Oleh: Meilanto
Di balik hutan lebat yang menutupi kaki Bukit Saranglang yang tidak terlalu tinggi, tersembunyi sebuah kampung kecil bernama Sungai Senting. Kampung itu hanya bisa dicapai dengan menyeberangi sungai berarus deras menggunakan rakit bambu dan berjalan kaki hampir dua jam melewati jalan setapak yang licin bila hujan turun.
Penduduknya sederhana. Mereka hidup dari hasil hutan dan ladang. Anak-anak lebih akrab dengan bunyi burung dan desir angin daripada huruf-huruf di buku. Sekolah dasar satu-satunya di sana berdinding papan, beratap daun rumbia, dan sudah lama tak memiliki guru tetap.
Pagi itu di awal musim hujan, seorang perempuan muda datang menumpang perahu kecil. Namanya Bu Mida, guru baru yang dikirim pemerintah untuk mengajar di SD Sungai Senting. Tas besar di punggungnya penuh buku, kapur tulis dan beberapa alat tulis yang ia beli dengan uang sendiri. Wajahnya tenang, meski beberapa warga menatapnya ragu.
“Bu guru mau tinggal di sini?” tanya Pak Kadus dengan nada heran.
“Iya, Pak. Saya ditugaskan di sekolah kampung ini,” jawab Bu Mida sambil tersenyum.
“Dulu sudah pernah ada guru datang. Tapi paling lama sebulan, lalu pulang lagi,” sahut seorang ibu. Bu Mida hanya mengangguk. “Mudah-mudahan saya bisa lebih lama, Bu.”
Pagi berikutnya, ia berdiri di depan sekolah kecil itu. Pintu ruang kelas nyaris copot, papan tulisnya hitam kusam, dan lantainya tanah padat. Hanya ada delapan anak yang datang. Mereka duduk diam, sebagian tanpa alas kaki, membawa buku tulis tipis yang sudah lembab terkena hujan.
Bu Mida menatap mereka satu per satu. “Selamat pagi anak-anak.”
“Pagi, Bu…” jawab mereka lirih.
la menulis di papan tulis dengan kapur putih: ‘A-E-I-O-U’. Satu per satu anak menirukan dengan suara pelan. Ada yang gagap, ada pula yang menunduk malu. Namun di mata mereka, Bu Mida melihat kilau keingintahuan yang tulus.
Sejak hari itu, Bu Mida mulai terbiasa dengan kehidupan di kampung terasing itu. la tinggal di rumah papan yang disediakan warga. Listrik hanya menyala dari genset dua jam setiap malam. Air harus ditimba dari sumur di belakang sekolah. Tapi semua kesederhanaan itu tak menyurutkan semangatnya.
Setiap sore, ia berjalan dari rumah ke rumah, mengajak anak-anak lain yang belum sekolah untuk ikut belajar.
“Sekolah itu penting, Nak,” katanya lembut pada seorang anak laki-laki yang sedang membantu ayahnya menebang kayu. “Tapi saya harus bantu Bapak,” jawab anak itu.
“Kalau kamu pandai baca, kamu bisa bantu Bapak dengan cara lain. Bisa jual hasil kayu ke kota, bisa hitung uang sendiri,” bujuk Bu Mida. Akhirnya anak itu ikut datang ke sekolah esok harinya.
Musim hujan membuat jalan becek. Kadang air sungai meluap, menenggelamkan rakit bambu. Pernah suatu pagi, Bu Mida tergelincir saat menyeberang sungai, bukunya basah semua. la hanya tertawa kecil, menjemur buku di bawah sinar matahari dan tetap mengajar dengan semangat.
Namun, tantangan terbesar datang dari warga sendiri. Sebagian orang tua belum memahami pentingnya pendidikan.
“Anak perempuan tak perlu sekolah tinggi-tinggi,” ujar seorang bapak tua saat Bu Mida mengajaknya bicara.
“Kalau bisa membaca dan menulis, dia bisa bantu ibunya berdagang,” jawab Bu Mida pelan.
“Ah, guru kota banyak omong. Di sini yang penting bisa hidup.”
Bu Mida tak marah. la hanya tersenyum dan berkata, “Saya ingin anak-anak Sungai Senting bisa punya pilihan, Pak. Bukan cuma hidup, tapi juga bermimpi.”
Sedikit demi sedikit, ia mulai diterima. la mengadakan kelas malam di teras rumahnya. Anak-anak duduk bersila sambil menulis huruf dengan arang di daun pisang kering. Kadang ibu-ibu ikut belajar membaca.
“Bu guru, kalau ini dibaca apa?” tanya mereka sambil menunjuk huruf di kertas.
“Itu huruf M, Bu. Seperti ‘Matahari’.” Tawa mereka pecah setiap kali salah membaca, tapi tak ada yang menyerah.
Suatu ketika, sebuah kabar datang. Dinas pendidikan akan mengunjungi kampung Sungai Senting. Mereka ingin melihat apakah sekolah itu masih layak beroperasi. Warga panik. Jika sekolah ditutup, anak-anak tak akan punya tempat belajar lagi.
Bu Mida menenangkan mereka. “Kita tunjukkan bahwa sekolah ini hidup. Anak-anak bisa baca, bisa menulis.”
Selama seminggu, ia melatih murid-muridnya membaca dan berhitung. Anak-anak menulis huruf di papan, berlatih menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dengan suara lantang.
Hari penilaian pun tiba. Dua pejabat datang dengan sepatu mengilap dan pakaian rapi. Mereka memandangi sekolah reyot itu dengan ekspresi ragu. Tapi ketika anak-anak berdiri menyanyikan lagu kebangsaan, suara mereka menggema ke seluruh lembah.
Bu Mida menatap mereka dengan mata berkaca-kaca. Anak-anak itu mungkin belum lancar menulis, tapi semangat mereka lebih besar dari siapa pun.
Selesai acara, salah satu pejabat mendekat. “Ibu bekerja sendirian di sini?”
“Iya, Pak. Tapi saya tidak sendiri. Anak-anak ini teman saya berjuang.”
Pejabat itu mengangguk pelan. “Sekolah ini akan kami bantu. Kami akan kirimkan buku dan perbaiki bangunannya.” Warga bersorak gembira. Untuk pertama kalinya, Sungai Senting merasa diperhatikan.
Malam itu, Bu Mida duduk di depan rumahnya, menatap langit penuh bintang. Angin lembah berhembus lembut. Dari kejauhan terdengar suara anak-anak mengulang pelajaran: “Ba… Bi… Bu… Be… Bo…” Suara mereka membuat hatinya hangat. la teringat kampung halamannya di kota, tempat ia meninggalkan kenyamanan demi sebuah keyakinan: bahwa setiap anak, di mana pun ia lahir, berhak mendapat pendidikan.
Beberapa bulan kemudian, sekolah Sungai Senting tampak berbeda. Dindingnya dicat putih, papan tulis baru dipasang, dan jumlah murid bertambah menjadi dua puluh orang. Bahkan anak-anak dari kampung sebelah ikut datang belajar.
Ketika musim ujian tiba, Bu Mida memanggil semua muridnya. “Apapun hasilnya nanti, kalian harus terus belajar. Ilmu itu cahaya, dan kalian adalah pelitanya.” Anak-anak menatapnya dengan mata bersinar.
“Bu Guru, nanti kalau kami besar, kami juga mau jadi guru,” kata seorang murid kecil bernama Dina.
Bu Mida tersenyum, menahan haru. “Itu cita-cita yang indah sekali, Nak.”
Tiga tahun telah berlalu. Bu Mida masih tinggal di Sungai Senting. Rambutnya kini sedikit memutih, tapi semangatnya tetap sama. Di dinding kelas tergantung tulisan besar yang ia buat sendiri:
“Sekolah boleh kecil, tapi mimpi harus besar.”
Setiap kali matahari pagi menyinari lembah, anak-anak datang dengan langkah riang, memanggil, “Selamat pagi, Bu Guru!” Dan Bu Mida, dengan senyum yang tak pernah pudar, selalu menjawab, “Selamat pagi, anak-anak. Mari kita belajar. Mari kita bermimpi.” (BP / KM)*












