Hikmah Dibalik Musibah

Karya: Meilanto

 

“Turunkan Kepala Desa, turunkan Kepala Desa!” teriakan para pendemo di depan kantor bupati. Para pendemo datang ke kantor bupati meminta supaya bupati segera mencopot jabatan Kepala Desa Ketipeng.

Berbagai poster yang ditulis di karton berbagai warna menghiasi acara demo hari itu. Jumlah pendemo sekitar 300 orang tersebut berangkat menggunakan mobil truk.

“Mohon kepada Bapak Bupati, lengserkan segera Kepala Desa Ketipeng. Ia telah menjual lahan desa kami!” teriakan koordinator pendemo yang disambut dengan teriakan pendemo yang lainnya.

“Sabar, sabar, saudara, nanti aspirasi saudara-saudara akan saya sampaikan kepada Bapak Bupati. Saat ini beliau sedang berada di luar daerah,” sahut Sekretaris Daerah yang menyambut para pendemo.

Satu jam berlalu, para pendemo selesai menyampaikan aspirasinya. Mereka pulang dengan rasa puas. Rasa yang telah menggunung selama ini. Desas-desus kepala desa menjual lahan mengemuka di tengah masyarakat.

Sepucuk surat beramplop cokelat berkop Sekretaris Daerah tiba di meja kepala desa. Isi surat itu tentang pemberhentian Kepala Desa Ketipeng secara hormat. Isi surat itu sangat mengejutkan Kepala Desa Ketipeng, Bapak Sani.

“Huh…” Pak Sani menghela napas panjang. Ia melempar surat itu begitu saja di atas meja.

“Ujian apa lagi ini?” pikir Pak Kades Sani. Baginya selama ia menjabat sebagai kepala desa, banyak sekali ujian yang harus ia hadapi.

“Siapa dalang di balik semua ini?” pikirnya.

Waktu pemilihan kepala desa beberapa tahun yang lalu, ia menang telak dari dua pesaingnya. Kesederhanaannya dalam keseharian dan merakyat membuat ia dipilih mayoritas penduduk Kampung Ketipeng.

“Bagaimana Pak Sani bisa menjual lahan desa dan ia mendapat fee dari penjualan lahan itu? Rumahnya saja berdinding papan. Motornya masih itu-itu saja,” imbuh salah satu warga saat diskusi di warung kopi.

“Iya, kita tahu sendiri, istrinya berwarung kecil-kecilan di depan rumah. Anak- anaknya juga masih kecil dan hidupnya sederhana,” jawab warga lain.

Beberapa hari kemudian, datang oknum memberikan tekanan kepada Pak Sani supaya tidak melakukan gugatan.

Sebagai orang kecil dan tidak mempunyai jaringan besar, Pak Sani menerima saja pemberhentian itu walaupun dengan berat hati.

Untuk menyambung hidup, Pak Sani dan istrinya meneruskan usaha warung kecil di depan rumah.

Beruntung, Pak Sani mempunyai kebun karet yang ia tanam sejak masih bujangan. Bersama sang istri ia mulai membersihkan karet itu. Karet itu akan ia sadap bersama sang istri.

Setiap pagi, setelah subuh Pak Sani sudah berangkat ke kebun karet. Jarak dari rumah sekitar 30 menit perjalanan. Motor butut Pak Sani menjadi teman setia. Terkadang sang istri turut membantu Pak Sani menyadap getah karet. la turut membantu sang suami supaya karet bisa disadap semuanya. Kalau tidak dibantu karet tidak bisa disadap semua. Kalaupun disadap semua, getah-getah karet telah membeku karena hari sudah siang.

Perjuangan Pak Sani dan istri untuk menyambung hidup hanya mengandalkan hasil penjualan getah karet. Sementara toko kecil di depan rumah harus tutup karena tidak ada yang bisa menunggu. Keuntungan dari toko kecil itu tidak seberapa.

Begitu lah kehidupan Pak Sani dan keluarga. Pak Sani beruntung mempunyai istri yang siap sedia membantu dikala ekonomi sedang sulit.

Jabatan kepala desa yang diamanahkan warga kepadanya harus rela ia lepaskan karena ulah oknum yang tidak ingin melihat kesuksesan Pak Sani dalam menjalankan roda pembangunan di Kampung Ketipeng.

Oknum warga tersebut berhasil meyakinkan pejabat daerah untuk melengserkan jabatan Pak Sani.

“Kita harus kuat, bu, amanah tidak selamanya kita pikul. Tidak mungkin Allah memberikan ujian tanpa mengetahui kekuatan hamba-Nya.”

“Iya, Pak. Bagi saya, apapun profesi bapak, tidak menyurutkan semangat saya untuk mendampingi bapak. Saat bapak punya jabatan, bapak justru tidak banyak waktu bersama keluarga. Saat ini bapak sudah bisa bersama anak-anak kita. Memang saya tidak mempermasalahkan hal itu. Di balik ujian ini ada hikmah besar bagi keluarga kita.”

“Terima kasih bu, atas kesetiaan ibu mendampingi dan menguatkan saya.”

Kasus lengsernya Kepala Desa Ketipeng menjadi berita hangat di tingkat kabupaten dan provinsi. Kepala desa yang dituduh menjual lahan desa dan langsung dipecat tanpa ada pemeriksaan dan pendampingan dari pemerintah daerah.

Di kemudian hari terkuak ternyata ada oknum di balik lengsernya Pak Sani sebagai Kepala Desa Ketipeng. Oknum tersebut bersedia membayar warga untuk berangkat ke kantor bupati menuntut supaya sang kepala desa lengser dari jabatan.

Selidik punya selidik, ternyata oknum tersebut adalah rival Pak Sani dalam pilkades beberapa tahun yang lalu yang kini sedang meringkuk di sel tahanan karena terlibat jual beli barang haram.

Hari-hari Pak Sani dan keluarga berjalan sebagaimana biasanya warga kampung. Pagi hari menyadap getah karet dan sore hari bisa ke kebun. Sore atau malam bisa bercengkerama bersama keluarga.

Memang, jalan hidup kita tak ada yang tahu. Semua sudah diatur oleh penggenggam kehidupan. Hikmah di balik suatu musibah menjadi pelajaran penting bagi kita. Dari musibah kita bisa belajar tentang kehidupan yang sesungguhnya. (BP/ KM)*

 

Tulisan ini telah dibukukan dalam antologi Cerita Perjuangan Hidup yang terbitkan oleh PT. LAN TULUNGAGUNG, Agustus 2023. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *