Oleh:Syabaharza
Bekaespedia.com, Bangka Selatan,- Mobiitas lalu lintas yang semerawut sore itu adalah tanda bahwa saat itu sudah waktu pulang bekerja. Seperti biasa jika masa bekerja selesai maka keadaan di pertigaan lampu lalu lintas itu akan kacau. Semua pengendara berebut ingin mendahului tanpa memperdulikan keadaan traffict light. Bagi mereka, warna lampu yang menyala sama saja. Semua lampu berwarna hijau, sehingga setiap lampu yang menyala adalah tanda untuk melajukan kendaraan. Anehnya, walau situasinya seperti itu jarang sekali terjadi kecelakaan. Resiko kecilnya paling hanya saling serempet satu sama lain. Dan hal itu bisa dimaklumi oleh pengendara lain. Biasanya setelah insiden saling serempet itu, mereka sibuk dengan kendaraannya masing-masing, setelah memastikan kondisi kendaraan aman, mereka langsung berlalu melanjutkan perjalanan tanpa sedikitpun bersimpati kepada lawannya.
Yang jadi pertanyaan, kenapa kondisi seperti itu hanya terjadi di lampu lalu lintas pertigaan saja. Sedangkan di lampu lalu lintas perempatan semua normal-normal saja. Di lampu lalu lintas perempatan semua pengendara seolah orang-orang yang palinng patuh.Ada petugas atau tidak ada petugas yang berjaga lampu lalu lintas perempatan selalu tertib.
Jika dilihat dari posisinya, lampu lalu lintas pertigaan itu sebenarnya mempunyai tugas yang sangat urgen. Jika pengendara bisa membedakan warna dan mengetahui arti warna lampu yang menyala, kesemerawutan itu bisa di atasi. Semisal ketika lampu hijau menyala di satu pihak, maka pihak yang masih lampu merah menyala dapat menahan diri agar tidak berjalan dulu. Begitu juga sebaliknya. Namun di daerah itu hal demikian bagai mengharapkan bulan mendatangi pungguk. Sebuah penantian yang mustahil terjadi.
Keanehan lain yang sangat kentara di lokasi itu, tatkala ada seseorang yang faham tentang arti warna lampu traffict light dan mengamalkan kefahamannya itu, maka siap-siapakan dibully. Mulai bullyan verbal sampai bullyan berbentuk tindakan. Pernah suatu hari ada seseorang yang berhenti ketika lampu berwarna merah menyala. Dengan santai ia menghentikan motor yang dikendarainya di depan lampu warna merah, namun tanpa diduga ia mendapatkan teriakan dari pengendara lain di belakangnya.
“jangan sok patuh, oy”
Setelah itu mereka menggeber kendaraannya melaju dengan kecepatan tinggi.
Yang lebih seram lagi, pernah suatu ketika ada pengendara yang juga mencoba tertib berlalu lintas ditabrak dari belakang oleh pengendara lain. Alasannya karena pengendara yang patuh itu menghalangi laju kendaraannya. Akibatnya pengendara yang patuh itu mengalami luka di kaki tanpa tahu harus meminta pertanggungjawaban kepada siapa.
*****
“kalau ada polisi yang berjaga, di sana baru tertib” ujar seseorang penikmat kopi.
Sambil menoleh ke arah persimpangan lampu lalu lintas yang semerawut. Secangkir kopi hitam yang hangat menemaninya.
“betul,coba setiap hari ada petugas yang berjaga” tukang kopi menimpalinya.
“tidak mungkin kalau setiap hari polisi berjaga di situ”
Penikmat kopi tadi menyahut sambil menyeruput kopi hitamnya yang kental. Dari komposisi kopinya bisa ditebak rasanya pasti pahit, karena kuantitas kopinya jelas-jelas mengalahkan manisnya gula.
“perlu kesadaran pengendara untuk bisa tertib”
Ia kembali menyeruput kopinya. Kali ini ia mengambil roti coklat yang ada di piring dan dicelupkannya ke cangkir kopinya.
“saya yakin semua pengendara itu mngetahui arti warna lampu yang menyala”
Kali ini penikmat kopi itu menatap tukang kopi, seolah meminta persetujuan dari pernyataannya tadi. Tukang kopi hanya manggut-manggut.
“dari pakaian mereka, terlihat kalau mereka adalah orang-orang terpelajar”
“betul. Dan saya juga yakin mereka bukan termasuk golongan defisiensi penglihatan warna.””Kali ini tukang kopi yang membuat pernyataan. Pernyataan yang sangat menohok bagi pelanggar lampu lalu lintas itu. Terlihat tukang kopi itu menunjukkan gesture yang kesal ketika melontarkan pernyataan itu.
“andai semua pengendara seperti beberapa pengendara yang taat itu, pasti lampu lalu lintas itu akan menjalankan tugasnya sesuai dengan SK yang diterimanya” tukang kopi menutup pernyataan.
Penikmat kopi hanya tersenyum melihat tukang kopi yang mewakili perasaan sebagian warga yang taat lampu lalu lintas.
*****
“aku pernah bermimpi, kita pindah tugas ke lokasi perempatan”
Sambil berkedip lampu warna merah berbicara kepada lampu warna kuning dan hijau.
“kenapa?”
Lampu warna hijau penasaran.
“jika kita pindah lokasi tugas ke sana, maka kita akan bekerja sesuai fungsi”
Kali ini lampu warna kuning yang berbicara. Lampu warna merah tersenyum karena lampu warna kuning sudah faham dengan maksudnya.
“di sini aku dan si kuning dianggap seperti manakin saja”
Lampu warna merah mengungkapkan perasaannya.
“betul, kita selalu disamakan dengan kamu”
Lampu warna kuning menimpali sambil menunjuk lampu warna hijau.
Pernyataan lampu warna kuning itu sangat betul. Sebab setiap hari para pengendara roda dua ataupun roda empat tidak perduli warna lampu apa yang menyala. Sehingga mereka selalu memutar dan menginjak gas walaupun saat itu lampu warna merah yang menyala.
Lampu warna hijau mengalihkan pandangannya ke lampu lalu lintas perempatan yang berjarak lebih kurang 500 meter dari lokasi mereka. Di sana terlihat beberapa kendaraan berhenti ketika lampu warna merah menyala. Kemudian mereka baru melanjutkan perjalanan setelah lampu warna hijau menyala. Begitulah selanjutnya, pengendara di bagian lain lampu lalu lintas perempatan itu selalu tertib. Diperhatikannya di bawah lampu lalu lintasperempatan itu, siapa tahu ada polisi yang berjaga. Jika ada polisi yang berjaga maka wajar pengendara di sana tertib semua. Namun setelah dilihat dengan saksama, tidak ada satupun petugas yang berjaga. Hanya ada suatu bangunan berukuran 2×2 dan bertuliskan “Kami Siap Melayani Anda.” Posisi bangunan itu hanya berjarak 1 meter dari lampu lalu lintas perempatan itu.
“aku benar-benar iri dengan mereka”
Lampu warna merah kembali membahas kecemburuannya terhadap traffict light perempatan itu. Lampu warna hijau mengarahkan pandangannya menghadap lampu warna merah.Setidaknya ia menunjukkan rasa simpatinya.
Fenomena selama ini jelas menguntungkan lampu warna hijau. Karena kelakuan pengendara di lampu lalu lintas pertigaan itu jelas mensupport tugasnya. Sehingga ketika lampu warna merah dan warna kuning mengungkapkan kekecewaan dan keinginan mereka untuk pindah tempat diresponnya dengan biasa saja.
*****
Pagi itu suasana di lampu lalu lintas pertigaan sangat ramai. Kali ini sebagian besar kendaraan menghentikan laju kendaraannya. Ada yang memasang standar motornya, ada yang masih duduk di atas motornya tapi dalam posisi berhenti. Ada yang berteriak-teriak. Di sudut yang lain terlihat kerumunan warga. Pemandangan yang kontras jika dibanding hari-hari sebelumnya.
“hari ini kita jadi mogok kerja, kan?”
Tanpa menghiraukan situasi di bawah mereka, lampu warna merah berbicara kepada lampu warna kuning. Lampu warna merah ingin memastikan rencana mereka berdua kemarin, yaitu melakukan protes dengan cara mogok kerja. Lampu warna hijau tidak diajak karena kemarin menolak. Protes itu mereka lakukan sebagai ungkapan kekecewaan terhadap saudara mereka yang bertugas di perempatan. Tuntutan mereka cuma satu. Dipindahtugaskan ke lokasi yang lebih dihargai.
“ayo kita mulai”
Lampu warna kuning menimpali dengan penuh semangat. Dan dalam hitungan detik mereka berdua memulai aksinya. Lampu warna merah dan lampu warna kuning berkedip tanpa aturan membuat silau mata yang melihatnya. Biasanya jika seperti itu akan datang petugasuntuk melihat dan memeriksa. Nah…itulah yang diharapkan lampu warna merah dan lampu warna kuning. Nanti petugas akan datang mengambil mereka dan mengganti dengan yang baru,setelah itu mereka akan ditempatkan ke lokasi yang baru, karena lokasi mereka sudah ditempati yang lain.
Sudah hampir lima belas menit mereka berkedip tanpa irama. Belum juga ada yang menghampiri mereka. Bahkan beberapa detik yang lalu ada yang melempari mereka, karena cahaya mereka mengganggu, untung saja lemparan itu meleset. Asa mereka mulai memudar seiring memudarnya kerlipan mereka. Rasa kecapaian sudah merongrong mereka.
“liw…liw….liw…liw…liw…liw…liw”
Bunyi sirine itu mengagetkan lampu warna merah dan lampu warna kuning yang sudah mulai lemas. Semangat mereka mendadak bangkit lagi. Mereka yakin itu bunyi kendaraan petugas yang akan memperbaiki mereka dan artinya itu akan menyelematkan mereka.
Perlahan kendaraan itu mendekat. Lampu sirinenya sangat terang mengalahkan warna mereka. Semakin dekat semakin berdebar perasaan mereka. Dalam hati mereka perubahan akan segera datang kepada mereka. Namun ketika kendaraan itu sudah benar-benar di bawah mereka. Rasa lemas kembali benar-benar membunuh mereka.
Kendaraan bertuliskan Ambulance itu pergi kembali membawa korban kecelakaan yang terjadi tepat di bawah lampu lalu lintas pertigaan itu. Suara kendaraan itu berangsur menghilang ditelan bisingnya kendaraan di bawah lampu lalu lintas pertigaan itu. Kendaraan kembali kacau. Lampu warna merah dan lampu warna kuning juga mulai kehilangan kekuatannya, sehingga dari kejauhan cahaya mereka hanya terlihat seperti setitik cahaya kecil.
*Syabaharza adalah nama pena dari Syamsul Bahri Arza. Ia adalah seorang guru di MTs Al-Hidayah. Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang berdiam di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di syamsulpemulutan81@gmail.com












