Beraben Gasing Sebagai Tradisi Peregangan Otot dalam Budaya Besaoh Masyarakat Kecamatan Simpang Rimba

Dwikki Ogi Dhaswara, S.Sos.,M.M (Pamong Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Selatan)

Foto Beraben Gasing

Bekaespedia.com_Beraben gasing merupakan salah satu tradisi masyarakat lama yang berkembang di wilayah Depati Permisan, yang kini menjadi bagian dari Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan. Tradisi ini dikenal dan dipraktikkan secara luas di beberapa desa, seperti Desa Permis, Desa Rajik, Desa Sebagin, Desa Simpang Rimba, Desa Bangka Kota, Desa Gudang, dan Desa Jelutung II.

Berdasarkan keterangan lisan Sep Amir (85 tahun) selaku maestro tradisi dan Kulul Sari (55 tahun) sebagai pelaku budaya Beraben Gasing, sekaligus Ketua Lembaga Adat Melayu Bangka Selatan, Beraben Gasing duluya tidak hanya dipahami sebagai permainan tradisional saja, melainkan sebagai bagian dari aktivitas pemanasan tubuh sebelum masyarakat melakukan pekerjaan berat, khususnya dalam kegiatan membuka lahan atau dikenal dengan tradisi Besaoh.

Besaoh merupakan bentuk kerja sama atau tolong-menolong antaranggota masyarakat yang dilakukan secara bersama-sama dan bahu-membahu dalam aktivitas membuka, membersihkan, maupun menebas lahan untuk dijadikan kebun dan ladang, prinsipnya (Ku Nulong Ka, Ka Nulong Ku) yang artinya saya membantu kamu, kamu membantu saya. Kegiatan ini dilakukan secara bergantian tolong-menolong serta bahu-membahu antara individu ke individu lainnya sampai pembukaan lahan yang dimiliki oleh mereka dikerjakan selesai bergantian.

Tradisi ini tumbuh dalam kehidupan masyarakat agraris di Kecamatan Simpang Rimba yang sebagian besar mereka menggantungkan hidup pada kegiatan berladang (beume) dan berkebun. Aktivitas berladang dan berkebun dianggap sebagai kebutuhan pokok yang harus dilakukan hampir di setiap keluarga. Oleh karena itu, pekerjaan membuka lahan dilakukan secara kolektif agar pekerjaan terasa lebih ringan dan cepat selesai. Dalam konteks inilah Beraben Gasing hadir sebagai bagian dari tahapan awal sebelum proses pembabatan atau penebangan hutan itu dilakukan.

Beraben Gasing atau “Beradu Gasing” dilaksanakan sebagai sarana peregangan otot atau pemanasan tubuh, terutama untuk melatih kekuatan lengan sebelum melakukan aktivitas berat seperti menebas hutan atau lahan. Kegiatan ini dilakukan secara sederhana dan bersama-sama tanpa aturan khusus. Hal terpenting dalam pelaksanaannya ialah fungsi gerakan memutar gasing sebagai cara untuk mempersiapkan kondisi fisik masyarakat sebelum bekerja.

Arena permainan biasanya dilakukan di halaman rumah atau area tanah datar dan keras. Para warga yang akan ikut Besaoh, mulai dari dua hingga sepuluh orang atau lebih, secara bersama-sama memutarkan gasing pada area yang telah ditentukan sebelum berangkat menuju lokasi lahan yang akan dibuka.

Dulunya, Beraben Gasing identik dengan aktivitas para laki-laki karena berkaitan langsung dengan pekerjaan menebas dan membuka hutan atau lahan. Namun, seiring perubahan zaman, fungsi tradisi ini mulai mengalami pergeseran. Beraben Gasing kini lebih sering dipandang sebagai permainan tradisional yang menonjolkan unsur ketangkasan, seperti melihat siapa yang mampu memutar gasing paling lama. Meskipun demikian, makna awalnya sebagai tradisi pemanasan sebelum bekerja masih tetap dikenang oleh sebagian orang tua di Kecamatan Simpang Rimba.

Sebagai tradisi di masyarakat, Beraben Gasing mengandung berbagai nilai budaya yang penting. Dari sisi kesehatan, tradisi ini memiliki fungsi sebagai sarana pemanasan dan peregangan otot sehingga tubuh lebih siap melakukan pekerjaan berat. Aktivitas tersebut membantu mengurangi ketegangan otot dan mempersiapkan stamina masyarakat sebelum bekerja.

Selain itu, tradisi ini juga mengandung nilai solidaritas dan gotong royong karena dilakukan dalam konteks kebersamaan sebelum masyarakat melaksanakan Besaoh. Nilai sportivitas, kesabaran, ketangguhan, serta tanggung jawab juga tercermin dalam aktivitas memainkan gasing secara bersama-sama. Dalam kehidupan masyarakat tradisional, Beraben Gasing bahkan dipahami sebagai bagian dari rasa syukur atas kesempatan bekerja dan memperoleh hasil dari alam. Sebelum permainan dilakukan, sebagian masyarakat juga memanjatkan doa sebagai bentuk harapan akan keselamatan dan keberkahan dalam bekerja.

Secara budaya, Beraben Gasing memiliki makna yang erat kaitannya dengan identitas masyarakat di Kecamatan Simpang Rimba. Tradisi ini menjadi simbol kesiapan fisik dan mental sebelum memulai pekerjaan bersama. Di samping itu, Beraben Gasing juga mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan alam, karena lahir dari tradisi berladang dan berkebun di masyarakat yang sangat bergantung pada kondisi lingkungan. Tradisi ini sekaligus menjadi media pewarisan nilai-nilai sosial dan pendidikan karakter bagi generasi muda, seperti pentingnya kerja sama, kebersamaan, serta penghormatan terhadap tradisi leluhur. Kesederhanaan alat yang digunakan, yakni gasing kayu dan tali pemutar dari bahan tradisional, turut menunjukkan karakter masyarakat yang dekat dengan alam dan memanfaatkan sumber daya sekitar secara sederhana.

Pelaksanaan Beraben Gasing diwariskan secara turun-temurun melalui praktik langsung dalam kehidupan masyarakat. Anak-anak dan generasi muda mempelajari tradisi ini dengan cara ikut serta dan mengamati pelaksanaannya sebelum kegiatan membuka lahan dilakukan. Hingga saat ini, beberapa pelaku budaya yang masih dikenal dalam tradisi Beraben Gasing antara lain Kulul Sari, Sumardoni, Mang Farel dan Saihur Rahmi. Keberadaan mereka menjadi penting sebagai bagian dari pewaris pengetahuan tradisional di tengah perubahan sosial masyarakat.

Namun demikian, keberadaan Beraben Gasing saat ini menghadapi berbagai tantangan. Berkurangnya aktivitas berladang dan berkebun tradisional, perubahan pola kerja masyarakat, serta menurunnya keterlibatan generasi muda menyebabkan tradisi ini mulai sudah berkurang.

Modernisasi dan perubahan orientasi pekerjaan masyarakat turut memengaruhi keberlanjutan tradisi yang dahulu menjadi bagian penting dalam kehidupan agraris masyarakat di Kecamatan Simpang Rimba. Jika tidak dilakukan upaya pelestarian dan dokumentasi secara berkelanjutan, Beraben Gasing berpotensi mengalami penurunan bahkan hilang dari kehidupan masyarakat di masa mendatang.

Oleh karena itu, tradisi ini tidak hanya penting dipahami sebagai sarana peregangan otot dan permainan rakyat, tetapi juga sebagai warisan budaya yang merekam nilai kebersamaan, kesehatan, dan identitas budaya masyarakat di Bangka Selatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *