nanya,” jawab murid itu.
Tiba-tiba murid itu melemparkan bekas es minumannya ke arahku dan Alia bertanya lagi kepada murid itu.
“Hey, apa yang ka lakuin. Tengok jadi baseh baju die!” Ucap Alia.
“Emang ku ni peduli, bier bai cem tu die pantes dapet e. HAHAHA,” ucap murid itu
“Eh, Maurin minta maaf dek kek Aifah.” Ucap Viana
“Males ku nek minta maaf kek budak yang sok sok culun cem tu!” Ucap Maurin
“Ishh, dah budak mimang nian lah. Fah, kamu tidak apa-apa??” Tanya Viana
“Aku tidak apa-apa kok!” Jawabku
“Yuk, kite bersihin baju ka luk!” Ucap Alia
Setelah Viana dan Alia membantuku membersihkan bajuku yang ketumpahan air es bekas mereka, kami balik ke kelas. Sesampainya kami di kelas tiba-tiba tasku dilempar dan dimainkan oleh Maurin dan teman-temannya. Aku berusaha mengambil tasku kembali tapi aku terus di halangi oleh mereka
“Kalian berhenti lah. Kembalikan tasku!” Ucapku
“Dek mau,” ucap mereka.
Tiba-tiba Bu Selena datang dan mengambil tasku.
“Kalian kenapa mainin tas orang, Hah!! Jawab Maurin!” Ucap Bu Selena tegas.
“Kami cuma bercanda, Bu.” Jawab Maurin
“Bercanda? Kalian ini, gak boleh tau kayak gitu sama teman kalian. Kasian loh dia, coba kalian di posisi dia. Pasti dia marah, sudah jangan kayak gitu lagi ya Maurin. Kalo sampai kamu gitu lagi, Ibu akan bawa kamu ke ruangan BK. Minta maaf sama Aifah!” Ucap Bu Selena.
“Baik, Bu. Maaf yah Aifah, dek uleng lagi! Ucap Maurin.
“Iya tidak apa-apa.” Jawabku
“Nah, gitu. Jadi teman baik yah!” Ucap Bu Selena
“Iya, Bu,” jawab kami.
“Eh, ini nasib baik ka. Tengoklah ku bully ka lebih parah!” Ucap Maurin yang mengancam. Aku tak menghiraukan perkataan itu.
Keesokan pagi di sekolah, aku jalan-jalan di depan lapangan sekolah. Aku menghirup udara segar, tiba-tiba ada yang melemparku dengan tanah liat. Ternyata yang melempar tanah itu adalah Maurin. Aku sedikit kesal dengan perbuatan dia kepada ku, aku menghampirinya.
“Eh Maurin sudahlah. Nanti baju aku bisa kotor,” ucapku
“Bier lah baju ka yang kotor, ku dek peduli,” jawab dia.
“Ayo lah kita jadi teman baik aja yah,” ucapku.
“Males ku berteman dengen urang udik kek ka ni, mane sok sok gaul pulik,” ucap dia.
“Ayo lah, kita jadi teman!” Ucapku sekali lagi.
“Dek mau, udah sana. Dek usah ngumong kek ku, ku males ngumong kek ka ini. Urang udik” Ucap dia dan pergi meninggalkanku.
Beberapa saat kemudian bel masuk di bunyikan. Aku segera masuk ke kelas. Ketika aku hendak mau duduk di tempatku, tiba-tiba ada sesuatu yang kotor di mejaku, ternyata ini ulah si Maurin. Memang keterlaluan, aku segera membersihkan mejaku yang kotor karena ulah oleh si Maurin ini. Ternyata Bu Selena sudah masuk ke kelas, dia heran melihatku, ibu bertanya kepadaku.
“Aifah, kamu kenapa, Nak?” Tanya Bu Selena.
“Tidak apa-apa, Bu. Mejaku sedikit kotor, itu saja, Bu.” Jawabku.
“Oh, siapa yang kotorin Nak?” Tanya Bu Selena.
Aku ingin memberitahukan kepada Bu Selena, bahwa Maurin yang mengotorkan mejaku. Tapi nanti Maurin semakin kesal kepadaku. Jadi aku tidak jadi memberitahu kepada Bu Selena.
“Aku tidak sengaja menumpahkan tinta di mejaku, sebab itulah mejaku kotor karena tinta, Bu. Aku minta maaf, Bu.” Ucapku
“Oh, tidak apa-apa lain kali hati-hati ya,” ucap Bu Selena.
“Baik, Bu.”
Aku sebenarnya sudah kesal dengan perbuatan si Maurin itu, tapi aku tidak mau bikin dia tambah kesal lagi kepadaku.
Setelah jam pelajaran berakhir, aku ingin hendak pergi ke kantin bersama Viana dan Alia. Aku tidak sengaja melihat Maurin yang sedang di hadang oleh murid kelas sebelah.
“Yoo lah ku nek lewat!” Ucap Maurin.
“Dek Boleh ka lewat sini!” Jawab murid itu.
“Yoo lah ku bebeli pun dek pacak. Numpang luk!” Ucap Maurin
Tiba-tiba Maurin didorong oleh murid kelas sebelah itu. Aku menghampiri mereka. Dan aku membantu Maurin untuk berdiri.
“Hey, kalian minta maaf sama dia!” Ucapku.
“Dak nek, ka ni siape die. Sok sok jadi pahlawan pulik,” ucap murid itu.
“Aku kawannya, kalian gak boleh dorong teman seperti itu, gak baik. Kalian hargailah teman, jangan bikin orang kesal dengan perbuatan kalian,” ucapku.
“Eleh, mane sok sok kasih nasihat pulik. Eh kami tuh yang berkuasa di sini, nek ape ka hah?” Ucap murid itu.
“Aku laporin kalian ke kepala sekolah,” ucapku.
“Eh, jangan-jangan!” Ucap murid itu.
“Minta maaf sekarang sama Maurin!”
“Kami minta maaf yah, Maurin.”
“Iya, aku maafin. Lain kali jangan kek gitu lah ok!” Ucap Maurin menerima maaf mereka.
“Oke, kami dek kayak gitu lagi dek. Janji.” Ucap murid itu.
Mereka pergi meninggalkan kami, dan Maurin bertanya kepadaku.
“Ka ngape nek nian tulongku?” Ucap Maurin.
“Yah, aku hanya ingin membantu kamu. Kamu kan lagi kesusahan,” ucapku.
“Kamu baik banget kek ku. Maafin ku ok, Fah. Selama ni ku jahet same ka!” Ucap Maurin.
“Tidak apa-apa kok, kamu gak papa kan? Kamu mau dek kawan dengan ku” Tanyaku
“Aku dek mau, bercanda kok. Mau lah!” Ucap Maurin.
“Sampai SMA bersama Viana dan Alia?” Tanyaku sekali lagi.
“Oke, sampai SMA.” Ucap Maurin.
Aku, Maurin, Viana, Alia akhirnya menjadi sahabat baik. Maurin bisa menjadi salah satu bagian dari sahabatku dengan Viana dan Alia, dan kami membuat janji yaitu bisa bersama sampai SMA. semoga persahabatan ini bisa bertahan hingga SMA kelak. (BP/ KM)*
Cerpen ini merupakan karya peserta Lomba Menulis Cerpen dalam rangka memperingati Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia, Bangka Tengah di Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 23 Oktober 2025.












