Oleh : Meilanto
Sudah lima belas tahun lamanya, pagar tembok rendah yang membatasi rumah Amirul dan gereja kecil di sampingnya tidak pernah terasa seperti pembatas. Bagi Amirul, suara dentang lonceng gereja di hari Minggu adalah alarm alami untuknya bergegas membereskan tempat tidur. Sebaliknya, bagi Albert, suara azan Subuh yang berkumandang dari masjid tempat Amirul mengaji adalah pengingat bahwa ia harus segera bangun untuk belajar sebelum berangkat sekolah.
Mereka tumbuh seperti dua batang pohon yang akarnya saling melilit di bawah tanah, meski dahan mereka mengarah ke langit yang berbeda.
Sore itu, mereka duduk di atas pagar tembok tersebut. Amirul menyesap es teh plastiknya, sementara Albert sibuk dengan sketsa di buku gambarnya.
“Bet, nanti kalau kita kuliah di luar kota, siapa yang bakal dengerin curhatanku?” tanya Amirul sambil melempar kerikil ke selokan.
Albert tertawa, matanya tetap fokus pada kertas. “Ya, kirim surat atau video call-lah. Lagian, doaku ke Tuhan pasti nyampe juga buat kamu, meskipun cara kita ‘ngirimnya’ beda.”
Amirul tersenyum tipis. “Aku kadang mikir, orang-orang di luar sana kok ribut banget soal perbedaan kita, ya? Padahal kita cuma beda cara nyebut nama-Nya doang.”
“Mungkin mereka kurang ngopi bareng di atas pagar,” sahut Albert Santai sambil tertawa.
Keadaan berubah saat memasuki semester akhir SMA. Albert mulai sering absen. Pagar tembok itu lebih sering dihuni Amirul sendirian. Ketika Amirul berkunjung, ia hanya mendapati Albert terbaring dengan wajah pucat di balik selimut. “Cuma kecapekan, Rul,” dalihnya selalu.
Namun, “kecapekan” itu punya nama medis yang menyeramkan: Leukemia.
Malam itu, hujan turun sangat deras. Amirul mendapat pesan singkat dari Ibu Albert yang memintanya datang ke rumah sakit. Dengan jantung yang berdegup kencang, Amirul berlari menembus hujan. Di ruang ICU yang dingin dan berbau antiseptik, ia melihat sahabatnya terpasang berbagai alat medis.
Albert membuka matanya sedikit. la tidak bisa banyak bicara. la hanya menunjuk ke arah sakunya. Amirul menemukan sebuah kalung salib kecil milik Albert yang talinya sudah putus, dan sebuah buku sketsa.
“Jaga… pagar kita!” bisik Albert hampir tak terdengar.
Malam itu, di bawah pendar lampu rumah sakit yang temaram, Amirul menggenggam tangan Albert. Amirul tidak bisa ikut berdoa dengan cara Albert, namun ia menundukkan kepala sedalam-dalamnya, merapalkan doa-doa Islam yang ia hafal di luar kepala, memohon keajaiban bagi sahabatnya.
Albert pergi saat azan Subuh berkumandang keesokan harinya.
Suasana duka menyelimuti lingkungan mereka. Rumah Amirul menjadi posko bantuan bagi keluarga Albert yang sedang kalut. Ayah Amirul, seorang pengurus masjid, berdiri paling depan menyalami para jemaat gereja yang datang melayat. Tidak ada sekat. Yang ada hanyalah kehilangan atas seorang anak baik yang pernah hidup di antara mereka.
Saat peti jenazah Albert dibawa menuju pemakaman, Amirul ikut mengangkat tandu kayu tersebut bersama kerabat Albert yang lain. Bahunya terasa berat, bukan karena beban peti, tapi karena beban kenangan yang mendesak keluar sebagai air mata.
Di depan liang lahat, Amirul berdiri diam. la melihat salib kayu ditancapkan di atas gundukan tanah merah. la tidak ikut menyeberangkan tangan di dada, tapi ia mengangkat kedua telapak tangannya, berdoa dengan cara yang diajarkan ayahnya, mengirimkan “surat” untuk sahabatnya melalui jalur yang ia yakini.
Satu bulan setelah kepergian Albert, Amirul duduk sendirian di atas pagar tembok itu. la membuka halaman terakhir buku sketsa pemberian Albert. Di sana, terdapat gambar mereka berdua sedang duduk di pagar tersebut, membelakangi pengamat, melihat ke arah matahari terbenam.
Di bawah gambar itu, ada tulisan tangan Albert:
“Rul, kalau nanti kita nggak bisa duduk di pagar yang sama lagi, carilah aku di antara sela-sela doa. Karena di sana, bahasa kita nggak perlu diterjemahin lagi.”
Amirul menutup buku itu. Lonceng gereja berdentang, dan hampir bersamaan, suara azan mulai memanggil. Amirul tidak lagi merasa sedih. la menyadari bahwa meski Albert sudah berada di balik pagar kehidupan yang berbeda, persahabatan mereka telah melampaui segala dogma dan sekat fisik.
Perbedaan itu tidak pernah memisahkan mereka; justru perbedaan itulah yang membuat harmoni di antara suara lonceng dan azan menjadi melodi yang paling indah di telinganya. (BP / KM)*
Catatan : Cerpen ini telah dibukukan dalam antologi Kisah Kebersamaan oleh PT. LAN Tulungagung, April 2026.












