Kapolres Bangka Barat Jadikan Hiking Sebagai Pesan Kebersamaan dan Promosi Wisata

Laporan : Belva Babar

Bekaespedia.com, Mentok, Bangka Barat —
Udara pagi itu seperti baru dicuci hujan semalam. Sejuk, bersih, dan segar menembus paru-paru setiap orang yang berdiri di kaki Bukit Kukus, Desa Air Belo. Di antara riuh dedaunan dan cahaya matahari yang menyelinap di celah ranting, suara langkah sepatu terdengar ritmis, menyusuri jalan setapak yang menanjak perlahan.

Di barisan terdepan, Kapolres Bangka Barat, AKBP Pradana Aditya Nugraha, berjalan mantap dengan senyum hangat yang sesekali dilemparkan kepada anggotanya. Bukan barisan upacara, bukan pula patroli keamanan, pagi itu Polres Bangka Barat memilih jalan lain untuk menunjukkan arti kebersamaan mendaki bukit, menyatu dengan alam, dan menanamkan cinta terhadap tanah sendiri.

Bukit Kukus adalah salah satu punggung hijau yang menjadi kebanggaan warga Mentok, pagi itu menjadi saksi langkah-langkah penuh makna. Setiap tapak bukan sekadar olahraga, tetapi juga simbol harmoni antara manusia, alam, dan niat baik untuk menjaga keduanya.

“Olahraga di alam terbuka seperti ini bukan hanya menyehatkan tubuh, tapi juga menyehatkan pikiran,” ujar Kapolres dengan nada tenang setelah perjalanan usai. “Kami ingin anggota Polri tetap bugar, bahagia, dan bisa menikmati indahnya alam daerah yang kita jaga bersama.”

Kalimat itu sederhana, tapi mengandung filosofi yang dalam. Dalam langkah-langkah yang terukur, tersimpan ajakan agar Polri bukan hanya berdiri sebagai penjaga keamanan, melainkan juga bagian dari denyut kehidupan masyarakat dari udara yang dihirup hingga pepohonan yang menaungi.

Bukit Kukus sendiri menyimpan pesona yang nyaris mistis dari puncaknya, laut terlihat seperti cermin perak di kejauhan, sementara hamparan hutan hijau berlapis kabut tipis di bawahnya. Tak heran bila Kapolres dan jajarannya menjadikan tempat ini bukan hanya medan olahraga, tapi juga simbol harapan untuk menggeliatkan wisata alam Mentok.

“Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin mengenalkan potensi wisata Bukit Kukus,” ujarnya lagi. “Polres Bangka Barat hadir bukan hanya menjaga keamanan, tetapi juga mendukung upaya pemerintah dan masyarakat dalam mengembangkan wisata lokal.”

Dalam perjalanan itu, tak ada sekat antara atasan dan bawahan. Semuanya sama berjalan di tanah yang sama, menatap pemandangan yang sama, dan berbagi tawa yang sama. Ada kehangatan yang tumbuh diam-diam di antara mereka, semacam persaudaraan yang tak perlu ditulis dalam dokumen resmi.

Di beberapa titik, tawa pecah ketika sebagian anggota berhenti untuk berfoto. Ada yang duduk di batu besar sambil mengatur napas, ada yang bercanda tentang jalur yang terlalu menanjak. Di sela lelah itu, kebersamaan justru terasa paling nyata.

Hiking pagi itu, yang mungkin tampak sederhana, justru menjadi ruang sunyi bagi setiap orang untuk merenungkan sesuatu bahwa menjaga diri dan menjaga alam sesungguhnya dua hal yang tak terpisahkan.

Kapolres menutup kegiatan dengan pesan yang menggema hingga ke bawah lembah:

“Kami berharap kegiatan ini menjadi contoh kolaborasi positif. Ketika wisata tumbuh, ekonomi masyarakat ikut bergerak. Dan itu sejalan dengan semangat Polri untuk hadir, dekat, dan bermanfaat bagi masyarakat.”

Kalimat itu mengalir seperti air yang menyejukkan tanah gersang. Sebab di zaman yang sering memisahkan antara keamanan dan kemanusiaan, antara tugas dan keindahan, Kapolres Bangka Barat memilih untuk memadukannya di satu tempat bernama Bukit Kukus. Tempat di mana alam, aparat, dan masyarakat bisa duduk di satu meja yang sama, meski tanpa kata.

Ketika kegiatan berakhir, mentari sudah agak tinggi. Napas masih terasa tersengal, tapi mata semua orang berbinar. Mereka turun perlahan dengan hati yang lebih ringan dari ransel di punggung mereka.

Di Bukit Kukus pagi itu, Polri tak hanya mendaki bukit, mereka mendaki ke dalam makna, menuruni jalan pulang dengan rasa cinta yang lebih dalam terhadap tanah yang mereka jaga.

Exit mobile version