oleh : Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH,
Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
Berrdasarkan Atlas van Nederlandsch, distrik Sungaiselan, sebelah Baratnya berbatasan dengan Selat Bangka dan terdapat beberapa tanjung seperti Tanjung Tedung, Tanjung Bedaun, Tanjung Berani, Tanjung Pangong of Lalari (wilayah daratan Pulau Bangka terdekat dengan Tanjung Palsu di pulau Sumatera), serta terdapat beberapa pulau yaitu pulau Nanka, pulau Midden Nanka (masyarakat menyebutnya pulau Gadung), pulau West Nanka atau pulau Pelepas atau pulau Lampu, pulau Antu, pulau Batoe Bedaun, pulau Medang, dan terdapat satu gugusan karang yang disebut Karang Tembaga.
Terkait keberadaan pulau-pulau kecil di Selat Bangka atau yang berada di wilayah distrik Sungaiselan,masing-masing pulau memilki sejarahnya tersendiri.
Pulau Nangka yang berada dalam distrik Sungaiselan memiliki arti penting pada saat sultan Mahmud Badaruddin I Jayowikromo kembali ke Palembang untuk mengambil hak atas tahta kesultanan Palembang Darussalam.
Sebagian pasukannya yang dipimpin oleh Daeng Parani atau Daeng Berani singgah di pulau Nangka dan Tanjung Berani atau Tanjung Parani untuk berjaga-jaga. Kemudian dari itu, maka ratu Mahmud Badaruddin pun berangkat di dalam Hijrah an-Nabi salla’llahu alaihi wa-sallama as-sanat 1127 dan Tahun Holanda 1717 mulai berlayar dari pulau Siantan serta isterinya bersama-sama dengan segala sanak-sanak
yang keturunan wan Awang yang tersebut di dalam fasal Dua puluh empat melainkan datuk Dalam dengan lima anak perempuan tinggal di pulau Siantan. Telah itu maka diiringkan oleh angkatan raja-raja Melayu yang di bawah Daeng Berani tadi dengan segala alat senjatanya.
Maka jadi jumlahnya Empat puluh buah semuanya itu angkatan lain dari angkatan ratu Mahmud Badaruddin sendiri.
Maka lebih dulu sampai di Bangka-Kota, di situ ratu Mahmud Badaruddin berhenti masuk ke dalam sungai Bangka-Kota dengan segala perahunya keturunan yang tersebut melainkan perahu-perahu angkatan Daeng Berani tinggal di pulau Nangka yang tumbuh pohon-pohon kayu di atas gunung itu.
Di situ tinggal membetulkan segala alat peperangan serta melepa dan melabur perahu mereka itu dan di dalam antara itu ratu Mahmud Badaruddin sudah berkirim surat dengan diam-diam dan bersembunyi kepada anak raja-raja Palembang-Lama yang sudah mupakat sama baginda tempo dulu.
Sebab itu tahu yang itu ratu Mahmud Badaruddin sudah ada di Bangka-Kota tetapi dari hal sultan ratu Kamaruddin dari tempoh ratu Mahmud Badaruddin keluar dari Palembang, baginda itu sudah
khawatir serta sudah membuat ditambah lagi beberapa senjata perang dan berlengkap alat senjata di dalam kotanya dan di luar serta beberapa tempat benteng-benteng gandok tempat rakyat berjaga-jaga serta dengan menteri dan hulubalang yang jadi kepala di tempat yang tersebut dari Palembang sampai di Sungsang (Wieringa,1990:82-83).
Pulau Nangka juga menjadi penting ketika terjadi peperangan antara Kesultanan Palembang dengan Kesultanan Banten, ketika Banten pada waktu itu diperintah oleh Sultan Maulana Muhammad bergelar Kanjeng Ratu Banten Surosowan atau Pangeran Ratu ing Banten (memerintah Tahun 1580-1596 Masehi) dan puncaknya perselisihan pada masa Sultan Ageng Tirtayasa (Tahun 1651).
Pada saat peperangan antara Kesultanan Banten dan Palembang, salah seorang putera sultan Banten bernama Ratu Bagus melarikan diri ke pulau Nangka kemudian terus pindah dan menetap serta wafat di Bangkakota.
Makam Ratu Bagus di Bangkakota dikenal masyarakat setempat dengan sebutan keramat Ratu Bagus atau keramat Jatisari (Elvian, 2012:50-51).
Dalam Carita Bangka (Weiringa, 1990:72-73) dinyatakan bahwa: “Maka sultan Banten amatlah murkanya, maka disuruhnya dia punya anak nama ratu Bagus dengan angkatan yang tersebut memukul tanah Palembang.
Maka pergilah ratu Bagus dengan angkatan tersebut memukul tanah Palembang tiga bulan lamanya sudah hampir Palembang jadi kalah tetapi lekas dapat bantuan dari anak raja-raja yang bertapa di bukit Siguntang.
Dengan sebab itu pelanggaran ratu Bagus tidak untung, lantas mundur dengan tiada sempat tarik jangkar melainkan dipotong sebab mau lekas keluar lari dari peperangan itu.
Lantas keluar singgah di pulau Nangka; itu waktu belum ada pohon kayu melainkan pasir putih saja.
Maka Bupati Nusantara pun sudah mendengar hal khabar yang ratu Bagus ada di situ, dengan segeralah ia keluar serta dengan segala rakyatnya orang Bangka-Kota membawakan jenis-jenis buah-buahan yang ada di pulau Bangka dan lain-lain makanan menyembahkan kepada rajanya ratu Bagus.
Maka tinggal Bupati Nusantara
menunggu ratu Bagus tiga bulan di pulau Nangka serta mesyuaratkan hendak memukul Palembang kembali serta sudah berkirim surat kepada orang tuanya sultan Banten menyatakan ihwal perkara berkelahi itu yang dia sekarang sudah mundur serta minta perbantuan lagi akan mau memukul itu Palembang.
Maka itu surat sudah dikirim dan ratu Bagus masuk ke dalam sungai Bangka-Kota serta menyumpahkan itu Bupati Nusantara yang jangan berhati dua dengan sultan Palembang.
Maka tinggallah itu ratu Bagus berapa lamanya dengan Bupati Nusantara di Bangka-Kota menyediakan alat peperangan menunggu bantuan dari Banten tetapi begitu lamanya dia tinggal di Bangka-Kota bantuan dari Banten belum datang.
Maka itu ratu Bagus pun wafat di Bangka-Kota yang sekarang ada dia punya kubur yang disebut orang keramat ratu Bagus sampai waktu ini”.
Selanjutnya pada masa penaklukan Palembang oleh Inggris, Raffles pada awal bulan April 1812 mengirimkan 7 kapal perang dan 1 kapal logistik mengangkut 8 kompi senapan, 1 kompi pasukan berkuda dari Madras, 1 detasemen artileri dan satuan logistik serta diperkuat dengan pasukan yang ditempatkan di Bangka dibawah kapten Meares. Induk armada ini berangkat dari Batavia menempuh 5 hari perjalanan yang karena cuaca buruk terpaksa berlabuh di pulau Nangka selama 1 minggu. Sebagai komandan perang ditunjuk Kolonel Gellespie (Sujitno,2015:83).
Pada sisi sebelah Barat pulau terdapat beberapa makam dan salah satu makam adalah makam Syech Jafar Siddik yang merupakan tokoh berpengaruh dalam penyebaran Islam di pulau Bangka dan pulau Nangka sekitar pertengahan abad 20.
Beliau juga merupakan salah seorang murid dari Syech Abdurrahman Siddiq, seorang penyebar Islam di pulau Bangka dan beberapa wilayah lainya yang berasal dari Banjarmasin.
Pulau Nangka merupakan pulau terbesar dari gugusan pulau di sekitarnya, dan saat ini merupakan pulau yang berpenghuni. Toponimi pulau dengan kata Nangka diberikan oleh nenek moyang kita karena di pulau ini banyak terdapat tumbuhan Nangka Kecil atau dalam bahasa lokal disebut pohon atau batang Kelidang.
Di samping itu terdapat aneka pohon buah buahan lainnya seperti Durian dan Kuini. Pulau Nangka memiliki keunikan karena mata pencaharian penduduknya di samping berkebun Cengkeh, Sahang dan Kelapa, mereka juga menjadi nelayan yang umumnya menggunakan bubu dari anyaman bambu untuk menangkap ikan. Bambu umumnya tumbuh di pulau Nangka disamping tumbuhan lainnya yang mirip seperti tumbuhan di pulau Bangka. Ketrampilan membuat perahu dan kapal juga masih berlangsung di pulau Nangka.
Pulau selanjutnya adalah pulau Midden Nanka atau pulau Gadung. Pulau ini diberi Toponimi Gadung karena berdasarkan tutur lisan masyarakat, dulunya terdapat tumbuhan Gadung.
Pulau ini diapit oleh pulau Pelepas dan pulau Nangka, sehingga disebut dengan Midden Nanka. Pulau Gadung tidak berpenghuni dan dikelilingi kawasan hutan Mangrove, serta pada bagian sisi Selatan pulau terdapat pantai yang sering dikunjungi wisatawan untuk menginap.
Pulau selanjutnya yang berada di posisi paling Utara adalah pulau Pelepas yang berjarak sekitar 30 menit dari pulau Bangka (dari Tanjung Tedung), terdapat satu menara suar yang berdasarkan prasasti pada menara ditulis: Onder De Regeering Van H.M Koningin Wilhelmina Gedurende Het Regentschap Van H.M. Koningin Emma Opgericht Voor Draailicht Eerste Grootte, 1893.

Bentuk dasar Menara bersegi 12 dan mengerucut ke atas, serta pada jarak tertentu pada beberapa sisi yang menghadap laut terdapat jendela kaca bersegi empat. Pintu Menara Suar dan posisi prasasti menara menghadap ke Arah Utara atau menghadap ke Bangunan Utama yang tampaknya difungsikan sebagai kantor dan dibangun bersamaan dengan dibangunnya menara (Tahun 1893). Untuk masuk ke dalam menara dari bangunan utama harus melewati teras selasar dan pagar pembatas langkah yang berbentuk melengkung dan kemudian menaiki 4 anak tangga. Menara Suar dengan ketinggian 50 meter, berfungsi dengan jarak jangkauan lampu suar sekitar 16 mil dibangun untuk memandu kapal kapal yang melewati selat Bangka yang pada masa itu merupakan the favorite commercial coast.
Jalur selat Bangka sangat strategis dalam perdagangan dunia dan juga sangat berbahaya karena terdapat banyak gugusan karang seperti gugusan karang Tembaga, karang Hajji dan karang Bram. Bangunan menara suar secara keseluruhan dikelilingi oleh bangunan yang ruangannya berfungsi untuk gudang, penyimpanan mesin serta tempat menyimpan semua kebutuhan operasional menara suar. Bangunan utama yang paling besar mengahadap ke menara suar atau ke arah Selatan, dengan luas sekitar 15×10 meter persegi, terdiri dari dua teras dan dua selasar dan terdiri dari 3 ruangan.
Dua ruangan berada disisi Timur ke arah pulau Bangka dan satu ruangan terletak di sisi Barat dan pada bagian belakangnya terhubung ke teras dan selasar yang menghadap ke arah barat selat Bangka dan daratan Sumatera.
Selanjutnya pada sisi belakang bangunan dan sisi Barat Bangunan terdapat beberapa bak penampung air.
Pada sisi Utara sekitar 177 meter dari bangunan terdapat satu makam orang Eropa dengan jirat bertuliskan: Hier Rust, Mevr: A.M. Goldman, Overl: 15 April 1894 atau satu tahun lebih muda dari prasasti pada menara suar dan kemudian sekitar 50 meter di sisi Timurnya terdapat sedikitnya 3 makam muslim dengan satu makam yang nisannya menggunakan granit, sedangkan yang lain nisannya sudah hilang dan rusak.
Pulau Pelepas atau pulau Lampu umumnya ditumbuhi oleh flora sama seperti di pulau Bangka, akan tetapi terdapat beberapa tanaman yang tampaknya sengaja ditanam oleh penjaga menara suar seperti pohon Asam Jawa, pohon Kelapa, bambu kuning dan bambu biasa serta tanaman Kuini. Untuk memasuki areal menara suar tersedia dua jalan dari pesisir Timur Pulau, sedangkan pada sisi Barat, Utara dan Selatan merupakan lokasi yang curam dan langsung berhadapan dengan laut.
Saat ini Menara Suar Pulau Pelepas atau West Nangka Island dikelola oleh Dirjen Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan, Distrik Navigasi Kelas I, Tanjung Priok dengan nama Menara Suar Nangka DSI 600.
Disarikan dari Buku Kampung di Bangka jilid III, Dato ‘Akhmad Elvian, DPMP, 2021












