Suratan Takdir

Oleh :Indra Pirmana

 

Kini, sepi menemani

kau tak lagi bersama

waktu begitu cepat memakannya, kain kapan membungkusnya penuh air mata.

Tuhan ….

Hanya hiasan foto di dompet lusuh tak berguna.

Tuhan ….

Kupanggil namanya, kulontarkan suara lantangku. Namun, sepi tetap menemani tidak ada jawaban, “hanyalah kesunyian”.

Aku tunggu disaat langit membiru, dihiasi awan dan matahari menguasai alam.

Aku tunggu disaat senja tiba, langit mulai mencekam ditemani bintang sebagai pemanis, rembulan sebagai penerang.

Tuhan …

Aku selalu memanggil namanya.

Kenapa Engkau begitu cepat mengambil calon pendamping hidupku?

Rahasia apa yang sedang Engkau atur?

Tuhan ….

Kesedihan selalu membungkusku, aku tak berdaya saat mengingatnya.

Kebahagiaan tak berpihak,

jutaan kata sudah kami rangkai bersama lewat rencana.

Aku panggil namanya dengan tulus melalui doa.

Walau dunia kita tak lagi sama,

aku selalu larut dalam kesedihan, mengingat ikatan janji yang sudah kita cita-citakan, bahkan kita tuliskan di tepi pantai.

Biarkan pasir pantai sebagai saksi bisu menghapus janji saat ombak tiba.

Tuhan …

Kini aku sadar, ini kehidupan yang sudah ditakdirkan. Ikuti alur cerita yang diukir oleh Pencipta.

 

Payung 8 Juli 2026

 

Notes : Puisi ini menggambarkan seorang pemuda yang sudah lama menjalin cinta dan mau menikah. Namun Pencipta mengambil terlebih dahulu. Awalnya seorang pemuda ini menolak, kenapa pasangannya pergi begitu cepat? Namun pada akhirnya ia sadar bahwa kehidupan semua sudah diatur oleh Sang Pencipta. Oleh karena itu apabila ada pembaca mengalami hal yang sama, maka percayalah bahwa Pencipta sudah menyiapkan yang terbaik buat umatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *