Jika Kemarau Melanda: Cerita di Masa Lampau di Bangka

Oleh: Suryan Masrin

 

Kondisi Kehidupan Masyarakat Bangka, khususnya di Mentok mengalami kesusahan. Ini adalah potret kisah kecil kehidupan masyarakat di Pulau Bangka di masa lampau, yang juga hingga kini masih kerap melanda di beberapa tempat.
Berikut adalah cuplikan kisah yang diambil dari buku Kromoblanda: over ‘t vraagstuk van “het wonen” in Kromo’s groote land.

Pada musim kemarau, sumur-sumur seringkali kosong. Di Mentok terdapat sumur-sumur yang disebut sumur pemerintah, yang dipelihara oleh dinas B.O.W. digali pada tahun-tahun sebelumnya.

Air yang diambil harus membayar 3 hingga 5 sen per pikolan. Mayoritas yang memeli adalah dari mereka yang rumahnya tidak memiliki banyak sumur, dan tentu saja semua orang yang harus membayar air untuk mandi. Mandi di aliran sungai jernih yang melimpah di Banka atau di kollong (lubang) bekas tambang timah yang sudah habis, juga tak bisa lagi.

Untuk memenuhi kebutuhan air minum dan air rumah tangga yang baik, sumur-sumur telah digali untuk penggunaan umum di berbagai tempat di kawasan Tionghoa. Namun pada akhirnya jika habis harus membeli juga, guna mencukupi kebutuhan.

Nb: Kromoblanda adalah buku bersejarah karya Hendrik Freerk Tillema yang diterbitkan antara tahun 1915-1923 yang membahas secara mendalam masalah sanitasi, perumahan, dan kondisi kehidupan masyarakat pribumi di Hindia Belanda (sekarang Indonesia).

Keterangan foto: kuli pikul air diambil dari buku KromoBlanda yang diterbitkan tahun 1921.

Mentok, 1 Juli 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *