Perang Ketupat Tempilang: Tradisi Menjadi Kemajuan Kebudayaan dan Arah Pembangunan Bangka Barat

Penulis: Belva Al Akhab dan Satrio

Bekaespedia.com, Tempilang,- Di tengah deru modernisasi yang kerap menyingkirkan tradisi ke pinggir sejarah, Pantai Pasir Kuning, Desa Air Lintang, Tempilang, Minggu (8/2/2026), justru menghadirkan pemandangan sebaliknya. Ribuan orang berkumpul, bukan untuk konser atau pesta komersial, melainkan untuk sebuah ritus tua yaitu Perang Ketupat. Ketupat beterbangan di udara, tubuh saling beradu dalam tawa dan sorak, sementara nilai-nilai leluhur kembali dihidupkan di ruang publik.

Bagi masyarakat Tempilang, Perang Ketupat bukan tontonan folklor. Ia adalah arsip hidup kebudayaan pesisir Bangka Barat. Ruang di mana sejarah, etika sosial, spiritualitas dan relasi manusia dengan alam bertemu secara setara. Tradisi ini menandai bagaimana kemajuan kebudayaan tidak selalu berarti meninggalkan masa lalu, melainkan memperkuat akar untuk menghadapi masa depan.

Cuaca cerah dan laut yang tenang hari itu seakan menjadi saksi bahwa tradisi ini tidak pernah berdiri sendiri. Sejak awal 1800-an, Perang Ketupat dipercaya sebagai ritual tolak bala, pembersih kampung, sekaligus ungkapan syukur atas rezeki laut. Ia lahir dari kosmologi masyarakat pesisir yang memahami alam bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan mitra kehidupan.

Rangkaian ritual bulan ruwah (Sya’ban) yang mengiringinya mulai dari ngancak penimbong, penimbongan, hingga naber menunjukkan bahwa kebudayaan bekerja sebagai sistem nilai, bukan sekadar simbol. Tari Serimbang, Tari Kedidi, seramo adat, hingga pertarungan simbolik pencak silat, membentuk narasi utuh tentang hubungan manusia, leluhur, dan Tuhan.

Dalam konteks antropologi budaya, ritus semacam ini adalah mekanisme sosial untuk merawat ingatan kolektif dan memperkuat kohesi komunitas. Ketika puluhan pria berseragam hitam saling melempar ketupat di arena, konflik dilepaskan dalam bentuk simbolik tanpa dendam, tanpa luka sebuah pelajaran sosial yang kian langka di tengah budaya kompetisi modern.

Hadirnya Bupati Bangka Barat Markus, Wakil Bupati H. Yus Derhaman, Wakapolda Kepulauan Bangka Belitung Brigjen Pol Murry Mirranda, jajaran Forkopimda, tokoh adat, hingga ribuan warga memperlihatkan bahwa Perang Ketupat telah menjadi ruang temu antara negara dan kebudayaan lokal.

Bupati Markus menegaskan bahwa Perang Ketupat bukan sekadar warisan, melainkan fondasi pembangunan budaya.

“Tradisi ini mengandung makna syukur, tolak bala, dan mempererat silaturahmi. Ia hidup karena dijaga masyarakatnya,” ujarnya.

Sejak ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) nasional pada 2014, bersama Tari Kedidi dan Tari Serimbang, Perang Ketupat menempati posisi strategis dalam narasi kebudayaan Bangka Barat. Ia menjadi bukti bahwa kemajuan daerah tidak selalu diukur dari beton dan investasi, tetapi dari kemampuan menjaga identitas dan nilai lokal.

Wakil Bupati H. Yus Derhaman melihat tradisi ini sebagai identitas kolektif yang memiliki potensi besar dalam pembangunan kebudayaan dan pariwisata berbasis lokal.

“Perang Ketupat bukan hanya peristiwa tahunan. Ia menyimpan sejarah panjang dan pengetahuan lokal yang harus digali lebih dalam,” ujarnya.

Rencana pengembangan kawasan budaya Tempilang melalui penataan lahan desa dan penguatan administrasi menjadi sinyal bahwa pemerintah daerah mulai menempatkan kebudayaan sebagai modal pembangunan, bukan pelengkap.

Namun, tantangan tetap ada. Komodifikasi budaya, reduksi makna ritual menjadi atraksi wisata, serta minimnya regenerasi pelaku adat menjadi ancaman nyata. Di sinilah kolaborasi antara pemerintah, akademisi, mahasiswa dan masyarakat adat menjadi krusial agar pemajuan kebudayaan tidak kehilangan ruhnya.

Filosofi Ketupat dan Etika Kehidupan

Bagi Keman, Dukun Laut Tempilang dan penerus adat Perang Ketupat, ketupat bukan sekadar makanan atau properti ritual. Ia adalah simbol kehidupan itu sendiri.

“K adalah Kehidupan, E Etika, T Tauhid, U Umat, P Perilaku, A Agamis, dan T Tradisi,” jelasnya.

Filosofi ini menegaskan bahwa Perang Ketupat mengajarkan etika hidup tentang adab, keseimbangan dan tanggung jawab sosial. Dialog dengan Kementerian Agama yang menegaskan nilai-nilai Islam di dalam tradisi ini menunjukkan bahwa agama dan budaya tidak selalu bertentangan, melainkan bisa saling menguatkan.

Pengamanan terpadu oleh Polres Bangka Barat, TNI, Dishub, dan Satpol PP memastikan tradisi berlangsung aman dan kondusif. Namun lebih dari itu, keterlibatan aparat dan pejabat dalam satu arena budaya menunjukkan bahwa kebudayaan dapat menjadi ruang sosial egaliter, tempat hierarki melebur dalam ritual bersama.

Tradisi Naber Kampong pasca Perang Ketupat menegaskan nilai solidaritas bertamu, berbagi dan memperkuat jejaring sosial antar warga. Praktik sosial yang kian tergerus dalam kehidupan modern.

Perang Ketupat Tempilang hari ini berdiri sebagai penanda bahwa kemajuan kebudayaan bukan tentang meninggalkan tradisi, melainkan tentang merawatnya secara kritis dan berkelanjutan. Di tengah arus globalisasi, ia menjadi bukti bahwa kebudayaan lokal mampu menjadi penyangga identitas, perekat sosial, sekaligus kompas pembangunan.

Dari ketupat yang beterbangan di Pantai Pasir Kuning, Bangka Barat belajar satu hal penting yaitu masa depan yang kuat selalu bertumbuh dari akar budaya yang dijaga bersama.

Exit mobile version