Puspa di Belantara Sumatra

Oleh: Nur Sayyida Nafisa (SDN 13 Pangkalanbaru)

 

Semilir angin menyapu wajah mungil milik Upa yang tampak gembira menyambut mentari pagi. Upa adalah sekuntum bunga yang tinggal di hutan bersama neneknya, entah di mana keberadaan kedua orang tuanya, Upa pun tak tahu di mana keberadaan mereka. Setiap hari, Upa selalu berharap bahwa suatu hari nanti ayah dan ibunya akan berada di sisinya.

”Andai ayah dan ibu berada di sini, aku akan sangatlah senang dan mengajak mereka bermain bersama,” gumam Upa.

”Upa…kamu di mana?” tanya Nenek Rina yang memecahkan lamunan Upa.

Upa memang dikenal sebagai bunga yang pendiam dan lebih sering menyendiri, namun ia memiliki paras yang sangatlah cantik.

”Aku di sini, Nek,” jawab Upa.

Tiba-tiba datanglah kedua teman Upa, yaitu Erah dan Muti. Erah adalah sekuntum bunga Matahari, sedangkan Muti adalah sekuntum bunga Melati.

”Eh… Bau apa ini? Bau ini membuat perutku mual saja!” ucap Muti.

”Iya, ya, aku juga menciumnya,” ucap Erah.

”Kurasa bau ini dari tubuh Upa deh, kan sebelumnya bau ini tidak ada,” ucap Muti.

”Hei, Upa! kau belum mandi ya?” teriak Erah.

”Eh, jangan sembarangan kamu ya! Aku sudah mandi kok!” jawab Upa.

”Kalau begitu kok baunya masih ada sih?” celetuk Muti dengan nada mengejek.

Kedua temannya itu memang memiliki lidah tajam, kedua-duanya juga suka menjahili teman. Karena penasaran, Upa pun memutuskan untuk mencium bajunya, dan benar saja… Ternyata aroma tak sedap itu memanglah berasal dari tubuhnya. Karena malu, Upa pun langsung berlari dari area tersebut meninggalkan kedua temannya dan nenek Rina. Nenek Rina yang melihat kejadian itu memutuskan untuk menyusul sang cucu.

”Upa… Apa Upa baik-baik saja?” tanya nenek Rina dari luar kamar.

”Iya, nek… Aku baik-baik saja, aku ingin sendiri dulu,” jawab Upa.

Setelah mendengar jawaban sang cucu, nenek Rina pun merasakan ada yang tak beres dengan cucunya.

”Upa sakit?” tanya nenek Rina dengan khawatir.

”Tidak, Nek, Upa hanya ingin sendiri terlebih dahulu”, jawab Upa.

Di dalam kamar Upa terus menangis karena teringat dengan perkataan kedua temannya itu. Upa terus-terusan menangis hingga akhirnya ia tertidur lelap.

Dari bilik bambu, matahari mulai menyinari kamar tidur milik Upa dan memantulkan sinar sampai Upa terbangun dari tidur lelapnya.

”Ternyata sudah siang,” gumam Upa.

”Upa sudah bangun?” tanya nenek Rina dari luar kamar.

”Iya, nek, Upa sudah bangun,” jawab Upa.

”Ayo sana, cuci muka dulu, agar wajah cantik cucu nenek ini bersinar seperti mentari pagi ini,” rayu sang nenek agar Upa keluar dari kamarnya.

”Ok, Nek!” ucap Upa karena telah terpengaruh dengan rayuan nenek Rina. Upa pun keluar dari kamarnya dan segera menuju ke kamar mandi untuk membasuh mukanya, lalu ia ke dapur untuk menemui nenek Rina yang sedang sibuk membuat sarapan, tak lupa juga ia membantunya.

”Nek… Apa aku boleh bertanya sesuatu pada nenek?” tanya Upa sambil memandang wajah sang nenek.

”Tentu saja Upa boleh,” jawab nenek Rina pada Upa.

”Nek, apa nenek mencium aroma yang tak sedap?” tanya Upa.

”Tentu saja tidak,” ucap nenek Rina dengan jujur.

”Memangnya kenapa Upa bertanya seperti itu?” tanya nenek Rina pada Upa.

”Oh… Aku hanya masih kepikiran dengan apa yang dikatakan oleh Erah dan Muti tadi, nek,” ucap Upa dengan jujur bahwa ia masih terpikir dengan perkataan Erah dan Muti.

Sang nenek yang mendengar pengakuan dari Upa pun hanya tersenyum.

”Jangan pedulikan mereka, Upa. Mereka hanya ingin menjahilimu,” ucap nenek Rina sambil mendukung Upa.

”Benarkah, Nek?” tanya Upa dengan mata memelas.

”Iya…Jangan pedulikan apa yang mereka ucapkan, Upa, jadilah dirimu sendiri!” ucap nenek Rina sambil meyakinkan Upa.

Upa pun akhirnya tersadar bahwa apa yang dikatakan nenek Rina ada benarnya juga, sebelum akhirnya ia mengangguk kecil sebagai tanda mengerti.

”Baiklah, Nek, terima kasih karena telah memberiku dukungan,”.ucap Upa.

Upa dan neneknya memakan sarapan sebelum akhirnya Upa berpamitan pada nenek Rina karena ingin pergi bermain dengan teman-temannya.

Tapi pada saat mereka ingin pulang, ada seseorang yang datang ke kawasan tersebut karena ingin melihat-lihat sekitar. Bunga-bunga yang berada di sekitar area tersebut pun hanya diam di tempat sambil memandang pria tersebut dengan tatapan penasaran, termasuk Upa. Dan akhirnya ia menyadari keberadaan bunga-bunga tersebut, ia pun memutuskan untuk melihat satu-persatu bunga dengan dekat sebelum akhirnya berhenti di salah satu bunga, yaitu Upa. Tetapi karena melihat Upa dengan dekat, aroma Upa pun menyebar ke arahnya, tetapi…bukannya pergi, dia malah makin tertarik dengan Upa karena keunikan yang dimiliki oleh Upa.

Ternyata nama pria tersebut adalah Arnold. Setelah menghabiskan waktunya untuk melihat-lihat, Arnold pun memutuskan untuk pulang. Tetapi sebelum pulang ia mengambil beberapa foto bunga-bunga yang ia temukan, tetapi yang paling banyak fotonya adalah Upa. Upa juga yang paling mencolok di antara yang lain. Arnold membagikan foto tersebut ke media sosial, banyak orang yang melihatnya, lalu pergi ke lokasi yang tertera di postingan tersebut. Berkat foto itu, banyak turis yang berdatangan ke hutan tersebut. Dan yang paling disukai dan menjadi pusat perhatian adalah Upa.

Erah dan Muti yang berada di lokasi tersebut pun tercengang. Bagaimana tidak, mereka pikir mereka yang akan menjadi pusat perhatian tetapi ternyata mereka salah, dan akhirnya mereka pun meminta maaf pada Upa, dan akhirnya mereka pun berteman dekat hingga sekarang.

Upa sangatlah senang dengan apa yang terjadi, karena pada akhirnya ia akan disukai banyak orang bahkan menjadi alasan kenapa banyak turis yang berdatangan.

Tetapi…Jenis bunga apakah Upa?jawabannya adalah Bunga Raflesia Arnoldi. Ya, bunga yang dari tadi kita bicarakan adalah bunga Raflesia Arnoldi. Bunga ini termasuk puspa langka karena hanya bisa tumbuh di sekitaran Asia Tenggara, contohnya Indonesia dan juga Malaysia. Bunga ini pertama kali ditemukan di Indonesia, Bengkulu, tetapi judulnya dibuat menjadi Sumatra karena saat ditemukan, Bengkulu belum menjadi provinsi dan masih menjadi bagian dari Sumatra. Bunga ini juga tidak layaknya bunga pada umumnya, bunga ini hanya memiliki kelopak bunga, tidak memiliki akar, batang, maupun daun. Bunga ini juga tidak mengeluarkan aroma yang wangi dan harum seperti bunga pada umumnya, tetapi sebaliknya, ia malah mengeluarkan aroma yang tak sedap. Bunga ini juga bersifat parasit.

 

Tulisan ini merupakan karya peserta Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Tahun 2025 Tingkat Kecamatan Pangkalanbaru. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *