Laporan : Belva
Bekaespedia.com, Mentok, Bangka Barat — Pagi itu, langit seperti kain biru muda yang dibentangkan Tuhan di atas kepala warga Mentok. Sinar matahari merambat pelan di sela-sela daun flamboyan yang menaungi tepian Lapangan Kota. Embun belum sepenuhnya kering, namun manusia sudah memenuhi ruang terbuka itu ada yang berdiri di antrean panjang, ada yang sibuk mengabadikan momen dengan ponsel, dan ada pula yang sekadar duduk di bangku kayu sambil menyeruput kopi.
Tenda-tenda berwarna biru putih berdiri berjajar seperti deretan kios di pasar rakyat. Bedanya, ini bukan pasar seperti biasa. Di setiap tenda, bukan uang kertas atau koin yang berpindah tangan, melainkan layar ponsel yang bersinar, kode QR yang terpampang, dan suara “beep” lembut pertanda transaksi berhasil.
Di tengah suasana itu, langkah Bupati Bangka Barat, Markus, S.H., terasa santai namun penuh makna. Ia menyalami warga, sesekali berhenti menyapa pedagang UMKM, dan tak ragu ikut mencoba kopi robusta lokal yang diseduh di tempat. Senyum yang ia bawa bukan sekadar basa-basi, melainkan ajakan: ayo kita melangkah bersama ke masa depan yang lebih praktis, transparan, dan menguntungkan semua pihak.
“Sekarang ini sudah eranya digitalisasi. Kita tidak boleh tertinggal. Dengan QRIS, pembayaran pajak jadi mudah, cepat, dan tanpa ribet. Tapi yang lebih penting, ini juga membuka peluang baru bagi UMKM untuk ikut tumbuh,” ucap Markus di hadapan warga. Ucapannya seperti benang yang merangkai dua dunia dunia administrasi publik dan dunia usaha kecil yang selama ini hidup di sudut-sudut pasar.
Pagi itu, Pemkab Bangka Barat tak hanya bicara. Markus memimpin langsung pembagian paket produk UMKM kepada masyarakat gratis. Di tangannya, warga menerima kue rintak yang renyah, kopi bubuk dari kebun lokal, hingga olahan kemplang yang harum. Bagi bupati, ini bukan sekadar hadiah, melainkan simbol dukungan bahwa pelaku usaha kecil adalah denyut nadi perekonomian daerah.
Di stan Bank Sumsel Babel, antrean warga terlihat rapi. Mereka yang membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) melalui QRIS mendapatkan voucher senilai Rp20.000, yang bisa ditukar di stan UMKM binaan bank itu hanya dengan membayar Rp1.945. Dedy Zulkarnain, Pemimpin Cabang Bank Sumsel Babel Muntok, menjelaskan bahwa strategi ini bukan hanya memudahkan pembayaran pajak, tetapi juga membuat UMKM merasakan langsung manfaat ekonomi digital. “Transaksi ini sederhana, tapi efeknya besar. UMKM mendapatkan pembeli baru, dan masyarakat mulai terbiasa dengan pembayaran non-tunai,” ujarnya.
Beberapa pedagang mengaku omzetnya naik pesat hanya dalam beberapa jam acara berlangsung. Seorang penjual kopi lokal menceritakan bahwa biasanya ia menjual 10–15 gelas dalam satu pagi, tapi kali ini jumlahnya melonjak dua kali lipat. “Mereka bayar pakai QR, cepat sekali. Saya sampai nggak sempat hitung uang kembalian seperti biasanya,” katanya sambil tersenyum.
Suara riuh transaksi berpadu dengan deru printer dari stan pelayanan pajak, ketikan keyboard, dan aroma seduhan kopi serta kue panas. Tak jauh dari sana, stan kesehatan gratis dari Jasa Raharja ramai didatangi warga yang memeriksa tekanan darah dan gula darah. Di ujung lapangan, pasar murah pangan yang digelar Bulog dan Dinas Pertanian menjadi magnet tersendiri—beras, gula, minyak goreng, dan telur berpindah tangan dengan harga terjangkau, sebagian bahkan dibayar lewat QRIS.
Menurut perwakilan Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan, Miwani,S.E, acara ini memang dirancang untuk menyentuh banyak aspek sekaligus: dari digitalisasi pajak, pelayanan publik, kesehatan, pangan murah, hingga pemberdayaan UMKM. “Pekan QRIS Nasional ini kami rangkai dengan momentum HUT Kemerdekaan RI ke-80, supaya pesan kemerdekaan juga bermakna kemerdekaan ekonomi—tidak tergantung pada uang tunai, dan UMKM punya akses pasar lebih luas,” jelasnya.
Kini, 13 jenis pajak daerah di Bangka Barat bisa dibayar secara digital—mulai dari QRIS, mobile banking, virtual account, hingga transfer bank. Targetnya, dalam waktu dekat, semua transaksi belanja dan pembayaran di lingkungan Pemkab akan diarahkan ke sistem non-tunai.
Saat matahari mulai meninggi, warga belum juga bubar. Mereka masih menikmati suasana, berbelanja produk lokal, bercakap dengan tetangga, dan mencoba layanan publik. Banyak yang pulang membawa dua kebahagiaan sekaligus: produk UMKM yang mereka bawa di tangan, dan keyakinan bahwa Bangka Barat sedang bergerak ke arah yang lebih modern.
Bagi sebagian orang, pagi itu mungkin hanya sebuah acara pelayanan publik. Tapi bagi pelaku UMKM dan warga yang merasakan langsung kemudahannya, itu adalah awal babak baru babak ketika teknologi tak lagi menakutkan, melainkan menjadi sahabat yang memperkuat ikatan antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.
