Pemkab Bangka Barat Disorot Positif, Dorong Kebangkitan Nilai Keislaman Lewat Muhasapai 2025 di Mentok

Laporan : Belva

Bekaespedia.com, Mentok, Bangka Barat—Pemerintah Kabupaten Bangka Barat kembali memantik perhatian publik setelah menunjukkan keberpihakan kuat terhadap pembinaan nilai keislaman melalui Musabaqoh Anak Saleh dan Saleha Pendidikan Agama Islam (Muhasapai) Kecamatan Mentok Tahun 2025 yang digelar di Masjid Agung Baiturridho, Rabu (29/10/2025). Kegiatan resmi dibuka Wakil Bupati Bangka Barat, H. Yusderahman, di hadapan ratusan peserta, guru, dan orang tua.

Dalam sambutannya, Yusderahman menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan generasi muda kehilangan adab di tengah derasnya modernisasi. “Menang atau kalah bukan tujuan. Yang penting ilmu dan akhlak menjadi bagian dari diri,” ujarnya tegas, mengirim pesan bahwa pembangunan karakter harus menjadi prioritas, bukan sekadar selingan kegiatan tahunan.

Kegiatan yang dikomandoi Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam (KKG PAI) Kecamatan Mentok ini diikuti seluruh SD se-kecamatan dan menampilkan cabang lomba mulai dari tahfidz, dakwah cilik, azan, hingga syarhil. Pemerintah daerah turun tangan memberikan dukungan fasilitas, anggaran, dan koordinasi lintas sektor agar pembinaan keagamaan tak mati suri dalam agenda sekolah.

Suasana Masjid Agung Baiturridho pagi itu pecah oleh lantunan ayat suci dari bibir anak-anak. Setiap lafaz terdengar seperti bantahan halus terhadap fenomena moral menurun yang menghantui ruang sosial. Publik menyambut hangat sikap Pemkab, yang dalam beberapa tahun terakhir makin agresif memelihara ruang-ruang pembentukan iman dan adab.

Sorotan semakin menguat karena di bulan November, Bangka Barat ditunjuk sebagai tuan rumah Musabaqoh Tilawatil Qur’an dan Hadis (MTQH) ke-14 tingkat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pemerintah menilai Muhasapai adalah pemanasan strategis untuk menunjukkan bahwa Mentok bukan hanya siap secara teknis, tetapi juga mental dan spiritual.

Di tengah kegiatan, wajah orang tua tampak cerah. Mereka merasakan kehadiran pemerintah bukan hanya lewat spanduk dan pidato, tetapi dalam bentuk dukungan nyata yang memberi panggung pendidikan Qur’ani sejak usia dasar. Para guru PAI pun mendapat apresiasi sebagai benteng moral yang sabar mengawal generasi tanpa lampu sorot pemberitaan.

Meski tampak sederhana, geliat seperti ini memantik pertanyaan publik: jika pemerintah bisa hadir kuat dalam agenda Islam anak-anak, mengapa sektor lain dibiarkan stagnan? Provokasi itu justru menjadi pujian terselubung karena masyarakat menuntut konsistensi formula keberhasilan ini menyentuh seluruh elemen pembinaan karakter.

Ketika acara ditutup dengan tepuk tangan, tergambar jelas bahwa dukungan Pemkab Bangka Barat bukan seremonial semata. Dukungan itu menghidupkan kembali masjid sebagai pusat peradaban, bukan sekadar ruang ibadah.

Dengan restu Bismillahirrahmanirrahim, Muhasapai 2025 resmi dibuka, sekaligus menancapkan pesan: di Mentok, pemerintah memilih merawat akhlak sebelum menata beton. Dan pilihan itu, provokatif bagi daerah lain karena tak semua punya keberanian menaruh iman sebagai prioritas kebijakan.

Exit mobile version