Karya: Yanto In Action
Antara Gizi dan Racun: Ironi Makan Gratis
Janji terucap, megah di udara,
“Makan Gratis,” seru penguasa.
Harapan merekah, di mata anak sekolah,
Gizi sempurna, bekal masa depan cerah.
Program digulir, nama pun indah,
“Bergizi,” katanya, tanpa celah.
Untuk tunas bangsa, penerus cita-cita,
Agar tumbuh sehat, kuat tak merana.
Namun di balik janji, tersembunyi ngeri,
Bukan gizi yang datang, tapi racun menghampiri.
Piring-piring terhidang, bukan berkah yang tiba,
Melainkan derita, air mata dan duka.
Perut melilit, kepala pening tak terperi,
Bukan kenyang yang didapat, tapi sakit yang menghantui.
Ruang UKS penuh, jerit pilu terdengar,
Ironi menyayat, di tengah janji yang gempar.
Di mana pengawasan, di mana tanggung jawab?
Ketika makanan sehat, jadi penyebab musibah.
Dari mana datangnya, tangan-tangan lalai itu?
Yang menukar gizi, dengan bahaya yang tak terduga.
Kepercayaan terkikis, harapan pun sirna,
Anak-anak trauma, tak lagi percaya.
Bagaimana bisa, sebuah niat mulia,
Berujung malapetaka, di hari yang seharusnya bahagia?
Wahai pemegang kuasa, dengarkanlah rintihan,
Jangan biarkan lagi, keracunan jadi tontonan.
Perbaiki sistem, tegakkanlah keadilan,
Agar makan gratis, tak lagi jadi ancaman.
Antara gizi dan racun, sebuah ironi kelam,
Makan gratis yang pahit, di negeri yang mengancam.
Semoga tak terulang, kisah pilu ini,
Demi masa depan bangsa, yang harusnya berseri.












