Dari Bangka Barat ke Jakarta: Perjalanan Menjemput Cahaya Literasi Bangka Barat 

Laporan : Belva Al Akhab

Bekaespedia.com, Jakarta,- Selasa pagi, 21 Oktober 2025, dua sosok dari Bangka Barat tampak melangkah mantap menuju gedung megah Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat. Mereka bukan sekadar tamu daerah yang datang membawa dokumen, tetapi pembawa harapan dari pulau kecil di ujung barat Bangka yaitu harapan tentang buku, tentang pengetahuan, tentang masa depan.

Mereka adalah Wakil Bupati Bangka Barat, Yus Derahman, dan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Farouk Yohansyah. Keduanya datang dengan misi sederhana namun bermakna besar memperjuangkan literasi bagi masyarakat Bangka Barat. Di ruang tamu Deputi II lantai pertama Perpusnas, keduanya diterima langsung oleh Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Adin Bondar.

Pertemuan itu dimulai dengan sapaan hangat dan cerita ringan. Namun di balik suasana santai, terjalin percakapan serius tentang arah literasi di daerah. Yus Derahman menyampaikan bahwa di Bangka Barat, perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi ruang hidup yang menumbuhkan harapan dan menguatkan karakter masyarakat.

“Kami ingin literasi hadir di setiap pelosok, agar anak-anak di desa tak kehilangan akses pada pengetahuan,” ungkap Yus Derahman, suaranya tenang namun penuh keyakinan.

Farouk Yohansyah kemudian menjelaskan program-program unggulan daerah, seperti Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) dan Bahan Bacaan Bermutu (BBB). Program itu telah menjadikan perpustakaan desa sebagai pusat kegiatan masyarakat, tempat warga belajar, berinovasi, dan bahkan membangun usaha kecil.

Perjuangan Menjemput Mobil Perpustakaan Keliling

Namun perjuangan literasi di Bangka Barat masih dihadang satu kendala: akses. Banyak desa terpencil sulit dijangkau, sementara keinginan membaca semakin tumbuh. Karena itulah, Pemkab Bangka Barat datang membawa permintaan penting bantuan mobil perpustakaan keliling dari Perpusnas RI.

“Bagi kami, mobil itu bukan sekadar kendaraan, tapi jembatan menuju masa depan. Ia membawa buku, dan di dalam buku ada kehidupan,” ujar Yus Derahman dengan nada yang nyaris puitis.

Deputi Adin Bondar menyambut hangat permohonan itu. Ia mengapresiasi langkah konkret Pemkab Bangka Barat dalam menumbuhkan budaya baca di akar masyarakat. “Bangka Barat termasuk daerah yang progresif dalam mengembangkan literasi. Kami akan dukung, dan permohonan ini akan kami proses sesuai mekanisme tahun depan,” ujarnya.

Selain memberikan sinyal positif untuk pengajuan proposal bantuan mobil keliling, Perpusnas juga berjanji menggelar event literasi berskala nasional di Kabupaten Bangka Barat pada tahun mendatang.

Bagi Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, kunjungan ini bukan sekadar urusan administrasi, tetapi perjalanan spiritual yaitu sebuah langkah menjemput cahaya pengetahuan. Di tengah derasnya arus digital, mereka memilih untuk tetap percaya pada kekuatan buku.

“Perpustakaan itu bukan hanya bangunan, tapi jiwa dari pengetahuan,” kata Farouk Yohansyah di akhir pertemuan. “Selama masih ada orang yang ingin membaca, selama itu pula cahaya peradaban akan hidup.”

Kini, setelah pertemuan itu usai, langkah kecil dari Bangka Barat meninggalkan jejak besar di gedung Perpusnas RI. Kunjungan tersebut menegaskan satu pesan penting: literasi adalah hak setiap warga, bukan hanya mereka yang tinggal di kota besar.

Dengan semangat yang tak pernah padam, Pemkab Bangka Barat terus bergerak dari desa ke desa, dari pantai hingga perbukitan membawa buku, membawa harapan. Karena bagi mereka, setiap lembar yang terbaca adalah langkah menuju masa depan yang lebih terang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *