Cerpen : Belva Al Akhab
Bekaespedia.com, Di ruang kerja yang selalu berbau kertas basah dan debu waktu, aku menemukan sesuatu yang tak pernah kucari. Ia tidak jatuh dari laci, tidak pula terucap dari mulut siapa pun. Ia hadir seperti embun di pagi hari hanya terlihat oleh mata yang kebetulan menoleh.
Bukan wajahnya yang membuatku terdiam, melainkan sesuatu yang lebih dalam yaitu pusat dari segala ketahanan yang selama ini ia sembunyikan rapat. Di sanalah ia menyimpan letih, takut, dan harapan seperti sumber air yang hanya boleh diminum oleh tanah, bukan diumbar ke langit.
Sejak itu, aku membawa pengetahuan itu seperti membawa bejana rapuh. Sedikit goyah, ia akan pecah. Sedikit ceroboh, isinya tumpah dan tak bisa dikumpulkan kembali.
Ia tetap berjalan di koridor yang sama. Mengetuk papan ketik dengan irama yang sama. Menyebut namaku dengan nada profesional. Tak pernah tahu bahwa aku telah melihat pusat denyut yang membuatnya bertahan setiap pagi.
Aku belajar bahwa tidak semua yang terlihat harus ditunjukkan ulang. Ada hal-hal yang justru kehilangan makna ketika diterangi terlalu terang.
Rahasia adalah susu yang hanya layak untuk bayi yang tepat. Bila diberikan sembarang, ia berubah racun. Amanah adalah tangan yang menutup, bukan mulut yang membuka.
Aku menahan diri dari rasa ingin menjadi penyelamat, dari godaan untuk merasa paling tahu. Sebab menjaga bukan berarti memiliki. Mengetahui bukan berarti berhak.
Hari-hari mengalir seperti air di bawah jembatan. Tak ada yang berubah di permukaan. Namun di dasar, aku tahu telah memilih antara suara dan diam, antara kuasa dan adab.
Aku memilih diam bukan sebagai kekalahan, melainkan sebagai bentuk tertinggi dari tanggung jawab.
Karena pada akhirnya, yang paling dewasa bukanlah mereka yang paling banyak bicara, melainkan mereka yang mampu menyimpan sumber kehidupan tanpa memamerkannya kepada dunia.












