Laporan : Medi Hestri
Bekaespedia.com,Tempilang, Bangka Barat,- Mentari siang bersinar tajam di atas hamparan sawit dan tanah lapang Dusun Bubung Tujuh, Desa Sangku. Namun, panas tak sedikit pun menurunkan semangat anak-anak kecil yang berlari tanpa alas kaki, mengejar bola seolah mengejar masa depan. Dari tepi lapangan, suara peluit, sorakan, dan tawa bersatu menjadi irama kebersamaan. Di sinilah, di tengah tanah Tempilang yang sederhana, semangat olahraga tumbuh menjadi kebanggaan.
Turnamen sepakbola mini tingkat Sekolah Dasar se-Kecamatan Tempilang resmi ditutup pada Kamis (30/10/2025). Kegiatan yang digelar oleh Kelompok Kerja Guru (KKG) PJOK Kecamatan Tempilang ini merupakan bagian dari peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2025. Ajang itu diikuti 28 tim putra dan 17 tim putri, jumlah yang tak sekadar menunjukkan antusiasme, tapi juga gairah masyarakat terhadap olahraga sejak dini.
Ketua panitia, Yedi Yusuf, S.Pd., didampingi sekretaris panitia Yogi, S.Pd., mengatakan bahwa turnamen ini menjadi wadah mencari bibit unggul sepakbola di Tempilang. “Kita ingin anak-anak belajar disiplin, sportif, dan punya mimpi besar. Mungkin hari ini mereka bertanding di lapangan sawit, tapi siapa tahu, esok mereka bisa berlaga di stadion besar,” ujarnya.
Pertandingan ini memperlihatkan barisan tim putri, sebagian mengenakan seragam biru-merah, sebagian lagi serba hitam dan kuning. Mereka berdiri sejajar di bawah langit cerah, dengan latar belakang kebun sawit yang seolah menjadi penonton setia. Di wajah-wajah muda itu terpancar semangat ada rasa bangga, gugup, dan harapan yang sama menjadi juara bukan hanya di lapangan, tapi juga di kehidupan.
Sisi lain dalam pertandingan juga menunjukkan kerumunan penonton terdiri guru, orang tua, dan teman-teman sekolah. Mereka berdesakan di pinggir lapangan, duduk di tanah, meneduh di bawah pohon kelapa. Sorakan mereka pecah setiap kali bola menyentuh jaring. Di situ, Tempilang seperti satu keluarga besar yang bersatu untuk mendukung anak-anaknya.
Di tengah suasana penuh warna itu, tampak pula barisan tim putra dengan seragam hijau dan hitam tegak berdiri dengan pelatih di sisi mereka. Ada rasa kebersamaan yang kuat bahwa olahraga tak hanya mengajarkan cara menang, tetapi juga cara menghormati lawan dan menghargai perjuangan.
Panggung Kecil untuk Mimpi Besar
Pertandingan final berjalan ketat. SDN 1 Tempilang menaklukkan juara bertahan SDN 10 Tempilang dengan skor tipis 1–0. Gol tunggal itu menjadi simbol perjuangan yang tak kenal lelah. Di sisi lain, final putri berakhir dengan drama adu penalti. SDN 15 Tempilang berhasil mengalahkan SDN 17 Tempilang dengan skor 2–0, setelah waktu normal berakhir imbang.
Kordik Pengawas SD, Naspi, S.Pd., menyebut turnamen ini sebagai momentum pembinaan karakter dan kebanggaan daerah.
“Anak-anak ini adalah aset masa depan. Dari lapangan ini, kita belajar bahwa olahraga bukan hanya soal menang atau kalah, tapi juga tentang semangat, silaturahmi, dan kebersamaan,” katanya.
Dalam salah momen yang paling menyentuh, seorang gadis muda berdiri sambil memegang piala kecil wajahnya serius namun matanya berbinar. Dialah Halifah, siswi SDN 15 Tempilang, top scorer putri dengan tiga gol. Di tangannya, piala itu bukan sekadar logam dan plastik tapi simbol dari kerja keras, latihan, dan doa yang tak berhenti.
Lapangan Bubung Tujuh menjadi saksi bagaimana anak-anak Tempilang menulis kisah mereka sendiri. Saat sorotan matahari mulai lembut, piala, medali, dan amplop penghargaan dibagikan. Di antara tepuk tangan dan teriakan gembira, ada rasa syukur yang dalam bahwa di pelosok Tempilang, semangat juang tetap menyala.
Di sudut lain lapangan, terlihat Kordikpora Kecamatan Tempilang, Bambang Suwarno, S.Pd., bersama para guru dan tokoh pendidikan, tersenyum bangga melihat generasi muda Tempilang tumbuh dalam semangat sehat dan sportif. Tak jauh dari mereka, Camat Tempilang yang diwakili Kasie Tapem, Rusdana Ali, menyaksikan sendiri bagaimana olahraga menyatukan anak-anak dari berbagai desa.
Senja turun perlahan, meninggalkan bayangan panjang di rerumputan yang mulai kering. Anak-anak berlari memeluk teman, menggenggam piala, sementara orang tua menatap mereka dengan mata berkaca. Turnamen berakhir, tapi semangatnya baru dimulai semangat untuk terus bermain, belajar, dan bermimpi.
Karena di Bubung Tujuh, sepak bola bukan sekadar olahraga. Ia adalah bahasa harapan, tempat di mana mimpi tumbuh di antara suara sorak dan debu lapangan. Anak-anak Tempilang telah membuktikan, bahwa dari tanah sederhana pun, bisa lahir prestasi gemilang dan kebanggaan yang abadi.












