Insiden Musim Panas

Children playing in river illustration

Oleh: Fatimah Naurah Muhammad (Siswa MTs Negeri 1 Bangka Tengah)

 

Insiden Musim Panas “Katanya mitos itu seperti bintang di langit, begitu jauh hingga tak bisa dilihat kejelasannya, apa benar begitu, kak?” Tanya Miko, seorang gadis kecil yang memiliki rasa penasaran yang begitu tinggi, hingga sedikit orang yang mampu berlama-lama berbicara bersamanya.

Sang kakak tak menjawab dengan pasti, “Bisa jadi, contohnya mitos di desa, katanya anak dibawah umur tidak boleh terlalu dekat ke hulu sungai” Miko mengangguk, mitos itu. menyebalkan sekali.

“Miko, apa kamu percaya ucapan ayah jika dulu nenek punya mata berkilau seperti bintang di angkasa?” Rei menoleh menatap sang adik, keduanya sama sekali tak percaya dengan perkataan ayahnya.

“Yah… aku tidak terlalu percaya! Mana buktinya?” pipinya menggembung antara kesal dan penasaran, keduanya begitu penasaran hingga terik matahari di musim panas tak terasa sama sekali. Merenung kenapa dunia terlalu banyak berbohong pada anak kecil seperti mereka? Ibu bilang nasi akan menangis jika mereka tak menghabiskannya, toh nyatanya nasi bernapas saja tidak! Tenggelam dalam pikiran seseorang berteriak kepada mereka.

“Miko! Rei! Ngapain kalian nongkrong di tepi jalan? Terik mataharinya bikin kulit sakit loh!” ucap teman mereka, Dave yang berlari menghampiri, basah kuyup tanpa alas kaki. “Dave! Habis dari sungai, ya? Kamu basah kuyup begitu” Miko terlebih dahulu berdiri, mengamati temannya yang membasahi jalan terik tempat mereka merenung.

“Iya nih, tadi ibu bilang mau mencuci kain dan pakaian, jadi aku ikut!” Miko dan Rei saling bertatapan, sebelum tersenyum lebar. “Ayo ke sungai!”

“Tunggu! Aku tidak masalah jika kalian ikut bermain di sungai! Tapi kalian yakin tidak izin ke orang tua kalian dulu?” Tanya Dave yang sedikit khawatir. Miko dan Rei seolah tak peduli, dan terjun bebas membasahi tubuh mereka.

“Ayolah, ini hanya sungai! Bukan kota sebelah!” Rei tertawa bebas dan mulai perang air bersama adiknya. “Tau tuh! Lagipula, kami tau jalan pulang. Apa salahnya mencoba berkelana sendiri?”

Dave menghela napas, kedua temannya begitu keras kepala. “Baiklah.. bukan urusan ku jika kalian pulang dengan wajah masam dari ibumu..” selang beberapa menit, mereka mulai terlena dengan asyiknya bermain di sungai, begitu asyik hingga tak satupun dari mereka terpikir untuk pulang.

“Haha! Aku perenang tercepat di antara kalian! Dasar pecundang!” situasi memanas setelah Miko berkata demikian. “Pecundang?! Tadi itu kaki ku tersangkut akar pohon!” bentak Rei tak terima. Dave mengangguk, “Betul! Lagi pula kan katanya dalam hitungan ketiga, namun Miko meluncur pada hitungan ke dua! Itu curang!” Miko menyeringai, merasa di atas langit dengan alasan yang diberikan mereka.

“Iyakah? Kalau begitu ayo tanding ulang! Lima kali lagi pun tak apa!” Rei dan Dave bersorak penuh ambisi, mereka tak akan melewati kesempatan untuk menyaingi Miko! Ketiganya berjalan keluar dari perairan sungai, menuju area sungai yang lebih dalam.. dan palang peringatannya mereka abaikan begitu saja.

Dengan tatapan membara, mereka terjun ke sungai yang arusnya begitu kuat, benar-benar sepenuhnya mengabaikan peringatan alam. “Kali ini aku akan lebih hebat lagi! Lihat saja!” Ucap Miko yang tangan dan kaki kecilnya sibuk untuk membuat tubuhnya tetap terapung di atas. “Kita saksikan siapa pecundang sesungguhnya!” ucap Dave, sebenarnya ia sedikit khawatir dengan cuaca yang terlihat tak bersahabat pada musim panas ini. Awan hitam tiba-tiba saja mengepung sekitar diiringi angin yang cukup membuat ketiganya kedinginan. Namun anak lelaki tak boleh kalah berani dari anak perempuan!

Dalam hitungan ketiga, suara tercampur air sungai, mereka meluncur dan berlomba. Siapapun yang mencapai hulu sungai-lah pemenangnya. Sedikit yang mereka ketahui mengenai apa yang akan terjadi ke depannya. Sedikit pula yang mereka ketahui jika bencana menunggu, tak jauh di hadapan mereka.

Ketiganya melesat cepat dengan stamina seperti atlet profesional. Laksana ikan di sungai, mereka berenang mengejar arus sungai dengan langit gelap yang menunjukkan betapa sengitnya pertandingan mereka. Tak ada satupun yang memperhatikan teman di samping- semua fokus pada tujuannya masing-masing. Miko mulai merasa engap setelah ratusan meter, begitu juga dengan Rei dan Dave.

Namun harga diri di atas semuanya, mereka tetap berenang dengan keras kepala, tak peduli arus sungai yang semakin kuat membuat tangan dan kaki kecil mereka kelelahan, ini adalah rutinitas yang mereka lakukan setiap minggu, berenang. Apa salahnya mencoba sedikit tantangan lagi?

“*Blegh!” Miko tersedak air yang membuatnya sedikit kaget, namun ia cepat beradaptasi dan memuntahkan air yang mengganggu keselamatannya. Sayangnya, hanya dalam hitungan detik tubuhnya kekurangan banyak stamina karena napasnya terganggu. Mata Miko membelalak saat melihat Dave dan Rei yang sudah berada jauh ratusan meter di hadapannya.

Tidak.. ini.. bukan hanya soal emosi dan harga diri.. Miko menyadari sesuatu, Keselamatannya terancam, begitu juga keselamatan Rei dan Dave di depan sana. Kakinya mulai mengayuh, sedikit lamban. Kali ini bukan untuk persaingan. Miko ingin menyelamatkan mereka! “REI!- ugh- DAVE!” Suara Miko hanya samar-samar terdengar di telinga mereka karena terhalang suara petir.

Ini berbahaya, sungguh berbahaya. Ibu Dave jauh dari mereka, orang tua Rei dan Miko juga tak tahu jika mereka berenang di sungai. Mata Miko mulai dibanjiri air mata, dia tak sanggup lagi, rintik hujan membuatnya tak berkutik ketika arus sungai mulai mendorong tubuhnya menjauh. “TOLONG!-“ Dia mulai kehilangan napas karena terus tertelan air sungai yang menghantam mulutnya. Benar adanya penyesalan datang di akhir, kurasa itu yang dapat disimpulkan oleh Miko saat ini.

Dave mulai menyadari bahwa ada yang salah dengan Miko, dia tau kemampuan Miko memang tak bisa dibantah dan takkan terbantahkan dibandingkan anak kampung lainnya. Dia dengan sekeras mungkin menyusul Rei, tubuhnya menggigil karena hujan menghantamnya layak batu kerasnya. Berusaha berteriak, namun suaranya kalah oleh hujan. “REI! KAK REI!” teriaknya, dia berusaha memberi isyarat apapun, namun rei tak juga menoleh.

Hingga akhirnya Dave tak tahan lagi dan menepi. Dia menginjakkan kaki di pesisir sungai dan mulai sebisa mungkin berlari menyusul Rei.

Sementara itu, Rei terus memaksakan diri. Ia sebenarnya tak sanggup lagi, namun di dalam kepalanya terukir sudah tekadnya untuk terus berenang hingga hulu sungai. Namun, suatu insiden tak terduga terjadi, petir yang menyeramkan menyambar pohon tertinggi di hutan itu hingga ia tumbang, Rei teriak tertahan melihat pohon itu terjatuh melintang menghalangi arus sungai. Sementara hujan semakin lebat, warga mulai heboh karena ketiga anak itu tak ditemukan dimanapun. Ibu Dave menangis, apalagi setelah suara petir yang menyambar pohon itu menggelegar di satu kampung. “Tolong anakku pak, dia masih belum pulang.”

Tangan cekatan Dave menarik Rei ke tepi sungai, dia terlihat pucat. “Kak! Miko.. aku gak tahu dia dimana sekarang!” Rei meneguk ludahnya sendiri, ini gawat. Sepertinya Miko mengalami keram saat berenang, dan arus sungai yang dahsyat membawanya pergi menjauh dari mereka. Arus sungai mulai tak terkendali, melebar ke jalan setapak yang biasa digunakan warga. Rei dan Dave berlari kembali ke hilir sungai, berusaha mencari Miko. Keduanya berteriak, tangan dan kaki sudah keriput, stamina perlahan kembai setelah keluar dari air. “MIKOO! MIKOO!!”

Mereka terus berlari, berusaha mencari Miko yang hanyut dibawa arus sungai. Rei mulai merasa takut jika hal buruk terjadi pada adiknya itu. Dengan mata yang ingin menangis, dia akhirnya kembali terjun ke dalam sungai untuk mencari Miko. “ACKREI! JANGAN GEGABAH!” Dave terus berlari sembari memikirkan keselamatannya, dia berlari menuju pemukiman warga, dan melihat pemuda dan bapak-bapak kampung mulai mencari keberadaan Miko dan Rei hingga hujan mereda.

Warga berhasil menemukan Rei dengan Miko yang terkulai lemas di punggungnya, kedinginan. Miko terlihat pucat wajahnya, begitu juga Rei. Beritanya tersebar luas ke satu kampung saat mereka berhasil ditemukan. Ibu Dave dengan cepat memeluk anaknya yang benar-benar basah kuyup tanpa luka. Miko di Balai Desa memiliki beberapa luka goresan karena batuan sungai yang tajam. Rei sebagai seorang kakak terlebih dahulu diomeli ibunya karena mementingkan ego dan harga diri dibanding keselamatannya dan adiknya. Selagi ibunya mengoceh tentang keselamatan, Rei menatap Miko yang menyeringai. Heh, sejujurnya yang tadi itu menyenangkan. (BP/ KM)*

 

 

Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kabupaten Bangka Tengah Tahun 2025 cabang menulis cerpen. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *