Karya: Yanto In Action
Pesan abadi dari Rais ‘Am yang bijaksana,
KH. Ali Maksum, nama yang tak pernah pudar.
Dari tahun delapan puluh satu hingga delapan puluh empat,
Kata-katanya tetap hidup, tetap menembus masa.
“Jangan menjauh dari NU,” itu pesan pertama,
Walau tanganmu tak memegang jabatan pengurus sekalipun.
Bukan jabatan yang membuat kita tetap berdiri,
Tapi cinta pada jalan yang dirintis para pendahulu dulu.
Bisa saja wajah pengurus tak selalu berkenan,
Bisa saja cara kerjanya tak sesuai pandanganmu.
Namun ingatlah — itu urusan manusia yang berproses,
Bukan alasan untuk meninggalkan rumah yang penuh berkah.
“Jangan menjauh dari NU, meskipun tidak cocok dengan pengurusnya,”
Bukan penguruslah yang kau cintai, tapi lembaga ini.
Yang melindungi umat, yang merawat tradisi,
Yang menjadi payung bagi siapa saja yang mencari jalan.
Hati bisa tak senang, pikiran bisa tak sejalan,
Tapi biarkan itu tetap di dada, tak sampai ke langkah.
Karena jika satu orang kurang baik, belum tentu semuanya begitu,
Dan jika satu masa kelam, belum tentu takkan cerah kembali.
“Dan jangan sampai purik — marah — pada NU,”
Itu peringatan yang paling dalam, yang paling menyentuh.
Marah pada orang, boleh kau bicarakan, boleh kau perbaiki,
Tapi membenci NU? Itu membenci rumah sendiri.
Purik marah, kecewa, lalu berpaling menjauh,
Itu yang beliau khawatirkan terjadi pada kita.
Karena organisasi ini bukan milik segelintir orang,
Ia milik umat, milik yang beriman, milik yang setia.
Tetaplah di sini, walau duduk di barisan paling belakang,
Walau tak namamu disebut, walau tak suaramu terdengar.
Cukup dengan hatimu yang tetap berdoa dan tetap menjaga,
Itulah bentuk kesetiaan yang paling tulus di mata Allah.
Jangan pergi, jangan membenci, jangan berpaling,
Itulah wasiat KH. Ali Maksum untuk kita semua.
NU tetap rumahmu, walau apa pun yang terjadi di dalamnya,
Karena rumah ini dibangun bukan untuk pengurus, tapi untuk umat.
Bangka Belitung, 2 September 2026












