Karya: Gita Anggraini (SDN 13 koba)
“Anak-anak sesuai arahan Bapak kemarin, hari ini kita akan berkunjung ke hutan mangrove. Di sana kita akan mengetahui banyak informasi tentang hutan mangrove,” ujar Pak Guru saat memberikan arahan kepada siswa kelas lima yang berjumlah 25 orang di halaman sekolah. “Sebelum berangkat mari kita berdoa terlebih dahulu!” ajak Pak Guru berkaca mata itu.
Siswa kelas lima dengan menggunakan kostum olahraga berjalan kaki menuju hutan mangrove. Hutan mangrove itu sangat luas. Berada di sisi kiri dan kanan sungai yang membelah Kampung Kurau. selain itu di muara sungai, hutan mangrove masih terjaga dan asri. Di sisi timur hutan mangrove sampai berbatasan dengan dusun Pal 4. Di sisi barat sampai berbatasan dengan kampung Belilik sampai ke Tanah merah. Berbagai macam jenis pohon yang ada di hutan mangrove seperti bakau, perpat, pedada api-api, nyirih, nipah dan lainya
Siswa yang melakukan kunjungan ke hutan mangrove tampak bersemangat. mereka berjalan sambil bernyanyi dan bertepuk tangan yang dipimpin oleh Pak Guru, ”ayo anak-anak kita hampir tiba!” tampak Pak Guru menyemangati peserta didiknya.
Benar saja, 10 menit berjalan tanpa terasa rombongan kelas lima sudah sampai di hutan mangrove.
“Alhamdullilah, kita sudah tiba, ayo anak-anak kita istirahat dulu, boleh minum. Setelah itu baru kita masuk ke hutan!” ingat Pak Guru.
Siswa tampak bersemangat walaupun berkeringat. Hutan mangrove itu sangat dekat dengan kehidupan mereka. Walaupun dekat tapi mereka belum pernah memasuki hutan itu. Hutan itu angker bagi masyarakat Kurau dan sekitarnya. Warga percaya di dalam hutan itu ada penunggunya yaitu makhluk jadi-jadian titisan para leluhur yang menjaga Kampung Kurau. Pak Guru sudah meminta izin kepada juru kunci, untuk memasuki hutan mangrove itu. Juru kunci itu dikenal sebagai kuncen yang bernama Mang Sahid. Mang Sahid akan turut serta mendampingi sisiwa kelas lima untuk masuk ke hutan mangrove itu.
“Assalamualaikum Mang!” sapa Pak Guru kepada kuncen.
“Wa’alaikumsalam sehat pak?” sapa juru kunci, penjaga hutan mangrove Desa Kurau. “Alhamdullilah, sehat pak.”
Setelah istirahat sejenak rombongan kelas lima masuk ke hutan mangrove. Mang Sahid berjalan di depan bersama Pak Guru memandu siswa kelas lima. Tak lupa bekal air minumnya dibawa serta alat tulis lainnya. Para siswa singgah di pohon pedada. “Nah ini adalah pohon pedada,” ujar Mang Sahid. “Buahnya bisa dikonsumsi, bisa dijadikan jus. Siapa yang pernah minum jus pedada?” tanya Mang Sahid lagi.
“Saya pernah minum jus pedada,” jawab Damar.
”Ibu saya membelinya di rumah temannya, ada mereknya,” sambung Damar lagi
”Ayo anak-anak kita lanjutkan perjalanan lagi!”
“Lihat ada bangunan bersegi delapan atapnya mirip tudung saji, ada yang tahu ini bangunan apa? tanya Mang Sahid.
“Gak tahu Mang,” jawab anak-anak hampir serentak.
“Nah ini adalah benteng Jepang yang dibangun pada masa pendudukan Jepang. Lihat bangunan ini sudah ditutupi oleh pohon-pohon dan akar-akar. Bangunan ini juga dikenal dengan nama pillbox.”
“Fungsinya untuk apa, Mang dan tahun berapa di buat?”
“Yang membuatnya adalah penduduk Kurau yang secara paksa yang dinamakan romusha, dibangun saat mereka ke Bangka pada tahun 1942. Ini pertanda bahwa Jepang pernah berkuasa di Bangka. Ada tiga pillbox yang semuanya masih bisa dijumpai. Pillbox ini adalah pos jaga tentara Jepang agar tentara Belanda tidak bisa masuk.”
Air laut sedang surut sehingga rombongan bisa masuk walaupun cuaca panas tapi di dalam hutan tetap sejuk karena ada pohon-pohon yang menutupinya.
Air laut sudah mau pasang sehingga rombongan harus segera keluar.
Setelah salat asaar Dea memperbaiki tugasnya yang akan dikumpulkan.
“Bagaimana ya kalau hutan mangrove itu ditebang apakah akan tsunami seperti Aceh saat 2004 silam?” pikir Dea.
“Bismika Allah humma ahya wa bismika amut.” Dea berdoa sebelum tidur.
“Tolong…tolong…ada banjir yang menghanyutkan rumah warga. Lari…lari…!”
“Hei anak muda itulah akibatnya jika kamu tebang pohon-pohon yang berada di hutan mangrove.” Sosok itu seperti menyampaikan pesan kepada Dea lewat mimpi. “Jika kami ditebang rumah-rumah warga yang di dekat tepi sungai akan hancur terbawa ombak yang besar!”
“Iiii…..iya……akan…!” belum selesai Dea menjawab pertanyaan itu.
“Nak bangun salat!”
“Ibu aku takut.”
“Kenapa nak?”
“Aku mimpi bu.”
“Mandi dulu, baru ceritakan kepada ibu!”
Dea pun menceritakan mimpinya itu kepada ibu, ayah dan kakaknya.
“Bagus, Nak.” jawab ibu Dea. “Kita harus menjaga hutan mangrove!” Ayahnya pun menyetujuin. “Kita harus menjaga kampung kita agar pohon-pohon itu tidak ditebang oleh oknum.”
Dalam bahasa Melayu Bangka, hutan mangrove dikenal dengan nama rabeng.
Semoga rabeng akan tetap menjadi penjaga kampungku.
Tulisan ini merupakan karya peserta Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Tahun 2025 Tingkat Kecamatan Koba.












