Oleh : Kulul Sari
Bekaespedia.com, Gudang-Simpang Rimba, -Walau rambutnya telah memutih, namun warga tetap memanggilnya dengan nama yang melekat sejak ia bayi : Bujang. Lengkapnya, Bujang Gedeng. Ia sudah mempunyai anak dan cucu.
Ia merupakan cicit dari Batin Tikal, seorang pejuang tangguh yang dulu ditakuti Belanda dan disegani kawan seperjuangan.
Bujang Gedeng memiliki Ilmu kanuragan yang ia dapatkan dan ia warisi secara turun-temurun, dari ayah hingga kakeknya. Kelebihannya ini ia gunakan untuk menolong, menjaga marwah kampung, dan sesekali… mengerjai mereka yang kurang ajar.
Suatu hari, ketika balatentara Jepang memasuki Bangka dan hendak menunjukkan kuasa, mereka sampai ke Kampung Gudang.
Desa tenang yang mereka kira tak berbahaya. Mereka tidak tahu, tanah sunyi itu diam-diam dihuni para ahli tenaga dalam yang cukup ditakuti dan disegani, salah satunya adalah Bujang Gedeng.
Di depan sebuah surau, beberapa tentara Nippon berhenti. Perjalanan jauh yang mereka lalui membuat tenggorokan mereka kering. Apalagi selama dalam perjalanan mereka kehabisan bekal.
Dan di depan surau itu mereka melihat beberapa batang kelapa menjulang di depan sebuah rumah panggung kayu dengan buahnya yang menggoda selera.
Di teras, duduk seorang kakek berkain sarung lusuh, menghisap rokok daun nipah dengan santai. Di dalam, seorang nenek menyiapkan sirih. Pohon kelapa itu milik mereka.
“Abok, Abok! Boleh kami ambil kerapa ini?” tanya salah satu tentara Jepang, menghampiri sang kakek.
Dengan sedikit pelan, tanpa angkat alis, sang kakek menjawab,
“Silakan, tapi panjat sendiri.” jawabnya datar.
Sang kakek sejak awal sudah tahu kalau mereka adalah penjajah yang hendak menindas rakyat Bangka.
Sementara itu, tentara dai Nippon tak sadar, bila orang tua itu bukan sembarang kakek, dialah Abok Bujang Gedeng, lelaki dengan mata teduh tapi menyimpan rahasia ilmu dahsyat.
Sang komandan Jepang memandang buah kelapa yang tinggi, lalu bertanya pada pasukannya dalam bahasa Jepang:
“Minasan, ada yang bisa panjat?”
Tak satu pun menjawab. Mereka prajurit terlatih, tapi tak satupun terbiasa memanjat pohon menjulang. Komandan mulai kesal dan melirik Abok.
“Abok, tidak ada warga lain di kampung ini? Suruh bantu kami!” katanya sedikit memaksa.
Abok Bujang Gedeng menggeserkan sedikit posisi duduknya. Walau ubannya sudah memutih, namun pendengaran dan pandangannya masih sangat tajam.
Abok hanya tersenyum tipis.
“Mungkin mereka di ladang. Tapi, kalau tuan mau cepat… ditembak saja buahnya.” kata sang kakek
Tentara itu mengerutkan kening.
“Tembak kelapa? Apa bisa?. Ah….Buang peluru saja!” gerutunya
“Tidak ada yang mustahil, coba saja” sahut Abok dengan nada enteng namun mengandung tantangan.
Karena penasaran, mereka menembak buah kelapa.
“Dor! Peluru hanya melukai kulit kelapa, airnya menetes pelan. Tentara lain ikut mencoba, hasilnya sama, mereka malah berebut menengadahkan mulut di bawah air kelapa yang bocor!
Melihat tingkah tentara dai Nippon, sang kakek berdiri dan menghampiri mereka.
“Pinjam senapangnya, biar saya yang menembaknya.” pintanya
Melihat sang kakek berdiri dan meminta untuk menembak buah kelapa, tawa mereka pecah.
“Hahaha! Abok tua mau tembak kelapa? Kami yang terlatih saja tak bisa, apalagi Abok!” kata salah satu diantara mereka
Abok tidak tersinggung.
“Abok memang tak biasa pegang senapan. Tapi bukan berarti Abok tak bisa. Sini senapangnya”, pinta Abok Bujang Gedeng seakan memaksa
Karena merasa menang, komandan dengan setengah mengejek menyerahkan senjatanya.
Abok Bujang Gedeng malah mengarahkan senapan ke arah belakang rumahnya, bukan ke atas pohon kelapa.
Belum sempat mereka protes,
“DUAAAR!”
Suara dentuman membelah udara.
Beberapa detik kemudian…gedebuk! Sebutir kelapa jatuh tepat di tanah di depan mereka.
Mereka saling pandang. Mulut ternganga. Abok mengembalikan senapan sambil berkata santai, “Tuh, satu. Silahkan diambil”, katanya
Belum sempat mereka pulih dari keterkejutan, Abok bicara lagi,
“Isi lagi pelurunya. Abok mau ambil satu lagi.” tegasnya
Abok Bujang Gedeng langsung mendekati yang lain dan mengambil senapannya.
Dengan wajah setengah takut setengah penasaran, senapan disodorkan. Kali ini ia ujung senapan di arahkan ke timur.
“Duaarrr!” Tiba-tiba Abok Bujang Gedeng langsung menarik pelatuk dan menembakkannya,
Dan… buk! kelapa kedua jatuh menggelinding tidak jauh dari mereka berdiri
Suasana sunyi. Nafas tentara mulai pendek. Mereka saling pandang mengagumi kemahiran sang kakek.
Abok tak berhenti sampai di situ. Ia ambil lagi satu senapan, mengarahkannya ke tanah, tak menjurus ke mana pun.
“Duaarrrrr!”
Tiba-tiba : Brak, Brak, Brak! satu tandan kelapa rontok serentak seperti dihantam tangan gaib.
Wajah tentara Nippon pucat. Keringat mereka lebih deras daripada air kelapa menetes.
“Silakan dinikmati,” ucap Abok Bujang Gedeng tenang, seraya menyerahkan kembali senapan.
Tak ada yang berani bergerak, apalagi memungut buahnya.
“Te… terima kasih… Bok,” kata sang komandan terbata, lidahnya nyaris berbelit. Dalam pikirannya: “kalau kakek tua ini bisa merobohkan kelapa dari jarak tak terlihat, apalagi kalau ia hendak menghabisi mereka, tentu sangat mudah”,
Dengan gugup, rombongan itu buru-buru pamit. Abok sempat menggoda, “Eh, ini kelapanya diminum dulu.”
Mereka malah mempercepat langkah mereka, dan dalam waktu singkat sudah menghilang. Abok Bujang Gedeng hanya tersenyum melihat mereka menghilang di balik rimbun daun, seolah baru saja mengusir ayam kampung, bukan serdadu penjajah. (Koes549)
*Kisah ini dituturkan oleh Asri Timpang, cicit Abok Bujang Gedeng, sekitar tahun 1980-an.
Sampai hari ini, warga Kampung Gudang masih menyebutnya dengan bangga sebagai kakek sakti yang membuat tentara Jepang ketakutan
(Penyampar, 15 Oktober 2025)












