Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
Bekaespedia.com, Mentok,- Di sebuah pagi yang terhubung oleh jaringan tak kasat mata, layar-layar digital mempertemukan puluhan, mungkin ratusan guru dari berbagai sudut Bangka Barat. Mereka hadir dari ruang-ruang yang berbeda dari sekolah di pesisir hingga daratan, membawa satu kesamaan dalam kegelisahan menghadapi perubahan yang tak pernah menunggu kesiapan.
Di tengah ruang daring itu, suara Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Bangka Barat, Teni Wahyuni, S.E., tidak terdengar sebagai instruksi. Ia hadir sebagai refleksi.
Bukan sekadar membuka webinar “Pembelajaran Digital” pada Selasa (5/5/2026), Teni seakan sedang membuka sebuah percakapan panjang tentang arah pendidikan, tentang bagaimana manusia, tentang teknologi dan masa depan saling berkelindan dalam satu lanskap yang terus berubah.
“Transformasi pendidikan saat ini sedang berlangsung sangat cepat. Teknologi telah mengubah cara kita belajar, cara kita mengajar, bahkan cara peserta didik kita memahami dunia,” ujarnya.
Kalimat itu sederhana, namun menyimpan kegelisahan yang lebih dalam, apakah pendidikan kita sedang mengikuti perubahan atau justru tertinggal di belakangnya?
Di banyak tempat, digitalisasi pendidikan kerap dimaknai sebagai perlombaan perangkat tentang siapa yang paling canggih dan siapa yang paling cepat beradaptasi. Namun Teni memilih jalur yang berbeda.
Baginya, teknologi hanyalah alat. Ia tidak memiliki makna jika tidak dihidupkan oleh kesadaran manusia.
“Yang terpenting bukan hanya pada teknologinya, melainkan bagaimana kita sebagai guru mampu menggunakannya untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna, membangun karakter dan mendorong kreativitas peserta didik,” katanya.
Pernyataan ini menempatkan Teni pada satu posisi yang jarang diambil dalam arus digitalisasi yang serba teknis: ia mengembalikan pendidikan pada akarnya dalam relasi manusia.
Dalam pandangannya, ruang kelas tidak pernah benar-benar hilang, bahkan ketika ia berpindah ke layar. Ia hanya berubah bentuk. Dari tembok fisik menjadi ruang imajinasi, dari papan tulis menjadi interaksi yang lebih cair.
Namun pertanyaannya tetap sama, apakah di dalamnya masih ada makna?
Webinar ini menghadirkan praktisi seperti Suwito dari SMP Santa Maria Mentok dan Syarif Firdaus dari SD Negeri 22 Kelapa, yang berbagi praktik penggunaan media pembelajaran digital. Namun di balik itu, ada realitas yang tidak selalu terlihat di layar.
Tidak semua guru memiliki akses yang sama. Tidak semua sekolah memiliki fasilitas yang memadai. Tidak semua perubahan bisa diterima dengan kecepatan yang sama.
Di sinilah Teni tidak menutup mata.
Ia menyadari bahwa transformasi digital bukan hanya soal kesiapan teknologi, tetapi juga kesiapan manusia yang menjalaninya.
Di banyak daerah, guru tidak hanya dituntut mengajar, tetapi juga beradaptasi dengan sistem baru, mempelajari aplikasi baru, bahkan mengubah cara berpikir yang telah lama mengakar.
Namun alih-alih menjadikan itu sebagai alasan untuk berhenti, Teni justru melihatnya sebagai ruang untuk bertumbuh.
“Saya mengajak Bapak/Ibu semua untuk tidak ragu belajar hal baru. Jangan takut mencoba. Karena guru yang hebat bukanlah yang paling tahu, tetapi yang terus mau belajar,” ujarnya.
Ajakan itu tidak lahir dari ruang kosong. Ia lahir dari kesadaran bahwa perubahan selalu menuntut keberanian dan keberanian selalu dimulai dari kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita belum selesai belajar.
Dalam lanskap pendidikan yang semakin terdigitalisasi, ada satu hal yang sering kali terabaikan bahwa pendidikan sejatinya adalah proses memanusiakan manusia.
Teni tampaknya memahami betul hal ini.
Ia tidak berbicara tentang target, tidak menekankan angka dan tidak terjebak pada capaian administratif. Ia berbicara tentang makna.
Tentang bagaimana pembelajaran tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter. Tentang bagaimana teknologi tidak hanya mempercepat proses, tetapi juga harus memperdalam pemahaman.
“Melalui kegiatan ini, saya berharap Bapak/Ibu dapat meningkatkan kompetensi, memperluas wawasan, serta membawa perubahan nyata dalam proses pembelajaran di sekolah masing-masing,” katanya.
Dalam konteks ini, perubahan yang dimaksud bukanlah perubahan yang spektakuler. Ia justru menekankan hal-hal kecil yang sering diabaikan. Satu metode baru di kelas, satu pendekatan yang lebih humanis dan satu keberanian untuk mencoba.
Karena di situlah perubahan besar sebenarnya bermula.
Di akhir sambutannya, Teni menutup dengan pantun.
Dari tanjung kalian ke air gegas,
Angin sepoi menyejuk rasa.
Teknologi dimanfaatkan dengan cerdas,
Membentuk generasi berilmu dan berakhlak mulia.
Pantun ini tidak sekadar tradisi. Ia adalah metafora.
Tentang perjalanan dari satu titik ke titik lain. Tentang kesejukan yang tidak datang dari teknologi itu sendiri, tetapi dari cara manusia menggunakannya. Tentang tujuan akhir membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak.
Di Bangka Barat, di tengah jaringan digital yang menghubungkan banyak kepala dan hati, Teni Wahyuni sedang melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar menjalankan program.
Ia sedang menanam. Menanam kesadaran bahwa pendidikan tidak boleh tertinggal oleh zaman.
Menanam keyakinan bahwa guru sebagai pusat dari setiap perubahan.
Menanam harapan bahwa masa depan secepat apa pun ia datang tetap bisa disambut dengan kesiapan, selama ada kemauan untuk belajar dan keberanian untuk berubah.
Dalam dunia yang terus bergerak, mungkin itulah yang paling dibutuhkan: bukan sekadar sistem yang berjalan, tetapi manusia yang memahami ke mana arah perjalanan.












