Misteri Batu Anak Antu

Penulis: Yoelch Chaidir

 

“Kembalikan batu yang telah kamu ambil tadi siang. Kembalikan batu yang telah kamu ambil tadi siang, kembalikan batu yang telah kamu ambil tadi siang!”

Berulang kali kata-kata itu hadir dalam mimpiku malam itu.

Kata-kata yang terdengar santai namun serius dari seorang anak perempuan yang hadir membelakangiku dalam mimpi.

Sebelum aku tersentak bangun dan jarum jam menunjukkan pukul 3 pagi.

Segera aku memeriksa tas pinggang merah yang tergantung pada dinding kamar dan ku raih batu seukuran telur ayam berwarna kuning kehitam-hitaman.

Alhamdulillah masih ada batu yang siang tadi aku pungut pada tepian pantai antara Laut Kubu dan Gunung Namak Kabupaten Bangka Selatan.

Lama aku termangu menatap batu yang kini masih tergenggam di tanganku hingga azan subuh rasa kantuk serta merta hilang seketika.

Namun kata-kata itu masih terngiang hingga pagi menjemput hari.

Dengan menggunakan sepeda motor aku beranjak pergi ke tempat di mana aku mendapatkan batu itu dengan waktu yang cukup singkat tidak kurang dari satu jam perjalanan aku tiba dan memarkirkan morot lalu meletakkannya kembali pada posisi semula yang mana jarak dari sepeda motor ke tempat itu tak begitu jauh namun harus melewati bebatuan granit yang cukup licin. Aku pun bergegas berlalu meninggalkan lokasi dengan rasa sedikit merinding.

Singkat kisah setelah tiba di sebuah warung kopi aku menceritakan perihal yang aku alami kepada Izuar yang kebetulan satu meja pada sudut warung kopi daerah Teladan Baru Kecamatan Toboali.

Dengan sedikit senyum Izuar menuturkan pengalaman yang sama namun batu yang Izuar ambil tempo hari lenyap dan sehari setelahnya Izuar yang sering ke tempat tersebut menemukan batu yang sama di temukan pada posisi di mana Izuar mendapatkannya.

Ternyata bukan lagi rahasia batu yang ada di antara Laut Kubu dan Gunung Namak bernama Batu Anak Antu  ternyata siapa saja yang mengambil dan membawanya pulang batu-batu yang ada di wilayah batu anak antu akan kembali ke tempat semula atau mendapatkan mimpi pada malam hari untuk mengembalikannya ke tempat semula.

Walahualam bissawaf, percaya atau tidak namun itulah kenyataan yang terjadi hingga sekarang. Jika pun ingin mencoba untuk memastikan kebenarannya penulis persilakan untuk langsung ke titik lokasi yang berada di Gunung Namak dan Kubu. (BP/ KM)*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *