Oleh: Sang Peramu Aksara
Kutorehkan guratan luka ini;
Dada bergolak bagaikan didih air,
nafas sesak!
Kututupi dengan selubung senyum imitasi.
Aku ketakutan dengan naluriku sendiri,
bahkan pernah tak sudi mendengarkan lagi.
Namun ia tetap hadir menaungi,
hingga aku terpaksa dipaksa untuk percaya lagi.
Dan hal yang menjijikkan itu terjadi juga—
persis seperti firasat yang pernah terlintas.
Aku kini tak bisa bedakan muak, mual, dan sesal;
yang terasa adalah endapan sumpah serapah pada sampah,
dan mulutku dirudapaksa untuk tetap mengulum senyum.
Di bibirku yang membiru kelu,
demi merawati jiwa-jiwa yang suci murni,
agar tak ternoda paparan busuknya nafsu satwa,
terjaga dari hinanya perilaku setan berwujud manusia.
Tuhan, bagaimana ini?
Aku sudah menolak rambu-rambu-Mu sejak mula,
kini baru kurasakan: mengelak bukan pilihan.
Aku kan tentukan jalan,
demi hidup yang harus berjalan,
demi jalan yang harus hidup.
Kembali dengan rupa baru,
entah hitam, hijau, atau biru.
Mencari koma untuk berhenti sesaat—
bukan titik tuk mati selamanya.
Apapun jalan-Mu, terima kasih atas petunjuk-Mu.
Toboali, 19 Mei 2026. Sang Peramu Sastra. (Agus Bachtiar, K)












