Apa itu Juram Daun Sepatu?

Ilustrasi. Sumber: Google

Karya: Naila Aghniya Ilmi (SDIT Bina Insan Mulia, Koba)

 

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi oleh sawah dan hutan hijau, hiduplah seorang anak perempuan yang bernama Hani. Hani adalah seorang anak yang penuh rasa ingin tahu dan suka berpetualang. Setiap hari, Hani selalu mencari hal-hal baru untuk dijelajahi dan dipelajari. Dia tinggal bersama orang tuanya dan adik laki-lakinya yang masih berusia 5 tahun, bernama Huzai, serta kakeknya yang bijak, kakek Hasan.

Suatu hari, Hani sedang berjalan-jalan di sekeliling desa, Hani bertemu dengan kakeknya yang sedang memotong tanaman daun sepatu di kebunnya. Hani penasaran dan bertanya kepada kakeknya, ’’Kakek, apa itu tanaman daun sepatu? Mengapa kakek memotongnya?” Kakek Hasan tersenyum dan berkata, ’’Ah Hani, tanaman daun sepatu ini sangat berguna. Daunnya bisa digunakan untuk mengobati demam. Cukup dimasukkan ke dalam wadah berisi air, lalu dibejek-bejek sampai keluar airnya, lalu juramkan ke atas kepala orang yang sakit, maka demamnya akan turun. Ini biasanya adalah obat tradisional yang dikenal dengan juram daun sepatu.’’

Hani sangat tertarik dengan informasi tersebut dan berjanji kepada dirinya sendiri akan mengingatnya. Hani berpikir bahwa suatu hari nanti, pengetahuan tersebut mungkin akan sangat berguna. Kemudian Hani membantu kakeknya memotong tanaman daun sepatu tersebut dan membawanya pulang ke rumah untuk disimpan.

Tanaman ini memiliki bunga yang indah. Daun sepatu milik kakek, memiliki bunga yang berwarna merah muda serta kelopak bunga yang sempurna. ’’Aku jadi ingin menanamnya di dekat halaman rumahku!’’ gumam Hani. Hani kemudian meminta bibit tanaman tersebut kepada kakeknya. Hani ingin mencoba menanamnya sendiri di rumah. Sesampainya di rumah Hani mencoba menggali tanah sendiri dan mulai menanam tanaman tersebut. Hani berharap tanaman tersebut dapat bermanfaat dan bisa mempercantik halaman depan rumahnya.

Beberapa hari kemudian, Huzai, adik Hani merasa tidak enak badan. Dia demam tinggi dan terus-terusan menangis karena kepalanya sakit dan badannya lelah. Ibu Hani sangat khawatir akan kondisi Huzai dan segera membawanya berobat ke bidan desa. Jangan heran jika mau sakit apapun itu warga akan berobat ke bidan desa. Maklum, jarak antara desa Hani dan dan kota lumayan jauh, itulah kendala kesehatan di desa Hani. Bu bidan Melia segera memeriksa Huzai dan memberinya obat untuk diminum, tetapi ibu Hani masih terlihat khawatir karena Huzai tidak kunjung membaik.

Hani yang melihat ibunya khawatir teringat apa yang dikatakan kakeknya tentang tanaman daun sepatu. Hani segera berlari menuju halaman depan rumahnya tempat di mana ia menanam tanaman tersebut, tetapi Hani terlihat kecewa karena daun tanaman yang ia tanam belum bisa diambil karena masih terlalu kecil dan baru selang seminggu ia tanam. Hani pun teringat kalau tanaman ini tumbuh subur di kebun kakeknya.

Kemudian Hani segera berlari menuju kebun milik kakeknya. Sesampainya di kebun Hani mencari tanaman daun sepatu yang baru saja dilihatnya beberapa hari yang lalu. Setelah menemukannya Hani memetik beberapa daun dan membawanya pulang kerumah. Di dapur rumahnya dengan tekad kesembuhan adiknya Hani membejek-bejek daun-daun tersebut dengan harapan daun-daun ini mampu menjadi wasilah kesembuhan sang adik. Air tersebut berubah menjadi lendir yang kental. Hani membawa wadah berisi air bejekan daun sepatu tersebut ke kamar adiknya.

Awalnya ibu Hani sedikit ragu tetapi karena melihat semangat Hani dan penjelasannya tentang tanaman daun sepatu, akhirnya ibunya mau mencoba. Mereka menjurami kepala Huzai dengan air bejekan daun sepatu tersebut. Beberapa jam kemudian, Huzai merasa lebih baik, demamnya mulai turun dan dia bisa tidur dengan nyenyak.

Ibu Hani sangat gembira melihat Huzai membaik. Ibu Hani pun memuji Hani karena telah menggunakan pengetahuan yang didapat dari kakeknya dengan baik. Kakek Hasan yang mendengar kabar tersebut datang ke rumah Hani untuk melihat kondisi Huzai. Saat sampai di rumah Hani kakek melihat kondisi Huzai yang mulai membaik tersenyum bangga dan berkata kepada Hani, ’’Hani kamu telah menggunakan pengetahuanmu untuk membantu orang lain dengan baik. Ingatlah pengetahuan yang kita dapat dari orang lain atau dari pengalaman kita sendiri harus selalu digunakan untuk kebaikan orang lain dan diri sendiri.”

Hani merasa bangga dan bahagia karena telah membantu adiknya. Hani sekarang tahu betapa berharganya pengetahuan yang kita dapat dari orang yang lebih berpengalaman seperti kakeknya. Sejak itu, Hani semakin giat belajar dan selalu mencari hal-hal baru yang bisa digunakan untuk membantu orang lain.

Dengan demikian, Hani tumbuh menjadi anak yang cerdas, peduli, dan siap membantu orang lain dengan ilmu pengetahuannya. Dan kakek Hasan akan menjadi sumber inspirasi dan pengetahuan bagi Hani dan anak-anak desa yang lain.

 

Tulisan ini merupakan karya peserta Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Tahun 2025 Tingkat Kecamatan Koba. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *