Layar yang Lebih Luas dari Jendela

Oleh: Meilanto

 

Riuh rendah suara tawa dan denting piring seng memenuhi pondok kebun yang terletak di kaki Bukit Memalo. Bau aroma ubi yang dibakar di bawah pondok menyusup masuk, bercampur dengan hawa dingin yang mulai menusuk tulang. Ini adalah malam pertama liburan keluarga besar. Semua sepupu berkumpul, kecuali satu: Arya.

Di sudut ruang tengah pondok, cahaya kebiruan memantul di wajah Arya. Remaja berusia lima belas tahun itu seolah memiliki dunianya sendiri. Jempolnya menari lincah di atas layar ponsel, sesekali wajahnya mengeras karena ketegangan dalam permainan daringnya.

“Arya, ayo sini makan dulu! nasinya nanti dingin,” seru Mira, ibunya.

“Sebentar, Ma. Lima menit lagi, tanggung, ranked,” sahut Arya tanpa mengalihkan pandangan. Suaranya datar, nyaris robotik.

Di tengah tikar bertandang, sepupu-sepupunya yang lebih muda, Doni dan Tara, sedang sibuk bermain kelintang kaki. Mereka sesekali melirik Arya, berharap kakak tertua mereka mau bergabung. Tahun lalu, Arya adalah pemimpin petualangan mereka; dialah yang mengajak mencari katak di parit atau sekadar main petak umpet sampai kelelahan. Tapi tahun ini, Arya terasa sangat jauh meski jarak fisik mereka hanya dua meter.

Keesokan paginya, agenda keluarga adalah kelekak keluarga dekat pondok kebun. Pemandangannya luar biasa hutan karet yang berkabut dan suara burung yang bersahutan. Memang kelekak itu di kaki bukit yang tidak terlalu tinggi. Namun, sepanjang perjalanan, Arya berjalan paling belakang. Tangannya tetap memegang gawai, sesekali berhenti hanya untuk mencari sinyal yang mulai timbul tenggelam.

“Arya, lihat itu! Ada tupai!” seru Tara sambil menunjuk dahan pohon cempedak.

Arya hanya bergumam, “Hmm,” lalu kembali menunduk. Ia sedang asyik membalas pesan di grup temannya, menertawakan video lucu yang dikirimkan, sementara keindahan nyata di depan matanya terabaikan sepenuhnya.

Puncaknya terjadi saat mereka tiba di sungai kecil. Saat yang lain riang bermain air dan berfoto bersama, Arya justru sibuk mencari posisi duduk yang teduh agar layar ponselnya tidak silau oleh matahari. Ia tidak melepaskan sepatunya, tidak menyentuh air yang jernih itu. Ia justru sibuk mengunggah foto pemandangan yang bahkan tidak benar-benar ia nikmati ke media sosialnya dengan caption: “Healing time.

“Kak Arya, main air yuk! Dingin banget lho!” ajak Doni sambil menyipratkan air ke arah Arya.

“Doni! Hati-hati, kena HP-ku!” bentak Arya spontan. Wajahnya merah padam. Doni yang kaget langsung terdiam, matanya berkaca-kaca, lalu ia berjalan menjauh menuju ayahnya.

Suasana ceria mendadak canggung. Om Hendra, paman tertua, memperhatikan kejadian itu dari jauh. Ia menghampiri Arya yang kembali sibuk dengan layarnya.

Malam itu, cuaca memburuk. Hujan deras mengguyur bukit disertai petir. Tiba-tiba, pet! Listrik di seluruh kawasan pondok itu padam. Kegelapan total menyergap.

“Yah, mati lampu!” keluh suara-suara di dalam pondok.

Arya mendengus kesal. Sinyal selulernya yang memang lemah langsung hilang total begitu pemancar di desa ikut mati. Ia mencoba me-refresh halamannya berkali-kali, namun hanya lingkaran berputar yang menyebalkan yang muncul. Baterai ponselnya pun tinggal 5%.

Dalam kegelapan, lampu pelita mulai dinyalakan. Om Hendra membawa sebuah gitar tua yang tersimpan di pondok. Keluarga berkumpul di bawah pondok yang jika berdiri kepala tidak akan terantuk, mengelilingi perapian kecil. Tanpa gangguan televisi atau gawai, suara hujan gerimis begitu ritmis dan menenangkan.

“Ayo, Arya, sini duduk dekat perapian. HP-mu tidak akan bisa dipakai malam ini,” ujar Om Hendra lembut.

Arya mendekat dengan enggan. Awalnya ia hanya diam, merasa hampa tanpa benda di tangannya. Namun, perlahan-lahan, ia mulai mendengar cerita-cerita lama yang diceritakan kakek dan neneknya. Cerita tentang masa kecil orang tuanya yang nakal, tentang bagaimana mereka dulu berlibur tanpa teknologi, dan betapa berartinya kebersamaan.

Tara kemudian mengeluarkan sebuah permainan papan (board game) tua yang berdebu.

“Kak Arya, main ini yuk? Aku nggak tahu caranya,” pintanya malu-malu.

Arya melihat wajah sepupunya yang tulus. Ia teringat betapa kasarnya ia tadi siang. Perlahan, Arya meletakkan ponselnya yang sudah mati total di atas meja benda itu sekarang tak lebih dari sekadar potongan plastik dan kaca yang gelap.

“Sini, Kakak ajarkan. Ini namanya Monopoli,” ucap Arya pelan.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam liburan tersebut, Arya benar-benar ‘hadir’. Ia tertawa lepas saat Dino masuk penjara di permainan, ia ikut bernyanyi saat Om Hendra memetik gitar, dan ia merasakan kehangatan cokelat panas yang selama ini ia minum tanpa benar-benar merasakannya.

Saat pagi tiba dan listrik kembali menyala, Arya tidak langsung menyambar pengisi daya. Ia justru berdiri di teras pondok, menghirup udara pagi yang segar tanpa perlu memotretnya terlebih dahulu.

Ia menyadari satu hal, layar ponselnya mungkin menawarkan jutaan warna, namun ia tidak bisa memberikan rasa hangat dari tawa saudara, segarnya percikan air sungai, atau kedamaian dari cerita keluarga di malam gelap.

Liburan itu belum berakhir, dan bagi Arya, petualangan yang sesungguhnya baru saja dimulai bukan di dalam aplikasi, melainkan di dunia nyata yang selama ini ia abaikan. (BP / KM)*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *