Bekaespedia.com. Pangkalpinang_Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) menyelenggarakan Betason Buku pada Minggu siang (19/7) bertempat di ruang pertemuan Kantor Camat Rangkui Pangkalpinang. Bertindak sebagai tuan rumah TBM Genangan Ilmu yang dipimpin oleh Rabian Syahbana. Acara yang mengusung tema Merawat Literasi Daerah melalui karya dan Dialog Penulis Bangka Belitung diikuti oleh para peserta dari TBM yang tersebar di Pulau Bangka.
Adapun buku yang dibedah adalah puisi esai yang berjudul Merahnya Luka Samirah Tidak Semerah Luka Negeri Timah karya Rita Orbaningrum yang merupakan guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Mentok, Bangka Barat. Acara yang dimoderatori oleh Sinta sebagai Relima Kota Pangkalpinang menghadirkan para pembedah, Eddy Salahudin yang bertugas sebagai guru Bahasa Indonesia di SMAN 3 Pangkalpinang dan Meilanto, guru SDN 12 Koba. Diskusi yang dipantik oleh Efriyendy Gusti selalu Kepala Kantor Bahasa Kepulauan Bangka Belitung juga turut dihadiri oleh Ustadz Zuhri M. Syazali yang hadir sejak awal sampai berakhirnya acara.
“Kami bersyukur bisa menyelenggarakan kegiatan ini, semoga kegiatan betason buku ini bisa meningkatkan literasi kita di Bumi Serumpun Sebalai, dan ini tindak lanjut dari pertemuan kita dengan Duta Baca Indonesia, Gol A Gong beberapa waktu lalu,” ujar Rabian Syahbana selaku ketua TBM Genangan Ilmu dan Ketua Pelaksana saat memberikan sambutan.
“Puisi esai ini saya tulis dari data-data yang ada. Itu dibuktikan dengan catatan kaki pada puisi esai ini,” sebut Rita Orbaningrum yang sebelumnya membacakan puisi Merahnya Luka Samirah Tidak Semerah Luka Negeri Timah yang membuat suasana hening.
“Puisi esai ini memiliki rima yang sama sehingga enak dibaca, bahasa yang mudah dipahami dan mengangkat isu-isu sosial di sekitar kita,” seperti yang disampaikan oleh Eddy Salahuddin selaku pembedah dari sisi sastra.
Sementara itu Meilanto menyoroti kearifan lokal yang terkandung dalam puisi esai.
“Puisi esai ini sangat kaya kearifan lokal. Mulai dari tambang timah, tenaga kerja, lada, dambus, campak, covid-19 yang ternyata jika ditarik ke belakang semuanya mengandung pesan-pesan yang kaya makna,” papar Meilanto yang menampilkan paparan berdasarkan data dan fakta sumber primer.
Acara dilanjutkan dengan sesi diskusi dan yang menariknya salah satu peserta menanyakan tentang lada yang saat ini mulai ditinggalkan.

Pada kesempatan itu, anggota DPD RI perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Ustadz Zuhri M. Syazali menuturkan bahwa saat ini para pemangku kebijakan akan mengembalikan kejayaan Muntok White Peper dengan bekerja sama dengan perusahaan dan perguruan tinggi.
Kegiatan betason buku ditutup dengan penyerahan piagam penghargaan kepada penulis buku, pembedah dan pembawa acara.
Buku apalagi yang akan dibedah selanjutnya?
Tunggu saja! (BP / KM)*












