Oleh: Levilya Naquita (Siswa SMPN 1 Pangkalanbaru)
Fella, kamu ingat gak kalau dulu nenekmu sering membacakan kita cerita-cerita dengan ribuan kata yang belum pernah kita dengar sebelumnya saat masih kecil? Aku masih ingat binar di matamu kala itu. Kamu mendengarkan cerita itu dengan seksama dan terus-menerus menceritakannya kembali padaku hingga aku hafal. Anehnya, semua hal itu kembali lagi ke kepalamu saat ini. Kamu terus menunduk sambil tertawa kecil di bawah napasmu, seolah kamu sedang membuka buku harian lama yang kamu tulis kala masih anak-anak.
Langkah demi langkah tertapak ke tanah, perpustakaan yang hendak kita tuju semakin dekat di mata. Kamu mengajakku ke sini untuk mencari ide-ide sebagai bahan untuk menulis tugas cerpen kita. Lonceng kecil berdenting ketika pintu dibuka. Cahaya di ruangan itu agak redup, aku nyaris enggan memasukinya, tapi kamu kemudian menarik tanganku dengan penuh semangat dan mengajakku masuk. “Kamu nungguin apa sih, Sel? Yuk buruan masuk!” Ajakmu dengan tidak sabar sementara aku masih berdiri kaku di sini, berusaha mencari alasan untuk tidak ikut masuk ke sana. Walau akhirnya aku tetap berjalan maju mengikutimu.
Kita pun memasuki perpustakaan itu. Di sana tidak ada pengunjung lain, bahkan penjaga perpustakaan pun tak terlihat. Aku menarik tanganmu lagi sedikit, berusaha mengubah pikiranmu agar kamu tidak lanjut berjalan masuk ke sana, tapi kamu terus berjalan maju tak menggubris. Suasana di dalam ruangan itu terasa aneh. Udaranya terasa ‘dingin’ dengan caranya sendiri. “Kamu yakin kita boleh masuk ke sini Fel?” Tanganku sedikit bergetar ketika kamu terus berjalan maju, menuntunku ke satu demi satu lorong rak-rak buku dengan sejuta aura dingin yang mampu menembus jantungku. “Ya boleh lah, namanya juga perpustakaan umum. Toh pintunya juga tidak dikunci. Barangkali penjaga perpustakaannya sedang sibuk.” Jawabmu dengan tenang seolah menepis segala kekhawatiranku bagai angin.
Kamu terus berjalan maju ke setiap lorong, hingga akhirnya kamu berhenti di depan sebuah rak buku, matamu terpaku ke susunan buku di rak paling atas. Kamu pun melepas tanganku dan berjinjit sedikit untuk meraih salah satu buku tua di antara susunan buku itu. Ketika kamu berhasil meraihnya, kamu tersenyum puas sambil menyapu debu di atasnya dengan tanganmu yang halus. Ku perhatikan kilau di matamu dengan sorot mataku yang penuh ragu. “Itu buku apa sih Fel? Kamu yakin kita butuh buku tua itu?” Tanyaku dengan setengah bercanda, ku pikir kamu akan membalasku dengan tawa, tapi kamu hanya mengangguk yakin dengan tenang, membuatku bungkam seketika. Ada sesuatu dari caramu memegang buku itu yang membuatku merinding.
Kamu buka buku itu bagai ia adalah hal yang sakral. Anehnya, buku yang nampak tua dan lusuh itu terlihat begitu bersih dan rapi di bagian dalamnya. Namun tiba-tiba saja, kata-kata yang tersusun dengan rapi itu mulai menari kesana-kemari, menyemburkan sejuta cahaya ke wajah kita. Aku menoleh ke arahmu dengan kaget seraya berusaha meraih tanganmu, namun terlambat. Cahaya menggelapkan mataku, tenggelamkan kita ke dalam ruang hampa. Benar kan apa kataku? Kamu memang keras kepala ya Fel, tapi anehnya aku tetap saja terus mengikuti langkahmu seperti seekor anjing yang patuh pada tuannya.
Saat kamu membuka mata, kamu sudah melihat sebuah ruang hampa tanpa celah. Kamu menatap ke arahku dengan bingung. Tapi Fella, perhatianku tertuju pada kata-kata yang sudah nyaris tak terlihat itu, begitu pudar dan rapuh. Aku takut Fel, benakku seolah berteriak kencang di dalam sebuah botol kaca. Mulutku membisu tanpa suara. Cahaya yang menyilaukan kemudian muncul di hadapan kita dalam sekejap mata. Muncullah seorang peri kecil bergaun biru dengan rambut keperakan. Ku perhatikan cara matamu terbelalak, seolah kamu masih kaget dengan semua yang kamu lihat. Aku percaya bahwa aku juga sedang membuat ekspresi yang sama denganmu saat ini. “Siapa kamu!?” Tanyamu dengan lantang. “Aku penjaga kata, terima kasih telah datang kemari.” Jawabnya lembut, seolah Ia sudah menantikan kehadiran kita selama ini. Ia pun menghela napas lelah, kemudian melanjutkan ucapannya. “Di sini tersimpan begitu banyak kata yang sudah lama tidak digunakan. Mereka semua akan terus memudar apabila tak kunjung digunakan, dan suatu saat nanti akan menghilang sepenuhnya dan terlupakan.” Jelasnya dengan lirih.
“Oh tidak, bagaimana ini? Kita harus segera menyelamatkan mereka sebelum mereka menghilang sepenuhnya!” Ucapmu dengan khawatir seraya berjalan maju menghampiri si penjaga kata. Kamu memang berani banget ya Fel. Menghampiri semua hal aneh ini bagai tidak ada hal yang terasa mengganggu bagimu, sedangkan aku masih berdiri kaku di sini, berusaha mencerna semua yang aku lihat.
“Kekuatanku sudah semakin melemah, tidak ada lagi hal yang bisa ku lakukan untuk menyelamatkan mereka, tapi kalian manusia bisa. Ucapkan dan gunakan mereka hingga mereka kembali bersinar seperti sedia kala.” Ia tersenyum halus. “Jangan takut, aku akan berusaha untuk terus menemani kalian dengan sisa-sisa cahaya yang ku miliki.” Penjaga kata itu pun menghilang dan melebur menjadi miliaran debu bercahaya. Kamu menatapku dengan yakin sambil menepuk pundakku pelan. “Aku yakin kita pasti bisa Sel!” Semangatmu tanpa rasa ragu. Entahlah Fel, aku tidak tahu harus bilang apa lagi. Semua hal ini gila, tapi caraku tetap tenang hanya karena rasa percayaku padamu bahkan terasa lebih gila lagi.
Kamu berjalan menghampiri sebuah kata yang terlihat kaku dan berduri. “Bengis!” Ucapmu dengan lantang. Kata yang tajam itu kemudian berkobar bagai api yang terkena percikkan air. Aku pun menarikmu mundur dengan segera. “Bengis!!” Ucapmu lagi dengan lebih lantang, bagai tiada rasa takut yang mampu meraihmu. Kata itu pun berhenti berkobar dan perlahan mengeluarkan sinar yang hangat. Bahkan kata yang tajam sekali pun memiliki tempat jika digunakan dengan baik.
Di sudut ruangan, ku lihat sebuah kata yang tampak pudar, nyaris tak terlihat. Tubuhku merinding, gigiku terkatup tanpa membiarkan sepatah kata pun keluar. Aku pun perlahan berusaha mengumpulkan keberanianku dan mengepalkan tanganku dengan lebih erat. “Sukma..” Ku sebut kata itu dengan sedikit keraguan. Cahaya hangat pun kemudian mengitari kita, menambahkan jiwa di setiap langkah kita. Kamu tersenyum ke arahku dengan teduh, bagai melihat seorang anak yang baru bisa berjalan. Kamu kemudian menyentuh sebuah kata yang nampak retak, tergeletak di ‘lantai’. “Lazuardi” sebutmu dengan lembut. Seketika, langit biru mekar membentuk atap dan menyapu gelap. Buatku ingin menertawakan rasa takutku.
Perjalanan dengan suasana hening penuh arti terus berlanjut. Rasa takutku perlahan menyusut bersama kabut, tergantikan oleh harapan dan tekad. Kita terus berjalan maju, mencari lebih banyak kata untuk diselamatkan. Namun tiba-tiba saja sekumpulan awan kelabu yang menyesakkan muncul dan menutupi jalan kita. Ku lihat sebuah kata di antaranya. “Mega.” Ku baca ia tanpa ragu. Awan kelabu itu lalu berubah menjadi awan putih lembut dan terbang kembali ke langit. Kamu kemudian menarik tanganku dengan penuh semangat, mengajakku menuju ke kata yang terakhir. “Menyongsong” Ku sebut kata itu bersamaan denganmu. Debu bercahaya pun kemudian menghiasi sebuah jalan setapak yang menuntun kita ke sebuah portal bercahaya. Aku menatapmu dengan perasaan lega dan bangga. Tapi Fella, kenapa kamu malah kelihatan murung? Bukannya kamu senang ya karena kita sudah berhasil?
Aku pun terus memerhatikanmu yang menunduk seolah terpaku, berusaha memahamimu. “Fella? Kamu kenapa? Yuk buruan masuk ke sana, jangan bikin aku takut deh.” Panggilku padamu yang tak kunjung meresponku. Tak sempat ku memanggilmu lagi, kamu sudah melepas tanganku dan membuatku tersedot masuk ke dalam portal itu sendirian. “Fella!!!” Teriakku ketika portal itu menutup dan meninggalkanmu di tempat itu seorang diri.
“————————–”
“Selyn… Kamu gak apa-apa?” Suara lembut yang familiar menyadarkanku. Ruang hampa yang gelap itu telah berganti menjadi ruang kamarku. Ku lihat kamu yang sedang menyingkirkan helaian rambut yang menempel di dahiku karena keringat ke belakang telingaku. Aku pun langsung bangun dan memelukmu dengan erat. “Aku udah takut setengah mati Fel…” Gumamku, tak berharap kamu dapat mendengarnya. “Mimpi buruk?” Tanyamu sambil mengusap punggungku dengan lembut. “Bukan mimpi buruk juga, hanya saja…“ Aku memotong ucapanku sendiri ketika aku melihat berlembar-lembar kertas untuk menulis cerpen berserakan di seluruh bagian ruang kamarku. Aku sudah ingat sekarang, aku tertidur saat kita sedang mendiskusikan tugas cerpen kita.
Aku pun langsung menatapmu dengan semangat dan menceritakan semua isi mimpiku padamu. Kamu mendengarkan dan memperhatikanku dengan seksama tanpa memotong, bagai ceritaku adalah dunia baru yang sangat menarik perhatianmu. “Gimana kalau kita kembangkan ceritamu untuk membuat tugas cerpen kita?” Tanyamu segera sesaat setelah aku menyelesaikan ceritaku. “Ide bagus tuh! Yuk kita buat!” Jawabku setuju. Kita pun mulai membuat kerangka cerpen kita. Kita mendiskusikan segala hal dengan antusias. Binar di matamu tetap sama ya Fel. Kamu suka cerita, kamu suka petualangan, kamu gemari bahasa. Sampai kapan pun kamu akan tetap menjadi subjek paling menarik untuk ku amati, Fel.
Beberapa hari pun berlalu. Saatnya kita membacakan hasil cerpen kita ke depan kelas. Kamu pun mengangguk ke arahku sesaat dengan yakin. Jantungku berdebar begitu kencang ketika aku berjalan maju ke depan kelas. Tapi caramu berjalan dengan percaya diri buat jantungku belajar mengendalikan detaknya. Bagai kamulah pohon rindang bagi lelahku. Kita pun mulai membacakan cerpen kita. Cerpen dengan beragam kosakata. Beberapa teman kita merasa asing dengan beberapa kata dan mulai menanyakan artinya pada kita. Kamu menjawab mereka semua dengan penuh rasa percaya diri dan antusias.
Aku tersenyum, bahasa bukan hanya sekedar alat bicara, melainkan salah satu warisan budaya yang harus senantiasa dilestarikan. Bahasa itu seperti hubungan persahabatan kita yang mesti senantiasa dijaga agar terus berlanjut. Kamu itu seperti orang usil yang suka menyalakan api sembarangan, dan aku adalah orang yang diam-diam menjaga nyala api itu agar tak padam. Tekad dan keberanianmu selalu menjadi inspirasi terbesarku. Kamu bagaikan sebuah buku yang ingin ku baca hingga halaman terakhir. Bahasa itu ingatan, Fel, tanpa mereka kita kehilangan jati diri kita. (BP/ KM)*
Cerpen ini merupakan karya peserta Lomba Menulis Cerpen dalam rangka memperingati Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia, Bangka Tengah di Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 23 Oktober 2025.












