Laporan : Belva
Bekaespedia.com,-Mentok, Bangka Barat – Kamis, 14 Agustus 2025 Langit Mentok pagi itu berwarna abu-abu, seperti kanvas yang belum selesai dilukis. Hujan semalam meninggalkan aroma tanah basah di udara. Jalan menuju Terminal Lama terasa berbeda; bukan riuh oleh deru kendaraan seperti biasanya, melainkan oleh langkah-langkah warga yang bergegas, membawa KTP dan keranjang belanjaan kosong.
Di ujung jalan, sebuah tenda putih bertuliskan “UMKM” berdiri seperti mercusuar kecil di tengah arus kehidupan sehari-hari. Di bawahnya, meja-meja panjang penuh dengan tumpukan beras, botol minyak goreng yang berkilau keemasan, kantong gula pasir seputih kapas, dan tepung terigu yang disusun rapi. Seperti oase di tengah gurun harga pasar yang semakin mencekik, hari itu Gerakan Pangan Murah hadir, membawa janji yang sederhana tapi berarti: harga yang ramah untuk kantong rakyat.
Sebuah poster mencolok, merah dan kuning, menjadi semacam pembuka panggung: “Gerakan Pangan Murah Serentak – Polri untuk Masyarakat”. Dua sosok polisi dalam seragam, Kapolres AKBP Pradana Aditya Nugraha dan Kompol Albert, menatap dari poster itu seolah mengundang. Di bawah foto mereka, deretan angka harga pangan terpampang jelas. Bagi sebagian orang, angka-angka ini hanya nominal. Tapi bagi warga yang terbiasa menghela napas saat melihat harga di pasar, ini adalah tanda bahwa hari ini, beban sedikit terangkat.
Di tengah keramaian, AKBP Pradana berdiri menyapa warga. Tidak ada jarak kaku antara seragam dan masyarakat. Ia tidak sekadar hadir sebagai pejabat, tapi sebagai tetangga yang datang membantu. “Kegiatan ini untuk membantu masyarakat mendapatkan pangan murah,” ujarnya. “Kami berkoordinasi langsung dengan Bulog Pangkalpinang dan Bulog Bangka Belitung agar harganya jauh di bawah pasar. Hari ini kami sediakan sekitar 1,8 ton beras SPHP.
Di bawah tenda, tumpukan beras SPHP dengan karung kuning-hijau berdiri seperti barisan prajurit. Botol-botol minyak goreng tersusun berbaris, memantulkan cahaya matahari yang mulai menembus awan. Tepung terigu dan gula pasir berjajar di meja hitam, menunggu berpindah tangan. Kapolres Pradana memeriksa persiapan, berdiskusi dengan panitia. Di wajahnya, terselip rasa ingin memastikan bahwa setiap kilogram yang disiapkan akan benar-benar sampai ke tangan warga yang membutuhkan.
Syaratnya sederhana: cukup membawa KTP atau KK, dan setiap orang hanya boleh membeli dua sak beras. Bagi sebagian orang, dua sak itu berarti seminggu tenang dari cemas akan harga yang melambung. “Supaya semua kebagian,” ujar Kapolres.
Aidi, S.Km, Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Bangka Barat, menambahkan, “Alhamdulillah, ini hasil sinergi antara Polres, Bulog, dan OPD. SPHP juga punya jaringan pengecer di setiap kecamatan, jadi meski belum semua daerah kebagian acara langsung seperti ini, distribusi tetap berjalan.”
Antrian mengular di depan tenda. Ibu-ibu berkerudung duduk di kursi plastik, sebagian menggendong anak, sebagian sibuk menghitung uang di tangan. Di meja depan, paket berisi minyak, tepung, dan gula sudah siap dibagikan. Kapolres Pradana dan Kompol Albert berdiri, menyapa warga. Senyum dan acungan jempol mereka seolah menjadi tanda bahwa hari ini adalah hari yang baik.
Di antara kerumunan, Mak Yuni, 56 tahun, tersenyum sambil menggenggam KTP. “Harga di pasar sekarang mahal sekali, Pak. Minyak goreng sudah hampir Rp 23 ribu. Ini sangat membantu,” katanya pelan, matanya berbinar seperti anak kecil yang baru mendapat hadiah.
Di depan sebuah mobil dinas, Kapolres Pradana menyerahkan langsung karung beras 5 kilogram kepada seorang ibu berjilbab abu-abu. Tangan sang ibu meraih dengan hati-hati, seolah memegang benda yang lebih berharga dari emas. Di belakangnya, seorang bapak berjaket hijau ikut menerima, wajahnya menunjukkan rasa syukur yang sederhana namun tulus.
Tidak ada kata panjang yang diucapkan. Hanya tatapan mata yang saling memahami: bahwa harga beras bukan sekadar urusan ekonomi, tetapi urusan keberlangsungan hidup.
Seorang sopir angkutan umum, Pak Sani, yang ikut mengantri, berkata sambil tertawa, “Saya nggak setiap hari belanja. Tapi kalau ada harga begini, sayang kalau dilewatkan. Bisa hemat banyak buat keluarga.”
Jajaran polisi dan pejabat daerah berbaris di depan tenda. Di tengah barisan, Kapolres Pradana, Kompol Albert, dan Aidi S.Km berdiri berdampingan, tersenyum. Di belakang mereka, tenda putih dan deretan bahan pangan menjadi latar yang mengingatkan bahwa momen ini lahir dari kerja sama banyak pihak.
Kegiatan ini bukan yang pertama. Dalam perayaan Hari Kemerdekaan ke-80, Polres Bangka Barat bersama Bulog berhasil menjual 8 ton beras. Kali ini jumlahnya lebih sedikit hanya 1,8 ton tapi nilai sosialnya tetap besar. “Setiap kilogram yang terjual adalah satu keluarga yang sedikit lebih tenang,” ujar Kapolres.
Kembali ke meja penjualan. Kapolres Pradana berbincang dengan dua petugas yang menjaga stok. Kotak kardus di bawah meja menunjukkan persiapan matang, sementara di atas meja, beras, minyak, dan tepung siap berpindah tangan.
Suasana mulai berubah dari tegang menjadi lega. Tangan-tangan warga kini menggenggam kantong belanjaan, beberapa tersenyum sambil berbicara dengan tetangga. Ada rasa puas di udara puas karena berhasil membawa pulang kebutuhan pokok tanpa harus menguras kantong.
Mentok pagi itu menjadi saksi bahwa kepedulian bisa hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: sekarung beras di tangan seorang ibu, sebotol minyak goreng di keranjang seorang bapak, atau sekilo gula di pelukan seorang anak.
Tenda putih itu mungkin hanya berdiri beberapa jam, tapi pesan yang dibawanya akan tinggal lebih lama: bahwa negara, melalui tangan para petugas dan kerja sama berbagai pihak, masih hadir untuk rakyatnya. Dan bahwa di tengah tantangan ekonomi, selalu ada ruang bagi harga yang ramah dan hati yang peduli.
