Cerpen  

Twenty Years

Oleh: Sya-Ju

Dua puluh tahun yang lalu di sebuah kota yang cukup padat. Ada sepasang kekasih yang sudah saling mencintai dan menyayangi. Pada saat itu mereka sudah membulatkan tekad untuk membangun mahligai rumah tangga, setelah menjalin hubungan yang cukup lama. Hubungan mereka penuh dengan suka dan duka. Hubungan mereka penuh dengan intrik. Hubungan mereka penuh dengan perjuangan. Hubungan mereka penuh dengan kisah-kisah heroik dalam mempertahankan keyakinan bahwa mereka memang pantas untuk bersatu.

Dua puluh tahun yang lalu di sebuah kota yang penuh dengan hiruk pikuknya, sepasang kekasih itu mempunyai janji dan keinginan yang terpatri dalam sanubari, mereka sepakat untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius lagi. Pernikahan adalah suatu keniscayaan yang harus mereka tempuh. Pernikahan adalah salah satu jalan bagi mereka untuk merubah status mereka menjadi lebih aman dan lebih dihormati. Karena ketika status mereka masih berpacaran, maka sesuatu yang tidak diinginkan bisa saja terjadi. Selagi masih berpacaran bisa saja salah satu di antara mereka melakukan pengkhianatan, semisal berselingkuh atau mungkin menikah dengan yang lain disebabkan perjodohan atau sebab lainnya.

Dua puluh tahun yang lalu pikiran kedua pasangan kekasih itu masih diselimuti keraguan. Status mereka yang baru lulus perguruan tinggi adalah salah satu sebabnya. Mereka dikuasai rasa tidak percaya diri jika melakukan pernikahan di usia yang masih seumur jagung itu. Jika secara umur jasmani mereka memang sudah saatnya untuk berumah tangga, namun secara psikologis tampaknya usia mereka masih setara anak-anak sekolah menengah atas. Oleh karena itu mereka sempat hendak membatalkan rencana suci mereka untuk menuju tenda resepsi pernikahan. Bayangan masa depan suram bagaikan hantu yang selalu menjelma dan menakuti mereka. Bayangan itu selalu hadir di manapun mereka berada bahkan di tempat yang gelap pun bayangan itu tetap ada.

Dua puluh tahun yang lalu sepasang kekasih yang masih anak bawang -dari usia psikis- itu berusaha meyakinkan diri dan keluarga mereka. Mereka terus menyemangati diri mereka sendiri dengan usaha yang tak pernah bisa dihentikan. Mereka terus menggali potensi apa saja yang bisa mendukung rencana mulia mereka. Segala daya diupayakan agar bisa mewujudkan cita-cita dan impian mereka. Bantuan moril dan sprituil pun tidak pernah mereka tolak. Tujuannya hanya satu, mereka segera bersatu dalam ikatan yang diakui oleh bangsa, negara, dan agama.

*****

“sayang, semoga kita diridoi Allah dan mendapatkan restu keluarga ya”

Si pria mengutarakan harapannya kepada si wanita.

Dengan menengadahkan kedua telapak tangan yang disatukan, si wanita menoleh ke arah si pria. Suatu kata dengan suara lirih dan hampir tidak terdengar keluar dari bibir manis si wanita.

“Aamiin”

Sore itu mereka sedang mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan rencana mereka. Mulai dari menghitung budget untuk makan dan minum ketika menjamu tamu, biaya kertas undangan, biaya sewa pakaian pengantin, biaya tenda, biaya untuk hiburan sampai kepada biaya persyaratan pengesahan pernikahan ke penghulu dan ke pemerintah. Semua dirinci dengan sedetail-detailnya. Mereka tidak ingin ketika hari H ada sesuatu yang dianggap remeh tetapi akan mempengaruhi sakralnya acara. Oleh karena itu segala tetek bengek terkait pelaksanaan acara tidak luput dari catatan mereka.

“untuk masalah undangan keluargaku sudah menyanggupinya”

“mereka siap untuk mencetak dan menyebarkannya”

Senyum tipis penuh kebahagiaan dan kesyukuran tampak menyembul dari bibir si pria. Ucapan si wanita bagaikan durian matang yang runtuh tepat di depannya dan ketika dimakan isinya pun penuh. Ucapan si wanita sudah melenyapkan satu beban di hati si pria. Dari sekian banyak masalah yang harus diselesaikannya, satu persatu mulai terlihat jalan keluarnya. Sekarang mereka tidak perlu lagi memikirkan masalah undangan pernikahan.

“alhamdulillah”

Ucapan syukur spontan meluncur dari bibir si pria. Ucapan itu diiringi oleh gesture tubuh yang sedikit malu-malu. Si pria menutup mulutnya dan melirik ke arah si wanita. Si wanita pun kembali tersenyum manis tatkala menyaksikan ekspresi dan tingkah kekasihnya itu.

“untuk yang lainnya, kupikir kita adakan dengan sederhana saja”

Untuk kali ini mimik si wanita sangat serius.

“nanti hidangannya sederhana saja, tenda kita bisa pakai teras rumah, hiburan kita ambil yang biasa saja dan pakaian pengantin kita pakai yang sederhana juga”

Si pria hanya bisa terdiam dengan mulut setengah terbuka. Perkataan si wanita kali ini membuat si pria tidak bisa berucap sekata pun. Perkataan si wanita di luar ekspektasinya. Selama ini si pria menganggap si wanita akan menuntut sesuatu yang serba mewah untuk acara pernikahannya. Selama ini si pria berpikiran bahwa si wanita akan mengajukan berbagai syarat sebagaimana yang sering diajukan oleh wanita-wanita kebanyakan. Tapi, setelah mendengar ucapan si wanita semua anggapan si pria hancur berkeping-keping. Untuk kesekian kalinya si pria merasa bersyukur. Ia sangat bangga bisa mendapatkan calon pasangan seperti si wanita.

“tapi ada satu lagi yang perlu ku tanyakan kepadamu”

Si pria seperti orang yang baru sadar dari ingatan diikuti ekspresi terkejut dari si wanita.

“apa itu?”

si wanita menjadi penasaran dan kekepoannya otomatis keluar.

“masalah mahar”

“apa yang kau pinta dariku?”

Si pria bagai burung beo yang terus berbunyi tanpa memberi kesempatan si wanita untuk menjawab.

Rasa senang luar biasa yang baru saja didapat si pria tadi terasa kembali lebur oleh rasa penasaran menunggu jawaban si wanita. Si pria kembali diliputi awan kekhawatiran. Ia khawatir jika si wanita meminta mahar yang diluar dayanya.

‘aku ini bukan wanita matre, jadi apapun yang kau berikan akan ku terima”

Ucapan si wanita kembali membuat si pria tersentak. Kata-kata si wanita seperti angin sejuk yang mengusir awan-awan kekhawatiran si pria. Kata-kata itu bukan cuma romantis terdengar tetapi juga sebuah kunci yang dapat membuka pintu masa depan mereka.

*****

Dua puluh tahun kemudian kedua pasangan kekasih itu sudah memetik buah dari perjuangan mereka. Pasangan kekasih itu sudah menjadi juara dalam perlombaan mengarungi ganasnya ombak lautan yang hendak menghancurkan bahtera rumah tangga mereka. Mereka sudah tertempah oleh berbagai ujian kehidupan sehingga menjadi nakhoda dan awak kapal rumah tangga yang luar biasa. Ombak-ombak laut kehidupan yang ganas itu sudah mereka anggap seperti bumbu-bumbu masakan yang berfungsi menjadi penyedap. Mereka sudah tumbuh menjadi pribadi yang tetap kokoh, bagaikan batu karang yang tetap kokoh walau setiap hari diterjang gelombang.

Dua puluh tahun kemudian bahtera rumah tangga sepasang kekasih itu sudah mulai ramai. Kehadiran tiga orang penumpang lagi dari hasil kerjasama mereka menambah semangat mereka untuk tetap bertahan dalam ikatan suci yang sejak lama mereka impikan. Kehadiran tiga orang penumpang itu menjadi spirit dan suplemen bagi mereka. Tiga orang itu tidak hanya sebagai penumpang tetapi juga seperti berlian yang sangat berharga. Tiga orang itu akan selalu mereka jaga dan tidak akan mereka biarkan diambil begitu saja oleh bantera yang lain.

Dua puluh tahun kemudian senyum kebahagiaan selalu tersungging di bibir sepasang kekasih itu. Senyum penuh rasa sayang yang dihasilkan dari perjuangan mereka. Senyum kemenangan dari hasil keikhlasan dan kesabaran mereka selama ini. Senyum yang akan selalu disaksikan oleh tiga orang penumpang lainnya.

Dua puluh tahun kemudian harapan sepasang kekasih itu terus terpahat dengan rapi di hati mereka. Kapal besar bernama rumah tangga itu mereka jalankan dengan penuh mimpi indah. Kapal besar itu mereka kemudikan dengan tujuan menghantarkan tiga penumpang menuju masa depan mereka yang gemilang. Mereka akan tetap mengawal tiga penumpang itu sampai mereka benar-benar mendapatkan apa yang diimpikan.

Dua puluh tahun kemudian kapal rumah tangga itu melaju menerobos dahsyatnya ombak lautan. Sesekali terdengar suara lagu dangdut yang berjudul bahtera cinta mengiringi laju kapal rumah tangga itu. *****

BIONARASI PENULIS

Sya-Ju adalah nama pena dari Syamsul Bahri Arza. Ia adalah seorang guru di MTs Al-Hidayah. Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang berdiam di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di syamsulpemulutan81@gmail.com

 

 

 

 

 

Exit mobile version