Tradisi Kita, Kebanggaan Kita

Oleh : Nayla Desfikha (Siswa SDN 3 Namang)

 

Namanya Aira, seorang anak yang memiliki mata indah dan senyum yang selalu merekah seperti bunga bermekaran. Ia tinggal di Desa Karya Makmur di sudut indah Bangka Belitung, dan tanah yang bersih serta asri.

Namun ada satu hal yang mengusik Aira dan anak-anak seusia Aira banyak menghabiskan waktu untuk bermain game, atau sosial media kini tidak ada lagi yang bermain bola atau bermain berlarian atau lain-lainnya kini juga lapangan bola kini semakin sunyi dan sepi.

Aira baru saja salat asar, ia duduk di teras sambil melihat beberapa temannya yang lewat. Mereka menatap layar ponsel sambil bermain game, mereka tidak saling berbicara, kini tidak ada lagi yang bermain di lapangan bola atau bermain lari-lari.

“Apa mereka tidak bosan?” gumam Aira pelan.

Tiba-tiba suara ibunya memanggil dari dapur. Aira bergegas menuju dapur sembari berlari kecil. la melihat dulang yang sudah bersih serta mengkilat karena sering digunakan.

“Kita akan nganggung Aira?” kata ibu.

Aira pun terlihat senang karena dia suka dengan suasana saat nganggung.

Nganggung merupakan tradisi yang sudah lama sejak zaman nenek moyang. Di sudut indah Bangka Belitung setiap warga membawa dulang berisi makanan yang akan di makan bersama-sama sebagai tanda kebersamaan dan tanda syukur.

Aira sangat suka dengan nganggung, kegelisahan itu membawa Aira bertanya kepada ibunya. “Bu kenapa banyak anak yang tidak suka dengan suasana saat nganggung?”

“Karena mereka merasa itu kuno dan tertinggal Aira?” kata ibu Aira.

Padahal menurut Aira nganggung sangatlah. Hari itu suasana sangatlah berbeda, aroma masakan menyeruak di setiap rumah. Pagi itu ibu memasak lempah kuning kesukaan keluarga dan tambahan ikan segar dan nanas potong yang menggugah selera. Aira membantu ibunya menata makanan di dulang lalu menutupnya dengan tudung saji berwarna merah.

Adzan berkumandang waktu dzuhur tiba, bapak-bapak yang membawa dulang sambil berjalan beriringan mereka duduk melingkar dan berdoa bersama. Aira mencari keberadaan sahabatnya Raka tetapi tidak ada di sana. Setelah acara selesai Aira mengunjungi rumah Raka. Ia melihat Raka duduk santai sambil bermain game di tabletnya.

“Raka! kamu tidak nganggung?” kata Aira

“Itu hanya makan-makan biasa juga kan?” kata Raka.

“Bukan hanya makan-makan biasa Raka tapi tentang saling berbagi?” kata Aira.

“Sekarang zamannya digital. Siapa juga yang suka dengan kegiatan begitu?”

Aira menghela nafas, hatinya sedikit perih dan ia juga berfikir keras.

Digital?

Akhirnya sebuah ide muncul di benaknya

“Kalau begitu kita kenalkan aja nganggung lewat dunia digital!”

Dengan penuh semangat Raka berpikir, “Maksudmu kita buat video tentang nganggung biar anak-anak tahu kalau ini seru dan menyenangkan!”

Raka juga suka membuat video atau mengeditnya. Akhirnya ia pun setuju dengan rasa bahagia dan penuh semangat.

Hari itu mereka menyusun rencana dan konsepnya pertama-tama mereka meminjam kamera kecil milik kakak Raka kemudian mereka meminta izin kepada pak lurah.

Pak lurah pun mengizinkan mereka untuk membuat video tersebut. “Kalian anak-anak hebat?” kata pak lurah.

Hari nganggung berikutnya pun tiba, Aira sibuk dengan perannya. Mereka merekam ibu-ibu masak, bapak-bapak membawa dulang beriringan, dan tangan yang menyusun makanan di atas dulang, kemudian Raka mengeditnya dengan tambahan musik masa kini dan judul nganggung itu seru Tradisi Kita, Kebanggaan Kita.

Awalnya hanya beberapa orang yang melihatnya, akhirnya makin lama makin banyak yang melihatnya. Mereka mengirimkan digrup anak-anak dan di sosial media dan lain-lainnya.

“Aku mau nganggung ah?” kata seorang anak.

“Aku juga ah?” kata beberapa anak.

Minggu berikutnya pun tiba, Aira tidak percaya karena anak-anak tahu bahwa nganggung harus patut dijaga. Mereka membawa dulang kecil milik keluarga. Pak lurah pun bangga karena anak-anak kembali nganggung seperti dulu lagi. Tawa anak-anak kembali terpadu dan angin yang menghembus pelan.

Pak lurah berdiri di hadapan warga. “Saya bangga karena anak-anak kembali untuk nganggung.”

Sekarang Aira menjadi kebanggaan semua orang, sekarang lapangan bola banyak yang bermain bola lagi. di sana dan anak-anak yang bermain berlarian di sana

Suatu hari nanti pasti ada hal-hal yang lebih cepat serta modern lagi, karena semenjak anak-anak ada hati yang mencintai warisan leluhur.

Sore itu, matahari di ufuk barat. Aira memandangi dulang di tangannya. Ia tidak menganggap itu sekadar nampan biasa tapi ia melihatnya tentang simbol kebersamaan, simbol identitas dan simbol cinta tanah kelahiran.

Dan di Desa Sinar Karya Makmur di sudut indah Bangka Belitung tawa anak-anak kembali terpadu. Aira menjadi kebanggaan semua orang karena langkah seorang anak kecil pasti membawa perubahan besar. Kini Aira menjadi kebanggaan semua orang karena orang percaya bahwa semenjak ada hati pasti membawa perubahan besar. (BP / KM)*

 

Catatan : Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Namang Tahun 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *