Dari Dapur Desa, Negara Hadir: Yus Derahman Luncurkan Makan Bergizi Gratis di Penyampak

Laporan : Belva & Tim

Bekaespedia.com, Mentok, Bangka Barat — Di sebuah bangunan sederhana bercat biru-putih di Desa Penyampak, Kecamatan Tempilang, Jumat siang (9/1/2026), negara tidak hadir dalam bentuk pidato panjang atau baliho megah. Ia hadir dalam nampan-nampan stainless berisi nasi, lauk bergizi, sayur segar dan buah disusun rapi, bersih dan siap dibagikan.

Di antara deretan nampan itu, Wakil Bupati Bangka Barat, H. Yus Derahman, berdiri sejajar dengan aparat TNI-Polri, tenaga kesehatan, guru dan para ibu dapur. Tidak ada jarak simbolik. Tidak ada sekat kekuasaan. Yang tampak justru kehadiran kepemimpinan yang turun langsung, menyentuh urusan paling dasar rakyat yaitu makan dan tumbuh dengan layak.

Hari itu, Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Desa Penyampak resmi diluncurkan. Namun lebih dari sekadar peresmian program, peristiwa ini menjelma menjadi panggung legitimasi sosial atas gaya kepemimpinan Yus Derahman yang kolaboratif, membumi dan terukur.

Dalam salah satu momen yang terekam kamera, Yus Derahman bersama Camat Tempilang, Rusian, unsur TNI dan tokoh masyarakat mengangkat langsung nampan makan bergizi. Adegan itu bukan sekadar seremoni foto. Ia adalah simbol dalam pemimpin yang berani memikul langsung amanat kebijakan.

Menu sederhana seperti nasi, ayam, tahu, sayur, dan buah menjadi metafora keberhasilan kebijakan pusat yang diterjemahkan secara lokal. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang digagas pemerintah pusat di bawah Presiden Prabowo Subianto, menemukan bentuk nyatanya di dapur desa, bukan di meja rapat.

“Program ini bukan sekadar membagikan makanan, melainkan investasi jangka panjang untuk membentuk SDM Indonesia Emas dengan sehat, cerdas, dan unggul,” tegas H. Yus Derahman dalam sambutannya, disambut tepuk tangan para tamu undangan.

Keberhasilan MBG di Desa Penyampak tidak berdiri di atas satu institusi. Di dalam ruangan dapur, tampak tenaga kerja lokal, mayoritas ibu-ibu desa, mengenakan celemek dan sarung tangan, berdiri berjejer rapi. Mereka bukan hanya pekerja dapur. Mereka adalah wajah ekonomi desa yang bergerak.

Kehadiran Kapolsek, Danpos TNI, Plt. Disdikpora, Puskesmas, PKK, kepala sekolah, hingga tokoh agama, menunjukkan satu hal bahwa Yus Derahman berhasil menjahit ego sektoral menjadi kerja kolektif.

Camat Tempilang, Rusian, S.Km, M.H., menyebut program ini sebagai pintu masuk kebangkitan ekonomi desa. “Bahan baku seperti ayam, sayur, tahu, dan kebutuhan dapur lain bisa disuplai oleh BUMDes atau kelompok masyarakat. Ini bukan hanya soal gizi, tapi juga perputaran ekonomi lokal,” ujarnya.

Di sudut ruangan, seorang guru SDN 18 Tempilang menyeka matanya.

“Anak-anak sekarang datang ke sekolah bukan hanya membawa buku, tapi juga harapan. Mereka belajar dengan perut kenyang,” katanya lirih.

Sementara itu, seorang anak PAUD As Salwa, menggenggam sendok dengan wajah sumringah, berkata polos.

“Aku suka ayamnya. Enak.”

Kalimat sederhana itu lebih kuat dari seribu laporan statistik. Di sanalah kebijakan menemukan maknanya ketika angka berubah menjadi senyum.

Secara nasional, program MBG masih menghadapi tantangan dari distribusi hingga standar mutu. Presiden Prabowo sendiri mengakui perlunya pengawasan berkelanjutan agar kualitas tetap terjaga.

Di Bangka Barat, Yus Derahman mengambil pendekatan preventif melibatkan yayasan berpengalaman, menetapkan standar dapur bersih, serta membuka ruang dialog. Ia bahkan mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi isu negatif di media sosial.

“Jika ada kekurangan, selesaikan dengan musyawarah. Negara hadir untuk memperbaiki, bukan saling menyalahkan,” ujarnya.

Pernyataan ini menegaskan gaya kepemimpinan yang tidak reaktif, tetapi solutif.

Dalam foto bersama tenaga dapur, aparat, dan pejabat daerah, terlihat satu pesan kuat bahwa pembangunan tidak harus selalu megah, tetapi harus tepat sasaran.

Dari dapur kecil di Desa Penyampak, H. Yus Derahman membangun narasi besar tentang kepemimpinan yang bekerja dalam diam, tetapi berdampak luas. Ia tidak sekadar mengawal program pusat, melainkan menghidupkannya dengan sinergi, empati dan keberanian turun langsung.

Di Bangka Barat, politik tidak lagi sekadar janji. Ia hadir dalam nasi hangat, lauk bergizi dan masa depan anak-anak yang lebih pasti.

Exit mobile version